Rekayasa Genetika Ikan

November 8, 2009 pukul 10:27 am | Ditulis dalam AQUACULTURE | 5 Komentar

Ikan Bercahaya Hasil Rekayasa Genetik

diolah dari berbagai sumber

Klik Disini Informasi Rekayasa Genetika

Sejenis ikan tropis yang memancarkan cahaya merah akan menjadi binatang peliharaan pertama yang direkayasa, demikian diungkapkan para ilmuwan. Ikan jenis zebra ini sesungguhnya dirancang sebagai detektor adanya racun-racun yang ada di alam.

“Ikan ini semula dikembangkan untuk membantu menanggulangi polusi lingkungan,” kata Alan Blake dan rekan-rekannya dari Yorktown Technologies, perusahaan yang mendaftarkan ikan tersebut sebagai ikan peliharaan. “Mereka direkayasa agar memancarkan cahaya bila berada di lingkungan yang beracun atau tidak sehat.”

Ikan zebra (Brachydanio rerio) biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan. Dengan rekayasa genetis, ikan ini dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Warna merah atau hijau yang bersinar itu diambil dari warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur-telur ikan zebra.

Dengan gen ubur-ubur itu, tubuh ikan zebra dapat memancarkan cahaya. Nah, agar bisa digunakan sebagai indikator polusi, maka para peneliti memasukkan gen pemicu yang akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung zat tertentu.

Menurut Blake, sejauh ini tidak ada bukti bahwa ikan-ikan hasil rekayasa tersebut akan menimbulkan ancaman pada lingkungan. “Ikan-ikan ini hanya akan memancarkan warna terang di bawah segala macam sinar, namun tidak akan mencemari lingkungan.”

Ikan yang kini disebut Glofish ini mulanya dikembangkan oleh Zhiyuan Gong dari National University of Singapore. Menurut Gong, meski saat ini ikan tersebut hanya memiliki dua warna tambahan, namun sebenarnya ia bisa dikembangkan untuk memiliki lima warna berbeda, dimana masing-masing warna akan bersinar sesuai dengan jenis bahan polutan yang dijumpai ikan.

“Ikan zebra (Brachydanio rerio) berfluoresens pertama hasil rekayasa genetika berhasil dikembangkan oleh para ilmuwan untuk mendeteksi adanya polutan, bahkan mulai dipasarkan sebagai binatang peliharaan.”

Cuplikan informasi tersebut hanyalah salah satu contoh bagaimana teknologi DNA telah meluncurkan revolusi dalam bidang bioteknologi, yakni teknologi rekayasa genetika. Keberhasilan ini tentunya membawa angin segar dan kontribusi yang sangat besar, terutama dalam bidang rekayasa genetika ikan dan akuakultur karena selain bermanfaat bagi penelitian dasar juga dapat ditujukan untuk penggunaan komersial.

Rekayasa genetika atau genetic engineering pada dasarnya adalah seperangkat teknik yang dilakukan untuk memanipulasi komponen genetik, yakni DNA genom atau gen yang dapat dilakukan dalam satu sel atau organisme, bahkan dari satu organisme ke organisme lain yang berbeda jenisnya. Dalam upaya melakukan rekayasa genetika, para ilmuwan menggunakan teknologi DNA rekombinan. Sementara organisme yang dimanipulasi dengan menggunakan teknik DNA rekombinan disebut genetically modified organism (GMO) yang memiliki sifat unggul bila dibandingkan dengan organisme asalnya. Seiring dengan kemajuan biologi molekuler sekarang ini memungkinkan ilmuwan untuk mengambil DNA suatu spesies karena DNA mudah diekstraksi dari sel-sel. Kemudian disusunlah suatu konstruksi molekuler yang dapat disimpan di dalam laboratorium. DNA yang telah mengalami penyusunan molekuler dinamakan DNA rekombinan sedangkan gen yang diisolasi dengan metode tersebut dinamakan gen yang diklon.

Semenjak ditemukannya struktur DNA oleh Watson dan Crick (1953), kemudian mulai berkembanglah teknologi rekayasa genetika pada tahun 1970-an dengan tujuan untuk membantu menciptakan produk dan organisme baru yang bermanfaat. Sejarah membuktikan bahwa teknik rekayasa genetika terus-menerus mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Awal mulanya digunakan teknik konservatif yang dipelopori oleh Gregor Mendel dalam proses perkawinan silang (breeding) untuk mendapatkan bibit unggul yang bersifat hibrid. Proses ini memakan waktu lama dan memiliki kekurangan, yakni muncul sifat yang tak dinginkan dari tanaman atau hewan tetuanya. Sampai akhirnya lahirlah rekayasa genetika modern menggunakan teknologi DNA rekombinan. Rekombinasi dilakukan secara in vitro (di luar sel organisme), sehingga dimungkinkan untuk memodifikasi gen-gen spesifik dan memindahkannya di antara organisme yang berbeda seperti bakteri, tumbuhan dan hewan ataupun dapat mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu cepat.

Sejak dimulainya perkembangan rekayasa genetika, beberapa teknik terus diperbaiki dan ditingkatkan dalam rangka menuju teknologi DNA rekombinan yang lebih maju. Teknik-teknik yang telah dikembangkan tersebut antara lain: (1) poliploidisasi, (2) androgenesis dan (3) ginogenesis. (4) kloning, (5) chimeras, serta (6) transgenik.

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam melakukan rekayasa genetika atau teknologi DNA rekombinan sebagai berikut:

1. Isolasi DNA yang mengandung gen target atau gen of interest (GOI).

2. Isolasi plasmid DNA bakteri yang akan digunakan sebagai vektor.

3. Manipulasi sekuen DNA melalui penyelipan DNA ke dalam vektor. (a.) Pemotongan DNA menggunakan enzim restriksi endonuklease. (b.) Penyambungan ke vektor menggunakan DNA ligase.

4. Transformasi ke sel mikroorganisme inang.

5. Pengklonan sel-sel (dan gen asing).

6. Identifikasi sel inang yang mengandung DNA rekombinan yang diinginkan

7. Penyimpanan gen hasil klon dalam perpustakaan DNA.

Rekayasa genetika telah merambah di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang perikanan yang menghasilkan ikan kualitas unggul, sebagai contoh antara lain:

  • Ikan zebra yang biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan, setelah disisipi dengan gen warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur ikan-ikan zebra maka dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Gen pemicu dari ubur-ubur akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung bahan polutan tertentu.
  • Ikan karper transgenik dengan pertumbuhan mencapai tiga kali dari ukuran normalnya karena memiliki gen dari hormon pertumbuhan ikan salmon (rainbow trout) yang ditransfer secara langsung ke dalam telur ikan karper. Begitu pula penelitian lainnya memberikan hasil yang serupa, yakni seperti pada ikan kakap (red sea bream) dan salmon Atlantik yang juga sama-sama disisipi oleh gen growth hormone OPAFPcsGH.
  • Ikan goldfish yang disisipi dengan ocean pout antifreeze protein gene diharapkan dapat meningkatkan toleransi terhadap cuaca dingin.
  • Ikan medaka transgenik yang mampu mendeteksi adanya mutasi (terutama yang disebabkan oleh polutan) sangat bermanfaat bagi kehidupan hewan akuatik lainnya dan di bidang kesehatan manusia. Ikan tersebut setelah disisipi dengan vektor bakteriofag mutagenik, kemudian vektor DNA dikeluarkan dan disisipkan ke dalam bakteri pengindikator yang dapat menghitung gen mutan.
  • Ikan transgenik menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan setelah ditransplantasikan gen tomat. Namun bisa juga sebaliknya apabila penerapan ditujukan untuk dunia pertanian, maka gen ikan yang hidup di daerah dingin dapat dipindahkan ke dalam tomat untuk mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.

Berbagai kontroversi menyelimuti produk-produk hasil rekayasa genetika. Kekhawatiran-kekhawatiran mengenai produk rekayasa genetik yang memiliki kemungkinan bersifat racun, menimbulkan alergi serta terjadi resistensi terhadap bakteri dan antibiotik selalu terjadi dalam masyarakat. Memang DNA rekombinan yang diproduksi dengan cara buatan itu dapat berbahaya jika tidak disimpan secara layak dan tindakan pencegahan yang ketat perlu diterapkan pada pekerjaan semacam ini. Jadi hanya galur-galur non-patogenik yang dipergunakan sebagai inang atau galur-galur lain yang dapat tumbuh dalam kondisi laboratorium. Namun demikian, hal ini tidaklah menyurutkan para saintis untuk terus memperbaiki kualitas penelitian di bidang rekayasa genetika semata-mata adalah demi kemaslahatan bersama. Pada akhirnya, kita harus mempertimbangkan masalah-masalah sosial, etika dan moral ketika teknologi gen menjadi lebih ampuh.

dikutip dari

http://regeni.wordpress.com/tugas-terstruktur/rekayasa-genetika/

Sumber: http://www.kompas.com/teknologi/

INDUCE BREEDING

Budidaya ikan grass carp (Ctenopharingodon idella) sudah berkembang sejak 25 tahun yang lalu. Ikan yang berasal dari China ini merupakan ikan musiman atau bertelur pada musim hujan. Pemijahan ikan grasscarp hanya bisa dilakukan secara buatan, bisa secara induced breeding (streefing), bisa juga secara induced spawning (pemijahan semi alami).

Pematangan Gonad di kolam tanah

Pematangan gonad ikan grass carp dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 ekor induk ukuran 3 – 5 kg; beri pakan tambahan berupa rumput sebanyak 5 persen/hari; menjelang musim hujan, pakan tambahan ditambah dengan pelet sebanyak satu persen. Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah.

Seleksi

Seleksi induk ikan grass carp dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut; belakang sirip dada kasar; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, lubang kelamin kemerahan, bila dipijit ke arah lubang kelamin, keluar cairan berwarna putih. Usahakan saat seleksi mengangkap induk jantan dan betina lebih dari satu, sebagai cadangan.

Pemberokan

Pemberokan induk bawal air tawar dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 hari; isi dengan air bersih setinggi 40 – 50 dan mengalir secara kontinyu; masukan 5 – 8 ekor induk. Catatan : Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.

Penyuntikan dengan ovaprim

Penyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,6 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan bagian punggung induk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 – 12 jam.

Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,2 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 0,4 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.

Penyuntikan dengan hypopisa

Penyuntikan bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan mas. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran induk betina; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa; masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypopisa itu; suntikan ke bagian punggung induk betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam.

Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.

Pemijahan secara induced breeding

Pengambilan sperma

Pengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; lap hingga kering; bungkus tubuh induk dengan handuk kecil; pijit ke arah lubang kelamin; tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus); aduk hingga homogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegang kepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar sperma tidak terkena air.

Pengeluaran telur

Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net; keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap; bungkus induk dengan handuk dan biarkan lubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala; tampung telur dalam baskom plastik; campurkan larutan sperma ke dalam telur; aduk hingga rata dengan bulu ayam; tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata; buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah; telur siap ditetaskan.

Pemijahan secara induced spawning

Pada pemijahan secara induce spawning, telur dan sperma tidak dikeluarkan, tetapi induk dan betina dibiarkan memijah sendiri. Pemijahan ini dilakukan di bak tembok. Caranya, siapkan siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; bersihkan lumpur dan kotoran lainnya; keringkan selama 3 – 4 hari; isi air setinggi 80 cm; pasang hapa dengan ukuran sama dengan bak; suntik induk betina pada pukul 06.00 (dosis lihat penyuntikan); suntik kembali induk tadi pada pukul 12.00 dan masukan ke bak pemijahan; suntik induk jantan pada pukul 12.00 dan satukan dengan induk betina; alirkan air lebih besar lagi; biarkan memijah. Catatan : Pemijahan biasanya mulai terjadi pukul 24.00 dan berakhir pagi hari.

Penetasan di akuarium

Penetasan telur ikan grasscar dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan 20 buah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 30 cm; pasang empat buah titik aerasi untuk setiap akuarium dan hidupkan selama penetasan; tebarkan tebar secara merata ke permukaan dasar akuarium; 2 – 3 hari kemudian buang sebagian airnya dan tambahkan air baru hingga mencapai ketinggian semula. Telur akan menetas dalam 2 – 3 hari.

Pendederan I di kolam

Pendederan I ikan grasscarp dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

Pendederan II

Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 40.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.

Pendederan III

Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 30.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 4 – 6 kg pelet; panen benih dilakukan sebulan kemudian.

Pembesaran

Pembesaran ikan grasscarp dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 6 – 8 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 – 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg.

SEX REVERSAL

Mengubah Kelamin Ikan Hias

USAHA budidaya ikan hias bisa dibilang tidak terpengaruh krisis moneter. Seberapa pun nilai tukar rupiah, tidak jadi masalah bagi para pembudidaya. Karena usaha ini tak begitu tergantung pada produk-produk impor, terutama untuk jenis ikan air tawar, yang hanya menggunakan pakan alami seperti cacing sutra atau jentik nyamuk.

Yang masih menjadi persoalan, bagaimana melempar produknya. Dalam kaitan ini, pembudidaya harus jeli melihat pasar. Sejauh ini, pembeli lebih menyukai ikan hias jantan, apa pun jenisnya, sebab bentuk tubuh dan warnanya yang lebih menarik daripada betina. Tidak heran kalau harga ikan hias jantan lebih mahal daripada betina.

Melihat selera pasar seperti itu, beberapa peneliti acapkali memikirkan usaha-usaha untuk memproduksi ikan hias jantan. Salah satu temuan terbaru yang dapat diterapkan melalui teknik pengubahan kelamin (sex reversal), yang bukan hanya bisa dilakukan pada ikan hias, tapi juga pada ikan konsumsi.

Teknik ini dilakukan melalui perlakuan hormonal, sehingga bisa diperoleh lebih banyak ikan jantan daripada betina. Beberapa spesies ikan pernah mengalami uji hormonal seperti ini, dan berhasil dengan baik, antara lain ikan nila, tawes, grass crap, guppy, kongo tetra, maskoki, dan cupang.

Ikan cupang (Betta Splendens Regan) merupakan jenis ikan hias yang cukup digemari masyarakat luas. Jantannya dikenal sebagai ikan aduan.

Cupang jantan strip memiliki warna yang sangat menarik. Sementara yang betina tidak menarik, dan harga jualnya rendah. Bahkan sering dijadikan pakan untuk ikan-ikan besar, seperti Arwana.

Di kota-kota besar, harga ikan cupang jantan dewasa bervariasi antara Rp 1.000 hingga Rp 5.000,00 per ekor. Bandingkan dengan ikan betina yang hanya Rp 50-Rp 100. Sehingga selisih harga yang sangat menyolok itu perlu disiasati dengan penerapan teknologi tersebut.

Sex Reversal

Teknologi sex reversal merupakan teknik pengubahan kelamin dari betina menjadi jantan, atau sebaliknya, melalui pemberian hormon dan teknik perendaman. Kalau yang diberikan hormon androgen, ikan diarahkan untuk berkelamin jantan. Tetapi jika yang diberikan hormon estrogen, jenis kelamin diarahkan menjadi betina. Jadi, jika pembudidaya ingin menghasilkan ikan-ikan cupang jantan, maka proses sex reversal yang diterapkan di sini menggunakan hormon androgen.

Hormon androgen yang digunakan adalah 17-a Metiltestosteron (C20H30O2). Hormon yang berwarna putih, dan berbentuk serbuk halus (powder), itu diproduksi Sigma Chemical Co., Ltd., AS, tetapi dapat dibeli di toko-toko bahan kimia, terutama kota-kota besar di Indonesia.

Jumlah bahan yang dibutuhkan 20 mg/liter larutan perendam telur ikan. Tiap 300 butir telur ikan memerlukan 0,2 liter larutan. Cara membuat larutan perendaman yaitu melarutkan 10 mg hormon Metiltestosteron dalam 0,5 ml alkohol 70%, lalu diencerkan dengan aquades destilata sebanyak 495 ml.

Persiapan induk

1. Induk jantan dan betina dipelihara dalam akuarium berbeda, dengan diberi makan berupa larva Chironomus (cuk merah) atau kutu air.

2. Pilihlah induk jantan dan betina, yang telah matang (gonad) dan siap untuk dipijahkan.

3. Siapkan pula akuarium untuk pemijahan. Selanjutnya masukkan ikan jantan dan tanaman eceng gondok untuk tempat menempel sarang (busa).

4. Masukkan ikan betina ke dalam toples. Tempatkan ke dalam akuarium pemijahan yang telah berisi ikan jantan. Ini dimaksudkan untuk merangsang ikan jantan agar membuat sarang, sekaligus menghindari per-kelahian.

5. Setelah ikan jantan membuat sarang, tangkaplah ikan betina yang berada di dalam toples. Masukkan ke akuarium pemijahan untuk dipasangkan dengan jantan. Lalu tangkap kedua induk, dan biarkan telur beserta sarangnya tetap berada di dalam akuarium pemijahan, kemudian diaerasi.

6. Sekitar 10 jam setelah pemijahan, pisahkan telur dari sarang (busa), dengan cara menempatkan aerasi di bawahnya, sehingga telur terpisah dan tenggelam di dasar akuarium.

7. Setelah embrio mencapai stadium bintik mata (sekitar 10-30 jam; tergantung temperatur), lakukan perendaman dalam larutan hormon yang telah dibuat selama 24 jam sambil tetap diaerasi.

8. Pisahkan embrio dari larutan hormon. Kalau perendaman selesai, tetaskan di akuarium penetasan.

9. Burayak yang menetas dipelihara dan dibesarkan hingga siap dijual.

Produksi Massal

Banyak keuntungan diperoleh melalui penerapan teknologi ini. Misalnya, dapat menghasilkan ikan-ikan cupang jantan secara massal, dan dengan biaya relatif rendah. Artinya, biaya yang diperlukan tidak terlalu besar dibandingkan dengan hasil yang diperolehnya.

Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan ikan-ikan jantan juga bertambah. Teknologi ini juga digunakan untuk mendapatkan induk jantan super (YY), yang selanjutnya menghasilkan anak-anak ikan dengan jenis kelamin semuanya jantan.

Yang harus diingat, teknologi ini bersifat spesifik, sehingga penerapannya pun harus tepat. Terutama jenis dan dosis hormon, lama perendaman, dan waktu untuk memulai perendaman. Kalau dosisnya kurang, maka jenis kelamin ikan tidak bakal berubah. Tapi jika dosisnya berlebihan, justru bisa menyebabkan kematian ikan-ikan tersebut. Kalau pun tidak mati, keturunannya cenderung steril (mandul).

Selain itu, ikan jantan yang dihasilkan melalui proses sex reversal ini tidak baik apabila dijadikan induk. Makanya, induk yang bertugas menghasilkan telur-telur ini harus bebas dari perlakuan sex reversal ini. Bagaimana pun, ada keuntungan juga selalu terdapat kerugian.

Yang penting, kita berusaha kuat agar bisa meraih keuntungan dan mencegah kemunculan potensi-potensi kerugian dengan menerapkan teknologi secara tepat. (Moch Achid Nugroho-35).

Sex Reversal Pada Ikan Nila (Oreochromis sp.) Dengan 17α-Metiltestosteron

CROSS BREEDING PADA IKAN NILA

Sumber daya alam yang ada di negara kita sangat melimpah, termasuk dalam bidang perikanan dan kelautan. Namun dalam hal pemanfaatan dan pongelolaannya kuarg optimal, banyak penangkapan-penangkapan liar yang dilakukan sehingga apabilahal ini dilakukan ters-enerus maka kekayaan alam kita khususnya perikanan akan mengalami pengurangan yang drastis. Dalam bidang budidaya perikanan, untuk melakukan mengurangi dampak dari kegiatan tersebut, dilakukanlah berbagai teknologi untuk meningkatkan produksi perikanan tanpa melakukan penangkapan yang akan merusak kelestarian ikan yang ada di perairan Indonesia.

Salah satu teknologi yang dilakukan untuk meningkatkan produksi perikanan ini adalah dengan melakukan kegiatan produksi benih ikan berkualitas (unggul) melalui proses persilangan yang menguntungkan.

Penggunaan benih yang berkualitas dan kuantitasnya mencukupi pada saat proses budidaya, merupakan hal yang pokok untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hal ini tengah dilakukan oleh balai risert dan teknologi yang ada di Indonesia supaya bisa memenuhi kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan, dengan cara melakukan breeding program yaitu melakukan selektif breeding, hibridisasi/out breeding/croos breeding, inbreeding, monosex/sereversal, serta kombinasi dari beberapa program tersebut. Tujuan dari beberapa program breeding adalah :

- Menghasilan benih yang unggul yang dapat diperoleh dari induk hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktifitas.

- Memperoleh induk-induk yang murni, yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya kepada keturunannya serta memperpendek waktu dalam mencapai turunan filialnya dengan cara Gynogenesis.

Tujuan dari pelaksanaan praktikum yang dilakukan pada mata kuliah ini dalah agar mahasiswa/praktikan dapat :

1. Memahami prosedur kerja pada masing masing program breeding

2. Melakukan kegiatan/mengaplikasikan seleksi ikan atau pemuliaan ikan secara baik dan benar serta mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapan.

3. Menggunakan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pemuliaan ikan secara baik dan benar.

4. Menghitung dosis penggunaan obat atau bahan-bahan tertentu yang sesuai dengan prosedur yang telah direkomendasikan

TINJAUAN PUSTAKA

Seleksi ikan disebut juga perbaikan genetik (Genetic improvement) merupakan aplikasi genetik dimana informasi genetik dapat diketahui dengan cara ini untuk melakukan pemuliaan. Tujuan dari pemuliaan itu sendiri adalah menghasilkan benih yang unggul yang diperoleh dari induk hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktifitas.

Produktifitas dalam budidaya ikan dapat ditingkatkan dengan beberpa cara yaitu ektensifikasi dan intensifikasi. Ektensifikasi adalah meningkatkan hasil dengan memperluas lahan budidaya, sedangkan intensifikasi ialah meningkatkan hasil persatuan luas dengan melakukan manipulasi terhadap faktor internal dan faktor eksternal.

Menurut Tave (1995), seleksi adalah program breeding yang memanfaatkan phenotypic variane (keragaman fenotipe) yang diteruskan dari orang tua kepada keturunannya, keragaman fenotipe merupakan penjumlahan dari keragaman genetik, keragaman lingkungan dan interaksi antara variasi lingkungan dan genetik.

Pelaksanaan seleksi ikan ada dua cara yaitu seleksi terhadap fenotipe kualitatif yang dilihat dari warna tubuh, tipe sirip, polasisik, bentuk punggung sedangkan seleksi terhadap fenotipe kuantitatif yang dilihat dari pertumbuhan, fikunditas, daya tahan terhadap penyakit dan sebagainya. Pelaksanaan pemuliaan pada ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara dari program breeding salah satunya adalah cross breeding.

Cross Breeding atau hibridisasi merupakan program persilangan yang dapat diaplikasikan pada semua makhluk hidup yang bertujuan untuk mengumpulkan sifat-sifat unggul yang dimiliki pada masing-masing induk yang diwariskan pada keturunannya, terkadang hasil croos breeding ditemukan strain baru yang berbeda dengan masing masing induknya.

Hibridisasi akan mudah dilakukan apabila dapat dilakukan pemijahan seacara buatan seperti halnya pada ikan lele dan patin, dengan melihat marfologi ikan lele dan ikan patin khususnya alat reproduksinya sangat memungkinkan untuk dilakukan reproduksi buatan yang terdiri dari proses pematangan gonad, teknik pemngambilan sperma dan telur serta pencampurannya.

METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum seleksi ikan “Croos breeding “ dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2006, yang dilaksanakan di Hatchery Departemen Perikanan Budidaya VEDCA Cianjur.

B. Alat dan Bahan

- Spuit

- Bulu ayam

- Mangkok

- Bak fiber

- Bak beton

- Akuarium

- Timbangan

- Kakaban Kain lap

- Alat tulis

- Air bersih

- Induk ikan patin jantan

- Induk ikan lele betina

- Ovaprin

- Aquabides

- Larutan fisiologis

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja praktikum croos breeding ini adalah:

a. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

b. Seleksi induk jantan ikan patin dan induk betina ikan lele yang matang gonad

c. Masukan induk-induk terseut dalam bak fiber secara terpisah

d. Lakukan penyuntikan pada kedua induk jantan dan betina dengan ovaprin. Dosis penyuntikan disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan yaitu jantan 0,02 cc dan betina 0,03 cc setelah itu masukan kembali induk-induk tyersebut dalam bak.

e. Bersihkan 6 buah akuarium yang akan digunakan untuk proses penetasan dari hasil penyuntikan serta bersihkan kakaban secukupnya untuk tempat penempelan telur.

f. Setelah 6 jam dari penyuntikan, lakukan striping pada induk betina ikan lele dan setelah telurnya semuanya keluar dan ditampung dalam mangkok atau baki kemudian lakukan striping induk patin jantan dan masukan sperma pada telur tersebut kemudian campur sperma dengan telur yang ditambahi dengan larutan fisiologis secukupnya.

g. Setelah itu masukan telur yang telah dicampur dengan sperma kedalam akuarium yang telah disiapkan sebelumnya dengan pemberian kakaban sebagai substratnya.

h. Setelah 24 jam telur menetas angkat kakaban dari dalam akuarium dan bersihkan telur yang tidak menetas

i. Pelihara larva tersebut dan lakukan pengamatan serta lakukan pergantian air dan pemberian pakan.

HASIL

Hasil praktikum Cross Breeding yaitu dari perkawinan silang antara ikan Lele (betina) dan ikan patin (jantan) mengalami tingkat fertilisasi 1 %. Pada kegiatan penetasan, dilakukan pengukuran parameter kualitas air (suhu, pH dan Oksigen) yang dilakukan pada pagi, siang dan sore hari yang dilakukan selama dua hari

Tabel pengukuran parameter kualitas air

Hari ke- Suhu pH Oksigen terlarut (DO)

pagi siang sore pagi siang sore pagi siang sore

1 26 30 31 7.5 7,8 8 2,5 8 3

2 27 31 32 8 8 8 3 3 3

Induk yang digunakan pada praktikum croos breeding mempunyai ukuran dan dosis yang digunakan seagai berikut :

No Jenis induk Berat

(kg) Dosis ovaprim (ml)

1 Betina lele dumbo 0,8 0,2

2 Jantan patin 0,7 0,1

PEMBAHASAN

Croos breeding merupakan menyilangkan pada satu rumpun ataupun jauh yang bertujuan untuk melakukan hibridisasi, sehingga akan diperoleh individu yang unggul ataupun strain baru. Aplikasi croos breeding tidaklah rumit sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan, yang perlu dierhatikan jika melakukan croos breeding dengan berbeda jenis adalah ukuran dari lubang mikrofil dengan ukuran kepala sperma sehingga akan mudah diperhitungkan factor-faktor terjadinya kegagalan dan terjadinya pertumbuhan.

Praktikum cross breeding yang dilakukan mengalami kegagalan yang disebabkan oleh factor kematangan telur yang belum merata dan kualitas air yang fluktuatif. Kematangan gonad dalam melakukan proses pembuahan secara buatan adalah hal pokok yang harus diperhatikan sehingga proses pembuahan akan terjadi dengan baik.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemijahan. Faktor-faktor tersebit adalah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal meliputi hormon, kematangan gonad dan volume kuning telur. Hormon yang mempengaruhi dalam proses pemijahan ini adalah hormon yang dihasilkan kelenjar Hipofisa dan Tyroid yang berperan dalam proses metamorfosa. Kematangan gonad khususnya pada ikan betina terlihat dari keseragaman ukuran dan besar kecilnya ukuran telur yang ada, dalam praktek ini terjadi kegagalan karena ukuran telur yang tidak seragam dan tingkat kematangan yang masih rendah terlihat dari ukuran telur yang kecil-kecil. Sedangkan kuning telur berkaitan dengan pasokan makanan untuk larva apabila telah menetas sedangkan fakto eksternal adalah kualitas dan kuantitas air serta SDM yang menguasai teknik ini atau tidak. Dari seg kuantitas air, dalam pelaksanaan praktik ini sudah cukup memenuhi standart, namun dari segi kualitas, terjadinya fluktuasi suhu yang sangat tinggi hingga membuat telur yang akan ditetaskan mengalami kematian. Dari segi SDN, kemingkinan kegiatan ini tidak bersil dikarenakan tingkat kemampuan praktikan yang melaksanakan praktik ini sangat rendah.

Croos breeding merupakan menyilangkan pada satu rumpun ataupun jauh yang bertujuan untuk melakukan hibridisasi, sehingga akan diperoleh individu yang unggul ataupun strain baru. Aplikasi croos breeding tidaklah rumit sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan, yang perlu dierhatikan jika melakukan croos breeding dengan berbeda jenis adalah ukuran dari lubang mikrofil dengan ukuran kepala sperma sehingga akan mudah diperhitungkan factor-faktor terjadinya kegagalan dan terjadinyaperumbuhan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :

1. Dalam suatu pemijahan kita harus sangat memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemijahan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemijahan adalah fakor internal yang terdiri dari : kematangan gonad, hormon dan kuning telur. Dan faktor esternal yang terdiri dari : kualitas dan kuantitas air serta kualitas SDM yang memadai.

3. Kegiatan cross breeding dapat berjalan apabila, lubang micrifil telur lebih besar dari ukuran sperma, sehingga sperma dapat masuk kedalam telur.


DIFERENSIASI KELAMIN IKAN MAS

Jenis kelamin pada ikan mas, dan juga jenis kelamin pada beberapa jenis kan lainnya memiliki tingkat pertumbuhan yang berbeda. Studi tentang adanya perbedaan tingkat pertumbuhan itu sudah lama dilakukan, terutama di Jepang, di Eropa dan negara-negara lainnya. Hasilnya sudah diketahui dengan pasti, dan telah berdampak positip pada kegiatan usaha perikanan.

Ikan nila GIFT contohnya. Pada nila GIFT, pertumbuhan jantan lebih cepat dari betina. Pada umur 6 bulan, jantan nila GIFT bisa mencapai 300 gram. Sedangkan betina hanya mencapai 250 gram (Arie, 1999). Adanya perbedaan ini disebabkan faktor internal, salah satunya adalah aktivitas gonad. Faktor internal lainnya, tentu saja disebabkan karena gen.

Aktivitas gonad pada ikan nila tidak berhenti sejak matang gonad, baik pada jantan maupun betina. Pada umur 5 bulan, ikan nila sudah memijah. Itu terus terjadi sepanjang tahun dengan interval 3 minggu pada betina, dan seminggu pada jantan. Tetapi energi yang diperlukan untuk memproduksi telur lebih banyak daripada energi yang diperlukan untuk memproduksi sperma. Ini berpengaruh pada kecepatan pertumbuhan.

Ikan nila memijah sepanjang tahun, baik jantan maupun betina. Interval pemijahan keduanya berbeda. Pada betina, interval itu berlangsung sangat cepat, yaitu selama 3 minggu. Sedangkan pada jantan berlangsung selama seminggu. Karena itu, pada ikan nila, jenis kelamin jantan lebih diutamakan dari betina. Sebab, hasil panen yang diperoleh lebih tinggi dari betina. Tentu saja, keuntungannya juga lebih banyak.

Pada ikan mas terjadi sebaliknya. Ikan yang berkelamin betina lebih cepat tumbuh dar betina. Pada umur setahun, ikan betina bisa mencapai berat 1 – 1,2 kg. Sedangkan jantan pada umur yang sama hanya mencapai 800 gram. Betina 5 – 10 persen lebih cepat tumbuh dari jantan (Kessler, 1961 dalam Nagy et al., 1978). Karena itu, pada ikan mas, jenis kelamin betina lebih diutamakan dari jantan.

Pembuatan jenis kelamin pada ikan nila, mas dan ikan lainnya dapat dilakukan dengan pengubahan kelamin, atau dikenal dengan istilah diferensiasi kelamin. Menurut Yatim (1980), diferensiasi kelamin adalah perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan atau dari jantan ke betina yang disebabkan oleh faktor lingkungan, dimana perubahan ini hanya terjadi pada karakter kelaminnya saja, sedangkan susunan genetiknya tidak berubah.

D’Ancona dan Yamamoto dalam Brusle dan Brusle (1983) membagi proses diferensiasi ke dalam dua bagian, yaitu diferensiasi secara langsung dan diferensiasi secara tidak langsung. Deiferensiasi langsung umumnya terjadi pada ikan-ikan gonochorisme. Pada proses ini sudah terdapat sel benih jantan atau betina sebelum terjadinya diferensiasi gonad. Sedangkan diferensiasi tidak langsung umumnya terjadi pada ikan-ikan hermaprodit, seperti belut (Fluta alba). Di awal, ikan-ikan hermaprodit berkelamin betina, kemudian 50 persen berubah menjadi jantan (Brusle dan Brusle, 1983).

Menurut D’Ancona, 1950 dalam Brusle dan Brusle, 1983, menyebutkan bahwa pada awal pembentukan gonad terdapat sepasang somatic, yaitu cortex dan modulla yang sangat berperan penting dalam pembentukan kelamin jantan atau betina, sehingga perubahan jenis kelamin pada ikan merupakan pengaruh rangsangan cortex dan modulla yang akan menghasilkan gynogenin atau androgenin.

Pada umumnya phenotip jenis kelamin ikan sesuai dengan genotipnya, tetapi dapat terjadi penyimpangan. Penyimpangan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor ekternal, (yaitu suhu dan salinitas), dan penggunaan hormone steroid (Brusle dan Brusle 1983). Pada suhu 26 o C banyak dijumpai gonad ikan Rivulus yang berkembang menjadi ovotestis, tetapi pada suhu 10 o C menjadi testis. Pada Anguilla yang hidup di salinitas tinggi, banyak dijumpai jan tan. Sedangkan pada salinitas rendah betina lebih dominan (Colombo dan Rossi dalam Brusle dan Brusle 1983)

Penggunaan steroid sintesis pada ikan untuk mengubah kelamin akan berhasil apabila diberikan pada masa diferensiasi gonad (Nakamura dan Takashi dalam Machintosh, Vargeshe dan Satyanarayanan Rov, 1984). Masa diferensiasi gonad ikan berbeda-beda untuk setiap jenis ikan. Bisa terjadi selama berlangsungnya proses penetasan, bisa juga terjadi saat larva.

Pada ikan mas, masa diferensiasi terjadi sampai ikan berumur 65 setelah menetas (Brusle dan Brusle 1983). Pendapat itu tidak jeuh berbeda dengan pendapat Davies dan Takashiwa dalam Hunter dan Donalson (1983) yang menyatakan bahwa pada suhu 21,7 – 23,5 o C proses diferensiasi kelamin berlasung selama dua bulan setelah telur menetas.

Sementara itu Yamazaki (1983) menyatakan bahwa penggunaan hormone steroid akan lebih berhasil merubah kelamin apabila digunakan selama mas pertumbuhan gonad, yaitu sebelum atau sesudah ikan mula makan. Dari penelitiannya dia menyimpulkan bahwa :

- Pemberian hormone akan efektif apabila diberikan pada ikan mulai makan. Frekwensi jantan seringkali relative tinggi jika diberikan setelah 1 – 2 minggu dari mulai makan.

- Periode sensitive untuk diberi pakan terjadi pada waktu ikan berumur 2 – 4 minggu. Namun hal ini sangat tergantung pada species ikan itu sendiri.

Berkaitan dengan pendapat Yamazaki di atas, Nagy et al., mencoba memberikan 100 mg/kg metilteststeron selama 36 hari yang diberikan pada benih yang berumur 8, 26, 44, 62 dan 80 hari setelah fertilisasi untuk mendapatkan jantan hasil genogenesis dengan menggunakan suhu 20 – 25 o C. hasilnya, pada suhu 25 o C, ikan mas yang diberikan hormone metiltestosteron pada umur 8 – 62 hari didapat 71,4 – 88,9 persen jantan. Sedangkan pemberian hormon pada umur 80 hari hanya didapa 20 persen saja.

Pengaruh pemberian hormone pada diferensiasi kelamin akan mengubah fenotif kelamin tanpa mengubah genotipnya. Ikan jantan memiliki kromosom XY dan ikan betina XX. Dengan memberikan hormone androgen pada stadia tertentu dapat berkembang menjadi fenotif jantan. Pada ikan yang gonadnya sedang berdiferensiasi menjadi testis atau ovari dengan adanya pemberian hormone, kemungkinan akan memberikan hasil yang permanent (Martin, 1979), sebab kerja gen kelamin terbatas pada periode yang relative singkat, yaitu selama awal perkembangan gonad dan tidak aktif lagi setelah gonad berdiferensiasi (Yamazaki, 1983).

Daftar Pustaka :

Donalson, E. M, U.H.M Fagerlund., DA. Hggs dan J.R Mc Bride 1978. Hormonal enchament of growt. Dalam W.S. Hoar, D.J. Randal dan J.R. Bret (ed.). Fish Physiology Vol. VIII. Academic Press, Newyork 456 – 597

Hunter. G.A. E.M. Donalson. J. Stoss dan I. Baker, 1983. Production of monosex female groups of chinoox salmon (Onchorhynchus ishawytscha) by the fertilization of normal ova with sperm from sex-reversed female. Jour. Aquac., 33 : 355 – 364

Martin, C.R. 1979. Texbook of endocrine physiology. City University of Newyork City. 561 hal.

Nagy, A., K. Rajki. L. Horvart dan V. Csanyi. 1978. Investigation on carp (Cyprinus carpio L) ginogenesis. Jour. Fish. Biol. 13 : 215 – 224.

Yamazaki, F. 1983. Sex control and manipulation in fish. Jour. Aquac. 33 : 329 – 354.

Yatim, W. 1986. Genetika. Tarsito Bandung. 397 hal.

 

Induk murni ikan mas sulit dicari di Indonesia, atau bisa jadi sudah tidak ada. Padahal keberadaannya sangat penting dalam dunia usaha. Karena dari induk yang murni dapat melahirkan keturunan yang unggul, yaitu tumbuh cepat, rentan terhadap serangan penyakit dan perubahan lingkungan. Bila dipelihara dapat diperoleh hasil yang maksimal dengan tingkat kehidupannya (SR) yang tinggi.

Menurut Ditjen Perikanan (1985) dan Sumantadinata (1988), menurunnya sifat-sifat kemurnian ikan mas disebabkan bebagai faktor, 1 ) kurangnya pengertian para pembudidaya ikan tentang pentingnya ketersediaan induk-induk murni untuk produksi benih unggul. 2 ) jarang pakar perikanan yang berminat dan bekerja untuk melakukan seleksi karena membutuhkan waktu yang lama, fasilitas yang memadai, dan biaya yang tinggi. 3 ) Adanya pemijahan yang berulang kali antar ras tanpa pola tertentu, akibat kurangnya pengontrolan di lingkungan petani pembenih ikan di daerha tersebut.

GINOGENESIS IKAN MAS

Dahulu tercatat ada delapan varitas ikan mas yang tersebar di beberapa daerah tanah air. Dari varitas-varitas itu sudah terbukti kelebihannya Baca delapan varitas ikan mas. pada delapan-varitas-ikan-mas-dan-tanda. Namun dari semua varitas itu belum ditemukan kemurniannya berdasarkan sifat-sifat, dan morfologi dengan kelengkapan sejarahnya.

Kemurnian induk ikan mas harus dikembalikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kemurniannya adalah dengan melakukan persilangan-persilangan dalam (in breeding). Namun cara ini membutuhkan lebih dari enam generasi. Satu generasi membutuhkan waktu 2 tahun, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan induk. Jadi cara ini membutuhkan waktu selama 12 tahun.

Untuk memperpendek masa pemurnian dapat dilakukan dengan cara ginogenesis. Cara ini bisa merubah dari 6 generasi menjadi 2 generasi, strain murni sudah dapat diperoleh pada generasi kedua. Keberhasilan cara ini tergantung dari ketelitian perlakuan dan kesuburan betina ginigenesi (Nagy, Bersenyi dan Csanyi, 1981 : Sumantadinata).

Nagy et al,. 1978 ; Hollebeck et al,. 1986: Sumantadinata, 1988), menyebutkan ginogenesis adalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan genetic gamet jantan. Jadi gamet jantan hanya berfungsi secara fisik saja, sehingga prosesnya hanya merupakan perkembangan pathenogenetis betina (telur). Untuk itu sperma diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuan untuk merusak kromososm spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi secara genetic (Sumantadinata, 1988). Nagy et al,. 1981, menyebutkan pemijahan dengan cara ginogenesis akan menghasilkan selurunya berkelamin jantan. Lihat artikel penyimpanan sperma pada : penyimpanan-sperma.html.

Ginogenesis merupakan reproduksi seksual yang jarang terjadi pada pembuahan, karena nukleus sperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif, sehingga perkembangan telurnya hanya dikontrol oleh sifat genetik betina saja. Oleh karena itu, keturunannya merupakan replika dari induk betina baik secara marfologi maupun susunan genetiknya (Purdon, 1983). Lihat pengubahan kelamin diferensiasi-kelamin-pada-ikan-mas.html

Ginogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada tahapan pembuahan dan awal perkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan 1) membuat supaya bahan genetik jantan menjadi tidak aktif 2) mengupayakan terjadinya diploisasi agar telur dapat menjadi zigot (Nagy, et al,. 1979). Bahan genetik dalam spermatozoa dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar X dan sinar ultraviolet (Purdon, 1983). Sinar ultraviolet banyak digunakan, karena murah.

Prosedur percobaan ginogenesis : Telur berasal dari induk betina ikan mas. Agar bisa ovulasi, induk disuntik dengan ovaprim atau ekstrak kelenjar hipophisa. Sperma diambil dari ikan tawes sebanyak 1 ml, lalu diencerkan 100 kali dengan larutan garam (Sodium Chloride 0,9 %). Setelah diencerkan di radiasi dengan sinar ultraviolet selama 10 menit. Telur dan sperma dicampurkan, sehingga terjadi pembuahan. Setelah terjadi pembuahan disebat dalam ayakn plastic dan direndam dalam air dengan suhu 25 o C. Setelah 2 menit pembuahan di beri kejutan panas (heat shock) pada suhu 40 o C selama 1,5 – 2 menit. Untuk menghilangkan daya lekat telur diberi larutan tannin, setelah itu diinkubasi pada suhu 28 o C hingga menetas. Skema prosedur ginogenesis menyusul.

Daftar Pustaka :

Direktorat Jenderal Perikanan, 1988. Status dan Permasalahan pembenihan ikan dan udang di Indonesia. Seminar Nasional Pembenihan Ikan dan Udang 5 – 6 Juli Direktorat Bina Produksi, Jakarta. 18 hal.

Donalson, E. M, U.H.M Fagerlund., DA. Hggs dan J.R Mc Bride 1978. Hormonal enchament of growt. Dalam W.S. Hoar, D.J. Randal dan J.R. Bret (ed.). Fish Physiology Vol. VIII. Academic Press, Newyork 456 – 597

Hamid, A.R. 1991. Pemberian Metiltestosteron Di dalam Proses Diferensiasi Kelamin Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Hasil Ginogenesis. Universitas Padjadjaran, Fakultas Perikanan, Jurusan Perikanan, Bandung.

Hunter. G.A. E.M. Donalson. J. Stoss dan I. Baker, 1983. Production of monosex female groups of chinoox salmon (Onchorhynchus ishawytscha) by the fertilization of normal ova with sperm from sex-reversed female. Jour. Aquac., 33 : 355 – 364

Martin, C.R. 1979. Texbook of endocrine physiology. City University of Newyork City. 561 hal.

Nagy, A., K. Rajki. L. Horvart dan V. Csanyi. 1978. Investigation on carp (Cyprinus carpio L) ginogenesis. Jour. Fish. Biol. 13 : 215 – 224.

Sumantadinata, K. 1988. Teknologi ginogenesis, percepatan pemurnian ikan peliharaan, Kompas 23 Nopember 1988.

Yamazaki, F. 1983. Sex control and manipulation in fish. Jour. Aquac. 33 : 329 – 354.

Yatim, W. 1986. Genetika. Tarsito Bandung. 397 hal

 

ANDROGENESIS IKAN MAS

Keberhasilan budidaya ikan mas, terutama pada tahap pembesaran salah satunya ditentukan oleh kualitas benih. Karena benih tersebut dapat hidup dengan baik, tumbuh dengan cepat, serta tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. Namun benih ikan mas yang berkualitas baik, sulit ditemukan di Indonesia. Karena kualitas induk sudah jauh menurun dibandingkan dua puluh tahun yang lalu.

Karena itu genetik pada ikan mas sekarang harus dikembalikan. Salah satu cara perbaikan genetik adalah dengan pemurnian induk. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan persilangan-persilangan dalam (in breeding). Namun cara ini membutuhkan lebih dari enam generasi. Satu generasi membutuhkan waktu 2 tahun, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan induk. Jadi cara ini membutuhkan waktu selama 12 tahun.

Cara yang praktis adalah dengan melalukan ginogenesis. Dengan cara ini waktu pemurnian induk bisa diperpendek menjadi enam tahun. Cara praktis lainnya adalah dengan androgenesis, yaitu suatu teknologi yang memanfaatkan sifat-sifat genetik ikan dengan menggunakan prinsip-prinsip bioteknologi. Teknik ini memberikan kemungkinan untuk mempercepat waktu pemurnian dalam seleksi ikan. Androgenesis dapat dilakukan dengan memanipulasi beberapa proses pembuahan yaitu membuat agar material genetik gamet betina menjadi tidak aktif dan mengupayakan supaya terjadi diploisasi (NAGY dkk., 1978).

Material genetik gamet betina dapat dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gamma, sinae-x atau sinar ultra violet (PURDON, 1983). Dewasa ini sinar ultra violet lebih banyak digunakan karena lebih praktis dan lebih aman. Radiasi sinar ultra violoet dapat menyebabkan rusaknya kromosom. Berdasarkan penelitian adrogenesis yang dilakukan ARIFIN (1994) diperoleh hasil, bahwa radiasi dengan menggunakan dua buah lampu TUV 15 wat berjarak 30 cm dari telur selama 3 – 5 menit telah mampu me-non-aktikan material gamet betina.

Pemberian kejutan dilakukan untuk mempertahankan diploiditas embrio pada tahap awal perkembangannya. Diploidisasi dapat dilakukan dengan cara menghambat pembelahan mitosis I (CHOURROUT, 1984). Derajat homozigositas yang tinggi dapat dicapai dengan kejutan pada pembelahan mitosis I (NAGY 1986 dalam SULARTO dkk., 1992), karena pada pembelahan mitosis pasangan kromosom yang dihasilkan bersifat identik yang berasal dari genom haploid paternal yang membelah menjadi dua (PENMAN, 1993). Tanpa proses diploidisasi embrio yang dihasilkan pada pembuahan sel telur non-aktif akan bersifat haploid yang berkarakter abnormal.

Jenis kejutan yang dapat dilakukan antara lain kejutan suhu (panas dan dingin), kejutan tekanan, kejutan dengan menggunakan bahan kimia dan kejutan listrik. Kejutan suhu merupakan salah satu metode yang banyak dilakukan karena mudah diterapkan (CARMAN, 1990). ARAI dan WILKINS (1987) menjelaskan bahwa penggunakaan kejutan suhu ternyata lebih mudah dibandingkan dengan kejutan tekanan. PURDON dan LINCOLN (1973) menyatakan bahwa kejutan panas telah umum dilakukan untuk menduplikasi seperangkat kromosom.

Pada penelitian androgenesis ikan mas yang dilakukan EDDY (1994), didapat hasil, bahwa lama waktu kejutan panas yang dilakukan 40 menit setelah pembuahan pada suhu 40 O C yang terbaik adalah dua menit. Penelitian pada ginogenesis ikan mas menunjukan benih homozigot diploid yang dihasilkan tertinggi oleh kejutan panas 36 – 37 menit setelah pembuahan (GUSTIANTO danDHARMA, 1991). SUMANTADINATA (1998), menyatakan bahwa umumnya waktu awal kejutan panas yang menekan saat pembelahan mitosis I pada ginogenesis adalah 40 dapat dilakukan selama 1,5 – 2,0 menit.

Penelitian ginogenesis ikan mas dengan menggunakan induk jantan ikan tawes berhasil memproduksi benih ginogenetik, dengan kejutan panas pada suhu 40 O C setelah 40 menit inkubasi (PRIHADY dan SUBAGYO, 1992). Menurut SULARTO dkk (1992), produksi ginigenetik nikan mas tertinggi diperoleh dengan pemberian kejutan panas selama satu menit pada saat 40 menit setelah pembuayhan.

Menurut SUMANTADINATA (1988), androgenesisi adalah proses terbentuknya embrio dari gamet jantan tanpa kontribusi genetis gemet betina. Proses reproduksi ini tidak umum terjadi, sehingga pada androgenesis dilakukan proses buatan yaitu menon-aktifkan bahan-bahan genetik yang terdapat pada telur dengan cara meradiasi telur tersebut (THORGAARD dkk., 1990). Akibat perlakuan tersebut tanpa peranan gemet betina dan bersifat haploid.

Individu haploid memiliki ciri-ciri yang abnormal misalnya bentuk punggung dan ekor yang bengkok, mata atau mulut yang tidak sempurna, ukuran tubuh yang kecil, sistem peredaran darah yang tidak normal dan ketidakmampuan melakukan aktifitas renang dan makan (CHERVAS, 1981 ; PURDOM, 1983). Agar embrio ini tetap hidup menurut NAGY dkk. (1978) perlu dilakukan diploidisasi pada tahap awal perkembangan telur.

Pada androgenetis yang dilakukan oleh ARIFIN (1994) pada ikan mas berhasil memperoleh 89,4 persen benih diploid androgenetik, sedangkan EDDY (1994) memperoleh 89,05 benih androgenetik ikan mas. SHCEERE dkk. (1986) dan THORGARRD dkk. (1990) yang melakukan percobaan androgenesis ikan rainbow menghasilkan tingkat kelangsungan hidup ikan masing-masing sebesar 6,8 persen dan 0,8 persen setelah berumur 59 hari.

Daftar Pustaka :

Rohadi, D.S, 1996. Pengaruh Berbagai Waktu Awal Kejutan Panas Terhadap Persentase Larva Diploid Mitoandrogenetik Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Universitas Padjadjaran, Fakultas Pertanian, Jurusan Perikanan, Jatinangor, Bandung

Daftar Pustaka Tambahan :

Arai, K. dan N.P. Wilkins. 1987. Triplidization of brown trout (Salmon trutta) bay heat shock. Aquaculture, 64 : 97 – 103.

Arifin, O.Z. 1994. Pengaruh lama Radiasi sinar ultra violet terhadap keberhasilan androgenetis ikan mas majalaya (Cyprinus carpio L). Skripsi Fakultas Pertanian Unida, Bogor (Tidak dipublikasikan, 40 hal).

Carman, O. 1990. Ploidy manipulation in some warm water fish. Thesis, Sumited in Partial Fulfiment of Requirements for Degree of Master in Fisheries Science at The Tokyo University of Fisheries, 87 hal.

Cherfas, N.B. 1981. Ginogenesis in fishes. Dalam V.S. Khirpichnikov (ed:) : Genetic bases of fish selection. Springer, Verlag, Berlin, Heidelberg, New York. Hal 223 – 273.

Chourout, D. 1984. Pressure induced retention of second polar body by suppression of first cleavage in rainbow trout; Production of all-triploid – all tetraploid, and heterozygous gynogenetic. Aquaculture, 26; 111 – 126.

Eddy, M. 1994. Pengaruh lama kejutan panas terhadap androgenesis pada ikan mas (Cyprinus carpio L). Skripsi. Fakultas Pertanian, Unida Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Hardjamulia, A. 1979. Budidaya Perikanan. Budidaya ikan mas (Cyprinus carpio L), ikan tawes (Puntius javanicus), ikan nilem (Osteochilus hasselti). SUPM Bogor. Badan Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Perikanan, Depatemen Pertanian, hal 1 – 7.

Primadona Ikan Konsumsi

November 8, 2009 pukul 10:08 am | Ditulis dalam Primadona Konsumsi | 25 Komentar
Tag:

YANG POTENSIAL DIBUDIDAYAKAN SEA FARMING

diolah dari berbagai sumber

BUKAN KERAPU BEBEK YANG DIBUDIDAYA DJAYA SURYANA PADA 20 KARAMBA JARING APUNG (KJA) MILIKNYA DI PADANGCERMIN, TELUK LAMPUNG. DJAYA MENEBAR KERAPU KERTANG.

Kerapu bebek Cromileptes altivelis selama ini paling banyak dibudidayakan di Teluk Lampung. Maklum, inilah kerapu dengan harga jual menggiurkan. Pengepul berani membeli seharga Rp350.000-Rp500.000 per kg. Kerapu-kerapu itu mayoritas masuk pasar ekspor. Negara penyerap utama adalah Hongkong, China, dan Taiwan.

Sejatinya tak hanya kerapu bebek yang dibudidayakan. Kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus dan lumpur E. coioides juga kelompok kerapu demersal yang sukses dibudidayakan peternak tanahair.

Harganya? Memang jauh dibanding kerapu bebek, macan Rp80.000-Rp130.000/kg dan lumpur Rp60.000 per kg. Toh jenis-jenis itu tetap diserap pasar mancanegara.

Kertang termasuk jenis kerapu yang diminati pasar. Harganya berkisar US$9-US$9,5 setara Rp106.560-Rp112.480 (kurs rupiah US$=Rp11.840) per kg. Sayangnya kerapu yang dapat mencapai bobot 500 g per ekor dalam tempo 6-7 bulan itu masih mengandalkan tangkapan alam. Belakangan Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung sukses menangkarkan jenis yang dilirik konsumen Singapura, Jepang, dan Taiwan itu.

Indonesia kaya jenis kerapu. Paling tidak terdapat 46 jenis anggota keluarga Serranidae itu yang tersebar di seluruh laut Nusantara. Semua ikan yang kaya kandungan protein antara lain Eicosapentaenoat Acid (EPA) dan Deicosahencanoic Acid (DHA) itu berprospek untuk dibudidayakan. Namun, sejauh ini hanya beberapa yang telah dicoba karena memiliki nilai ekonomi tinggi seperti kerapu bebek, macan, dan lumpur. Belakangan jenis kertang mulai dilirik.

Kertang Epinephelus lanceolatus

Kertang Epinephelus lanceolatus memiliki beberapa kelebihan. Ia tahan perubahan lingkungan dan penyakit. Giant grouper-sebutan kertang di Inggris-mampu hidup pada salinitas rendah, berkisar 5-33 ppt; kerapu lain umumnya 31-34 ppt. Laju pertumbuhan kertang cepat. Untuk mencapai ukuran 5-7 cm dibutuhkan 25-35 hari. Kertang dewasa dapat mencapai panjang tubuh 3 m. Di Indonesia kertang tersebar di perairan Padang, Bengkulu, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Flores, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Sunu Plectropomus leopardus

Ikan yang dikenal sebagai coral trout-kerapu karang-ini punya ciri corak warna merah atau cokelat kehijauan bertotol biru. Sunu Plectropomus leopardus dewasa, umur 4 tahun atau lebih, dapat mencapai panjang 35-120 cm dengan bobot sampai 9 kg/ ekor. Harga sunu lebih mahal dibanding kertang, mencapai Rp189.440-Rp307.840 per kg. Sunu di tanahair terdapat di Padang, Bengkulu, Teluk Banten, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Sulawesi Utara, Kepulauan Sangir, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Kepulauan Kei, dan Flores.

Lodi

Fisiknya mirip sunu, tapi totol warna birunya lebih jarang. Ikan berdaging lembut ini dapat mencapai panjang 70 cm dengan bobot 6 kg/ekor. Harganya sama dengan sunu. Penyebaran lodi Plectropomus maculatus selama ini ada di Padang, Nias, Sibolga, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Sulawesi Selatan, Teluk Banten, Halmahera, dan Ternate.

Malabar Epinephelus malabaricus

Sosoknya mirip lumpur E. coioides. Tubuhnya memanjang dan gilik dengan warna dasar abu-abu muda dan bintik-bintik di tubuh. Bedanya, bintik malabar hitam dan ukurannya lebih kecil. Malabar Epinephelus malabaricus yang mudah dijumpai di perairan karang, muara, mangrove, dan perairan berlumpur itu dapat mencapai panjang 115 cm dan bobot 25 kg/ekor. Malabar banyak terdapat di Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Padang, Bengkulu, Nias, Aceh, Sumatera Utara,

Batu Cephalopholis boenack

Kerapu jenis ini hidup di sela-sela karang mati. Tubuhnya berwarna dasar cokelat dengan pita-pita vertikal hitam pucat. Kerapu yang hidup di perairan dangkal hingga kedalaman 30 m itu ukurannya relatif kecil, sekitar 22 cm. Nah, sejak populasi kerapu-kerapu besar di Hongkong menurun drastis, kerapu batu Cephalopholis boenack menjadi buruan nelayan. Di Indonesia, brown coral cod ini tersebar di perairan pantai barat Sumatera, Bangka, Belitung, Kalimantan Timur, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Buru, dan Ambon. Sumber: Trubus.

 

Primadona Ikan Hias

November 8, 2009 pukul 10:02 am | Ditulis dalam Primadona Ikan Hias | 11 Komentar

IKAN HIAS

diolah dari berbagai sumber

Sejalan dengan lajunya pembangunan indonesia, maka perkembangan perikananpun mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal ini dimungkinkan karena pada hakekatnya Kota Jakarta merupakan Wilayah konsumen yang potensil, sehingga sangat mendukung dalam usaha pemasarannya.

ikan_hias

Mengamati kegiatan usaha Perikanan khususnya ikan hias tentunya tak dapat dipisahkan dengan sarana penunjang yang yang tak kalah pentingnya dengan usaha ikan hias itu sendiri yaitu “AQUARIUM” karena betapun indahnya ikan hias apabila tidak ditunjang dengan penampilan aquarium serta dekorasi yang memadai, maka sesungguhnya nilai keindahan itu telah berkurang dan ini hanya bisa dicapai melalui penanganan yang tekun dan berkelanjutan.

ikan_hias_2

Untuk mengembangkan usaha ikan hias diwilayah DKI Jakarta dilaksanakan melalui Pusat Promosi Hasil-hasil Perikanan yang beralokasi di Jalan Sumenep, Jakarta Pusat.

PERLENGKAPAN AQUARIUM

  1. Aquarium dalam keadaan bersih dan tidak bocor
  2. Tanaman hdiup secukupnya
  3. Bahan-bahan dekorasi: pasir bersih (tidak mengandung lumpur), koraltex, akar kayu dan batu karang
  4. Pompa udara (aerator) sebagai alat penambah oksigen dalam air
  5. Lampu neon ultra violet pada malam hari dapat menimbulkan rasa alami yang mempesona
  6. Filter yang dihubungkan dengan aerator berfungsi sebagai penyaring kotoran dalam air
  7. Peralatan lainnya: slang plastik, serokan dan pembersih kaca.

aquarium_1

TEKNIS DEKORASI AQUARIUM

  1. Pasir dimasukkan kedalam aquarium lalu diatur/dipadat sambil diberi percikan air secukupnya.
  2. Kemudian tanaman air ditanam dengan cara dibenamkan kedalam pasir (tanaman yang lebih tinggi diletakkan dibagian belakang)
  3. Setelah diperkirakan siap untuk didekor, maka sebelum diisi air permukaan tanaman dan pasir ditutup dengan kertas koran atau plastik. Hal ini dilakukan dengan maksud agar tekanan air tidak merusak tanaman dan tidak menimbulkan kekeruhan.
  4. Air dalam aqurium ditunggu sampai kotorannya mengendap, lalu ikan dimasukkan (diusahakan jenis ikan yang tidak saling memangsa)
  5. Tahap selanjutnya aerator dipasang sesuai ukuran aquarium, tapi bila tersedia banyak tanaman hidup, aerator cukup dipasang pada malam hari saja
  6. Aquarium diletakkan ditempat yang datang agar tekanan air merata dan diusahakan jangan terlalu banyak terkena sinar matahari karena akan mempercepat tumbuhnya lumut.

MAKANAN IKAN

  • Makanan ikan hias air tawar terdiri dari 2 macam yaitu: makanan alami seperti kutu air (Moina) cacing rambut (Fubifek, Chironomus) dan lawa nyamuk (cuk).
  • Makanana alami harus dibersihkan/dibilas terlebih dahulu dengan air bersih sebelum di berikan pada ikan dan satu hari cukup 1 (satu) kali saja
  • Makanan buatan: wafer, tahu, darah ayam/kerbau/marus
  • Makanan buatan sebaiknya diberikan pada saat tidak ada makanan alami
  • Pemberian makanan diusahakan jangan sampai tersisa karena dapat menimbulkan pembusukan/keracunan

MANFAAT

ikan_hias_3Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari keindahan aquarium ikan hias antara lain:

  1. dapat mendidik rasa cinta alami
  2. merupakan hiburan yang dapat mengendorkan urat syaraf serta menimbulkan rasa tentram di rumah
  3. menambah keindahan ruangan dan tidak memerlukan tempat yang luas
  4. merupakan usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga
  5. menjaga kelestarian sumber daya perikanan

Sumber: Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta

RED BEE (red crystal)

Seekor Rp232-juta Anda mungkin terbelalak bila membaca email yang masuk ke Harlequin Aquatic, perusahaan ekspor-impor ikan hias di bilangan Bambuapus, Jakarta Timur. Surat elektronik yang datang dari Hirotaka Sato, peternak udang hias di Tokyo, Jepang, menyebutkan harga seekor red bee-udang hias baru-di negeri Matahari Terbit mencapai ?2.000. 000 atau setara Rp232-juta.

Itulah harga red bee kualitas A. Ia istimewa lantaran corak dan warna lebih mewah dibanding pendahulunya, red crystal. Lazimnya, warna merah red crystal mendominasi seluruh tubuh dengan garis putih tipis. Red bee hadir dengan tampilan warna putih bak salju hampir menutupi seluruh cangkang. Sedangkan warna merah hanya sedikit menghiasi tubuh.

Selain red bee, black bee juga menjadi incaran mania udang hias dunia. Walaupun harga seekor black bee menyamai harga red bee, si hitam itu tetap diburu. Maklum, warna hitam terang di cangkang black bee lebih keren dibanding bumble bee. Yang mencolok, warna putih lebih banyak dan mendominasi seluruh tubuh.

Kualitas warna memang mempengaruhi harga keduanya. ?Sekarang hobiis ingin warna putih yang dominan. Semakin banyak putihnya semakin mahal,? kata Hendra Iwan Putra, eksportir udang hias. Menurutnya harga bisa melonjak 2-3 kali lipat dibanding red crystal. Itulah sebabnya Hendra memboyong 400-500 red bee dan 200 black bee ke tanahair untuk diternakkan.

Perawatan khusus
Namun, untuk menghasilkan kualitas udang hias seperti red bee dan black bee bukanlah pekerjaan gampang. Peternak di Jepang saja membutuhkan waktu bertahun-tahun agar warna putih lebih banyak dibanding warna lain. Namun, biasanya untuk mendapatkan red bee atau black bee pemilihan indukan menjadi kunci sukses. Induk yang baik dipilih saat berukuran 1, 5 cm. Saat itu perbandingan warna merah dan putih di kulit telah terlihat jelas. ?Kalau putihnya dominan berarti ia calon induk yang baik, ? kata Jeffrey Christian, peternak udang hias.

Indukan yang baik perlu pemeliharaan intensif. Red bee dan black bee membutuhkan suhu dingin, sekitar 21-23o C, untuk mempertahankan kesehatan dan warna tubuh. Selain itu, ia menginginkan derajat keasaman air 6, 8-7, 2. Kesadahan air lunak, 0 – 1 ppm dan bebas polutan. Pakan bloodworm diberikan dengan dosis 1 batang untuk populasi 50-100 ekor, 2 kali sehari.

Ikan hias corydoras merupakan ikan hias primadona ekspor. Permintaan terhadap ikan hias ini datang dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Eropa. Salah seorang yang menggeluti usaha pembibitan ikan hias corydoras adalah Imam, di aquarium budidaya miliknya di kawasan Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang, Banten.

Untuk mencapai tempat pengembang biakkan ikan hias corydoras milik imam dari Jakarta dapat mengambil arah ke Lebak Bulus. Lalu dilanjutkan ke arah Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang, Banten. Di tempat ini, Imam memiliki sekitar 700 aquarium untuk membudidayakan ikan hias corydoras.

Dari sekitar 80 spesies ikan hias corydoras, beberapa diantaranya telah dapat ditangkarkan di Indonesia. Antara lain jenis corydoras sterbey, panda, adolfoi dan albino. Corydoras adolfoi aslinya berasal dari Brazil. Permintaan dari luar negeri untuk ikan hias jenis ini bisa mencapai puluhan ribu ekor per bulan.

Proses pembibitan ikan hias dimulai dari perkawinan antara ikan jantan dan betina. Setelah dua bulan dikawinkan, satu indukan ikan corydoras dapat menghasilkan 200 hingga 500 telur. Telur akan menetas dalam waktu 3 hingga 5 hari. Dan berubah menjadi larva.

Setelah berusia 11 hari, larva berkembang menjadi anakan dan disortir, lalu ditempatkan di aquarium yang maksimal berisi 300 anak ikan. Membudidayakan ikan hias corydoras perlu ketelitian dan kesabaran, karena resiko kematiannya tinggi. Tingkat keasaman air harus dijaga pada posisi 7,2, dan suhu 26 derajat celcius.

Ikan hias corydoras harga jualnya ditentukan berdasarkan ukurannya. Permintaan paling banyak untuk jenis corydoras sterbey dan panda. Ikan yang dijual umumnya berukuran midle atau sedang. Untuk ikan corydoras sterbey, permintaan biasanya untuk ukuran panjang 2,5 centimeter. Sedangkan jenis panda ukuran panjang 2,8 centimeter.

Setiap bulannyanya, tidak kurang dari 50 ribu ekor ikan hias didistribusikan dari tempat ini. Sebagian besar untuk pasaran ekspor. Permintaan dari luar negeri biasanya paling banyak pada bulan September hingga Januari. Harga ikan hias corydoras sterbey ukuran sedang sekitar 4.500 rupiah per ekor. Sedangkan ikan corydoras panda sekitar 1.250 rupiah per ekor.(Helmi Azahari/Dv)

dari : indosiar.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pembudidaya (breeder) ikan hias Neon Tetra mengaku kewalahan menghadapi permintaan ekspor. Aditya Satya, salah satu breeder di Sawangan, Depok, Jawa Barat, mengatakan permintaan dari eksportir akan ikan Neon Tetra itu dua juta ekor per bulan. “Namun, koperasi kami hanya mampu memproduksi satu juta ekor per bulan,” kata Aditya kepada KONTAN.

Pasar ekspor ikan bernama latin Paracheirodon innesi ini terbuka di Singapura, Amerika Serikat, dan Eropa. Selain sebagai ikan hias, di Eropa, ikan Neon Tetra ini diambil zat warnanya untuk bahan kosmetika. Peluang bisnis semakin manis lantaran baru Indonesia dan China yang berhasil membenihkan neon tetra.

Aditya mengatakan anakan ikan berukuran 0,8 cm yang berusia 40 hari dihargai Rp 150 per ekor. Sedang harga neon tetra berukuran 3 cm mencapai Rp 600 per ekor. Kapasitas breeding neon tetra milik Aditya berkisar 120.000-200.000 ekor sebulan.

Aditya mengaku sudah 10 tahun membudidayakan neon tetra. Dia tertarik ikan ini karena permintaannya tak pernah surut. Sejak awal budidaya sampai sekarang, harga ikan ini juga stabil. “Kalau harga ikan kardinal tetra itu bisa naik turun berkali-kali lipat,” ujarnya.  (Dupla Kartini/Kontan)

Black Ghost

Tahukah kalian, ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons) asalnya dari Amazon -waw, temennya Kamen Rider Amazon neh- Ukurannya bisa sampe 1/2 m dengan panjang rata-rata sekitar 35 cm. Kalo yang aq beli baru 5 cm-an seh. Kayak bisa kalian liat di gambar, warnanya item (ada temennya, namanya White Ghost-but not perfectly white- n harganya lebih mahal) di ekornya doang ada strip putih. Karena bentuknya yang mirip pisau, melebar di kepala, menyempit sampe ke ekor, ikan ini digolongkan ikan pisau (Knifefishes),
Selain itu, Black Ghost juga ternyata teman seperguruan belut Listrik, cuz ternyata bisa juga menghasilkan listrik (electric fish).Tapi ikan ini cuma bisa menghasilkan listrik lemah (< 1V/cm), frekuensi 0.1 – 10 kHz. Mirip kelelawar yang pake sonar, ikan ini memakai listrik buat ngenalin objek sekitarnya. Sering disarankan, agar tidak melihara 2 atau lebih ikan ini dalam satu tempat, atau dicampur dengan ikan penghasil listrik lainnya, karena diduga bisa mengganggu sistem radar n navigasinya.. Lah, kasian ikan lainnya yang sekandang ma dia, jangan-jangan diisengin n disetrum,,hehehe.. Namuuuuunn,, karena makanannya yang g sesuai harusnya makan cacing rambut -aku kasih pelet biasa- akhirnya cacing ini menghembuskan nafas terakhir beberapa hari setelah aku beli,, huhuhu.. aku kuburin di depan rumah akhirnya..

Lemon Fish

Ikan kedua yang aku pelihara, yaitu ikan lemon. Mungkin dikatain begitu karena sekujur tubuhnya warnanya kuning kayak lemon,, Nama latinnya Neolamprologus leleupi,, lebih akrab disebut leleupi berasal dari danau Tangayika, Afrika. Di habitat aslinya, ikan ini hidup di pH tinggi, sekitar 7.8 sampai 9.0 dan suhu sekitar 25°C – 30°C. Tapi karena ikan” di pasaran itu hasil peranakan turunan, udah bisa beradaptasi dengan lingkunganya, maka g butuh kondisi yang seekstrim itu. Ikan ini gampang dikasi makan loh. Setelah aku beli, n bawa pulang, ikan ini paling rakus makannya dibanding yang laen. Bikin aku seneng ngasih makan,, entah mengapa, keesokan harinya ikan ini mati duluan, lebih pendek umurnya daripada Popo, bahkan belum sempet aku kasih nama.. akhirnya aku kuburin juga di depan rumah.

Ikan buntal mengandungi racun yang menyerang saraf (neurotoxin) yang dipanggil tetrodotoxin. Maklumat saintifik menyatakan ikan buntal adalah haiwan kedua paling beracun selepas Golden Poison Frog dan 1.200 kali lebih keupayaan membunuh berbanding cyanida. Oleh kerana racun ini adalah sejenis neurotoxin, ia boleh menyebabkan kelumpuhan otot-otot penting seperti otot yang terlibat dalam proses pernafasan. Dan sekiranya ini berlaku, ianya boleh membawa maut.

3. Bagaimana ikan buntal boleh dicemari racun?
Memang tidak dinafikan ada orang yang memakan ikan buntal, tetapi tidak mengalami sebarang masalah. Di Jepun, masyarakatnya mempunyai hidangan istimewa ‘fugu’ dari sejenis ikan buntal. Di Korea pula, hidangan istimewa ikan buntal dinamakan ‘bok-uh’Di dalam ikan buntal, racun tetrodotoxin terdapat di kulit, telor(ovaries), hempedu, hati, usus dan kulit. Racun tetrodotoxin ini boleh mencemari isi ikan buntal sekiranya semasa proses menyiang ikan ini, bahagian-bahagian ikan yang mengandungi racun tersebut telah terluka/terpotong, ini menyebabkan racun tersebut terkena isi ikan.Oleh itu, penjual ikan buntal selalunya telah menyiang ikan ini terlebih dahulu dengan membuang kulit, kepala dan isi perut ikan. Hanya mereka yang mahir menyiang ikan buntal dengan kaedah yang betul dapat menyelamatkan isi ikan buntal dari dicemari racun tetrodotoxin ini. Di Negara Jepun misalnya, hanya mereka yang diberi tauliah sahaja dibenarkan menyiang ikan buntal ini. Proses memasak tidak memusnahkan racun ini kerana ianya tahan haba.

4. Apa tanda-tanda keracunan ikan buntal?
Gejala keracunan ikan buntal/hasilnya adalah berpunca dari gangguan toxin terhadap fungsi tubuh manusia. Seseorang yang memakan ikan buntal/hasilnya yang mengandungi racun akan mula mendapat gejala seawal 10 – 45 minit. Mereka akan mendapat kebas mulut dan lidah, mabuk (melayang-layang), pening, loya, muntah, lemah dan seterusnya kelumpuhan anggota, kesukaran bernafas dan boleh pengsan . Keterukan gejala yang dihadapi bergantung kepada jumlah racun yang telah dimakan dan mangsa boleh maut jika tidak dibantu.
5. Bagaimana keracunan ikan buntal dirawat?
Mereka yang mengalami keracunan ikan buntal dinasihatkan mendapatkan rawatan dari doktor dengan segera. Racun tetrodotoxin ini tiada penawarnya, namun bantuan awal terhadap masalah yang dihadapi dapat segera memulihkan mangsa.Rawatan yang tidak khusus seperti tambahan air badan, menggeluarkan sisa makanan yang terdapat didalam perut serta bantuan pernafasan jika terdapat gangguan pernafasan dapat menyelamatkan mangsa.Lazimnya mangsa akan pulih sepenuhnya apabila semua gejala berakhir.

6 Dimana boleh didapati ikan buntal?
Terdapat bebagai jenis ikan buntal diperairan tepi pantai terutamanya dikawasan tropika. Sebahagian besar ikan ini sangat beracun dan sebahagian lagi dikatakan kurang beracun. Badan ikan buntal berbentuk bulat, tidak bersisik, pergerakannya perlahan didalam air dan akan mengembongkan badannya jika terancam. Ikan buntal yang sering ditangkap oleh nelayan Malaysia dinamakan Buntal Pisang. Nelayan atau ahli keluarga yang berpengalaman sahaja dibenarkan menyiang ikan buntal. Proses menyiang ikan buntal melibatkan proses menyiat kulit ikan yang tebal dan liat, mengeluarkan isi perut dan membuang kepala ikan tersebut. Sekiranya secara tidak sengaja isi perut ikan tersebut terpotong, lazimnya mereka akan membuang seluruh ikan tersebut bagi mengelakkan keracunan.Di Malaysia amnya, di Negeri Johor khasnya, sebahagian masyarakat meminati isi ikan buntal yang dikatakan sangat enak. Oleh kerana ada permintaan terhadap isi ikan buntal, maka penjualannya juga berlaku walau pun tidak berleluasa. Ikan buntal dijual dalam keadaan telah di siang tanpa kepala, kulit dan isi perut atau dalam bentuk fillet .

1620 SM, Konon pada waktu teknologi Silver Stone (Zaman Kerajaan Mataram), diselatan pantai jawa terkenal kecantikan seorang gadis yang berinisial NR (Nyi Rorokidul), hal ini membuat para pengagumnya ingin berpartisipasi menyunting gadis NR tersebut, terutama para pejabatnya dilingkungan departemen kerajaan. Hasrat ini muncul di mimpi sang Pejabat Kelautan Mataram yang dengan diam diam menuju pantai selatan……Tolah…toleh..amaan..! (Istrinya sudah minum jamu kecantikan sampai OD).

Kok nasib lagi bagus, gelap-gelap dipinggiran pantai ada yang manggil2…Pak ..nyemplungo Pak, aku disini…wee…suara alus tenaan pikirnya! nggak pakek pakaian diving si pejabat langsung nyemplung ke laut selatan…sudah tak kowaat..!

itu laut diobok-obok mulai dari cilacap sampe banyuwangi, nggak nemuin NR, si Pak Pejabat caapeek dee…! Pas dipantai ada ikan lorek menggelepar-gelepar, timbul rasa nasionalnya untuk membudidayakan ikan lorek tersebut sesuai mandat departemennya.

Ikan lorek yang nggak pernah tau namanya dan imut, rencana akan diberikan kepada Pak Mentri Kelautan Mataram karena langka untuk dilestarikan. sambil jalan…basah kuyup si ikan lorek di tenteng sampai mangap2 (Zaman dulu belum ada tas plastik di mataram, kalaupun ada mesti pakek ngajuin anggaran doeloe)

Sampe rumah istrinya kebangun kaget, ngeliat sang kekasih koloran basah kuyup, lalu nanya Pak kok haree genee basah kuyup sambil nenteng ikan..? NEk MOdar piye…keciian dee Pak Ne…! Iwak opo iku……..sambil mikir……NEMO bu..! (NEk MOdar) …pinter juga bini guwe..gak rugi jadi istrinya pejabat……guwe yang rugi berenang sampe banyuwangi malah nemu iwak NEMO….gak tau die kalau guwe MEh MOdar…..kalau sering ngasih MEMO.

Prosedur Karantina Ikan

November 8, 2009 pukul 9:55 am | Ditulis dalam Kesehatan ikan | 1 Komentar
 

INFORMASI SEPUTAR PROSEDUR KARANTINA IKAN DI INDONESIA

 
I. Dasar Hukum Karantina Ikan
UU Nomor 16 Tahun 1992, tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
 
II Prosedur Karantina Ikan
 
1 Impor
 
2. Ekspor
  • SK Mentan No.245/Kpts/LB.700/4/1990 tentang Tindakan Karantina Ikan Hidup yang dikeluarkan Dari Wilayah Negara Republik Indonesia;
  • SK Mentan No.470/Kpts/LB.730/8/2001 tentang Perubahan Lampiran SK Mentan No.245/Kpts/730/4/1990 tentang Tindakan Karantina Ikan Hidup yang dikeluarkan dari wilayah Negara Republik Indonesia, Terakhir diubah dengan SK Mentan N0.213/Kpts/I.B.730/4/2001
 
3. Hama dan Penyakit Ikan Karantina
 
III. Organisasi Karantina Ikan

Unit Kerja

Alamat

Pusat Karantina Ikan (Puskari) Jl. MT. Haryono Kav. 52-53
Jakarta Selatan
Telp. (021) 79180303  Ext. 2169 Fax. (021) 79180464
E-mail : puskari@dkp.go.id
Balai Karantina Ikan Soekarno – Hatta Gedung Karantina Pertanian, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng
Telp. (021) 5507932 Fax. (021) 5506738
Wilker KI Adi Sucipto, Yogyakarta Bandara Adi Sucipto,
Yogyakarta, 55282
Telp: (0274) 583632
Wilker KI Adi Sumarmo, Solo Jl. Amarta Gedong Baru Ngabean Kartosuro, Bandara Adi Sumarmo
Po.Box 800 Surakarta
Telp: 0271) 790715 Pesawat 232 Fax: (0271) 780058
Wilker KI Tanjung  Emas, Semarang Jl. Ampena No.4
Semarang 50129
Telp : (024) 541709
Wilker KI Cirebon D/a Stasiun K.T Cirebon
Jl. Maluku 3 Cirebon
Telp : (0231) 202947
Wilker KI Husein Sastranegara, Bandung Jl. Pajajaran No.156
Telp : (022) 6015871
Wilker KI Pel Laut Panjang, Bandar Lampung Jl. Jawa No.5 Pelabuhan Laut Panjang
Bandar Lampung
Telp : (0721) 33439
Wilker KI Tanjung Priok D/a Stasiun K. Hewan Pel Laut Tj Priok
Telp : (021) 491549
Wilker KI Pel Penyeberangan Merak Jl. Raya Pelabuhan ASDP 101,
Merak
Telp :(0254) 570020
Balai Karantina Ikan Hasanuddin, Makassar Jl. Landak Baru No.7
Makassar 90135
Wilker KI Palu Jl. A.R Rahman Saleh No.15
Birobuli-Palu
Wilker KI Luwuk Bangga Jl. Gunung Tompo Tika No.20
Kampung Baru Luwuk Banggai
Wilker KI Ambon Jl. Leo Wattimena
Ambon
Wilker KI Ternate Komp. Bandar Sultan Babullah
Ternate
Stasiun KI Polonia, Medan Jl. Padang Golf Bandara
Polonia Medan 20057
Wilker KI Bandar Blang Bintang, Banda Aceh Jl. Cendana Utama No.7
Jeulingke,Banda Aceh 23114 Telp : (0651) 53705
Wilker KI Teluk Nibung Pel Laut Nibung, Tanjung Balai (A) Sumatera Utara
Telp : (0623) 95004
Stasiun KI Sultan Mahmud Badaruddin II Jl. Adi Sucipta Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II,
Palembang 30155
Wilker KI ST. Thaha Jl. Garuda I Talang Bakung
Jambi 36139
Telp : (0741) 25474
Wilker KI Buluh Tumbang D/a Pos K Tumbuhan
Jl. Kapten Wiratmo
Pel Laut Tanjung Pandan 33171
Telp : (0719) 21054
Wilker KI Pangkal Pinang Jl. Koba Bandara Depati Amir
Pangkal Pinang
Telp : (0717) 434756
Wilker KI Bengkulu Jl. Ir. Rustandi Sugianto Km.13,8
Kandang- Bengkulu
Telp : (0736) 53017
Stasiun KI Juanda, Surabaya Jl. Pagesangan II/58A,
Jambangan- Surabaya Jawa Timur
Telp : (031) 8286357
Wilker KI Pel Laut Tanjung Perak Jl. Kalimas Baru No.86 Tanjung Perak
Surabaya 60000 Jawa Timur
Wilker KI Pel Ferry Ketapang-Banyuwangi Jl. Gatot Subroto, Ketapang
Banyuwangi 60000 – Jawa timur
Stasiun KI Ngurah-rai Jl. I Gusti Ngurah-rai-Tuban
Denpasar 80362
Telp : (0361) 756951
Wilker KI Benoa Jl. Ikan Tuna Raya Timur,
Benoa-Bali
Telp : (0361) 724396
Wilker KI Gilimanuk Jl. Pel Penyeberangan Gilimanuk, Jembrana
B A L I
Stasiun KI Selaparang, Mataram Jl. Balai Kota No.4
Kendari 24848
Wilker KI Bandara El Tari, Kupang Jl. Adi Sucipto,
Bandara Selaparang, Mataram 83124
Wilker Bandara M Salahuddin Bima Jl. St Salahuddin,
Polibelo, Bima – NTB 84173
Wilker KI Pel Laut Lembar Jl. Raya Pel Laut Lembar
Lombok Barat
Stasiun KI Sepinggan Jl. Marsma Iswahyudi,
Balikpapan 76115
Telp : (0542) 876348
Wilker KI Syamsuddin Noor, Banjarmasin D/a Bandara Syamsuddin Noor,
Banjar Baru 70724
Telp :(0511) 705720
Wilker KI Tjilik Riwut, Palangkaraya D/a Bandara Tjilik Riwut,
Palangkaraya
Wilker KI Juata, Tarakan D/a Bandara Juata,
Tarakan
Wilker KI Nunukan, Nunukan D/a Pel Laut Nunukan
Stasiun KI Sentani, Jayapura Jl. Komp Bandara Udara Sentani Po.Box 234,
Jayapura 99352, Papua
Telp : (0967) 592203
Wilker KI Bandara Frans Kaisiepo, Biak Jl. Prof Muh Yamin No.73,
Biak 98111
Wilker KI Bandara Jefman, Sorong Jl. Ahmad Yani No.2
Sorong
Wilker KI Bandara Mopah, Merauke Jl. Peternakan Mopah Lama Po.Box 263,
Merauke
Wilker KI Bandara Timika Jl. Yos Sudarso,
Timika 98663
Wilker KI Manokwari Jl. Banjarmasin No.3 Manokwari
Pos KI Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru Jl. Gedung Gedung Terminal Sultan Syarif Kasim II,
Pekan Baru 28284
Telp : (0761) 674626
Wilker KI Tanjung Pinang D/a Pos K.Tumbuhan Pinang
Jl. Samudera
Tanjung Pinang 2911
Telp : (0771) 21928
Wilker KI Pel Laut Bengkalis Jl. Lembaga 459A
Bengkalis 28711
Telp : (0766) 23104
Wilker KI Pel Laut Selat Panjang Jl. Terminal Tanjung Harapan
Selat Panjang 28753
Telp :(0763) 32445
Wilker KI Pel Dumai Jl. Datuk Laksamana
Telp : (0765) 438906
Wilker KI Pel Laut Pulau Bulan Jl. RE Martadinata No.16
Telp : (0778) 322120, 322835
Pos KI Tabing, Padang Jl. Prof Dr. Hamka
Gedung Terminal Bandara Tabing
Padang 25171
Telp : (0751) 674626
Wilker KI Teluk Bayur D/a Terminal Nontongga
Jl. Tanjung Priok Teluk Bayur
Wilker KI Bungus D/a Kantor Perhubungan Pel Penyeberangan Bungus Padang
Wilker KI Pos Besar D/a Bagindo Aziz Chan
Padang
Pos KI Supadio, Pontianak Bandara Supadio Pontianak 78391
Wilker KI Pel Laut Pontianak Jl. Pel Laut Pontianak
Pontianak
Wilker KI PPLB Entikong Jl. PPLB Entikong
Pos KI Samratulangi, Menado Jl. Bandara Samratulangi
Menado 95258
Wilker KI Bitung Komp. Pel Laut Bitung Jl. Ir. Soekarno No. 23 Bitung Telp : (0438) 34386
Wilker KI Gorontalo Komp. Pel Laut Gorontalo Jl. Mayor Dullah No.200
Wilker KI Menado Jl. Komp. Pel Laut Menado
Menado
Pos KI Wolter Monginsidi, Kendari Jl. Balai Kota No.4,
Kendari 24848
Wilker KI Kolaka Jl. Banteng No.76 Komp. Pelabuhan
Kolaka
Wilker KI Pel Laut Kendari Jl. Jenderal Sudirman No.76,
Kendari
Wilker KI Bau-Bau, Buton Jl. Yos Sudarso No.7,Komp. Murhun
Bau-Bau

Sumber: Depertemen Kelautan dan Perikanan, RI.

INFO PENYULUH PERIKANAN

November 8, 2009 pukul 9:46 am | Ditulis dalam MANAJEMEN AKUAKULTUR | Tinggalkan komentar

DASAR-DASAR PENYULUHAN PERIKANAN

Sumber: Pusat Pengembangan Penyuluhan Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan

PENGERTIAN PENYULUHAN

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan, dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat non formal bagi pelaku utama dan/atau pelaku usaha beserta keluarganya

Penyuluhan perikanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka tahu, mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi, pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup;

TUJUAN PENYELENGGARAAN  PENYULUHAN PERIKANAN

  1. Memperkuat pengembangan kelautan dan perikanan, yang maju dan modern dalam sistem pembangunan yang berkelanjutan
  2. Memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, pengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaran, dan pendampingan serta fasilitasi;
  3. Memberikan kepastian bagi terselenggaranya penyuluhan yang produktif, efektif, efisien, terdesentralisasi, partisipatif, terbuka, berswadaya, bermitra sejajar, kesetaraan gender, berwawasan luas ke depan, berwawasan lingkungan, dan bertanggung gugat yang dapat menjamin terlaksananya pembangunan kelautan dan perikanan
  4. Memberikan perlindungan, keadilan, dan kepastian hukum bagi pelaku utama dan pelaku usaha untuk mendapatkan pelayanan penyuluhan serta bagi penyuluh dalam melaksanakan penyuluhan; dan
  5. Mengembangkan sumber daya manusia, yang maju dan sejahtera, sebagai pelaku dan sasaran utama pembangunan kelautan dan  perikanan

PELAKU UTAMA KEGIATAN PENYULUHAN PERIKANAN

Nelayan, pembudi daya ikan, dan pengolah ikan beserta keluarga intinya

Pelaku usaha  adalah perorangan warganegara Indonesia  atau  korporasi yang dibentuk menurut hukum Indonesia yang mengelola usaha perikanan

Kelembagaan nelayan, pembudi daya ikan, pengolah  ikan ( pelaku utama ) adalah lembaga yang  ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk pelaku utama.

Penyuluh pegawai negeri sipil adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup kelautan dan perikanan,  untuk melakukan kegiatan penyuluhan.

Penyuluh swasta adalah penyuluh yang berasal dari dunia usaha dan/atau lembaga yang mempunyai kompetensi di bidang penyuluhan.

Penyuluh swadaya adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh.

PENYULUH NON FUNGSIONAL.

Pegawai negeri sipil bukan pejabat penyuluh fungsional yang ditetapkan  oleh pejabat yang berwenang untuk  melaksanakan tugas penyuluhan perikanan

PENYULUH TENAGA KONTRAK.

Tenaga profesional yang diberi tugas dan  wewenang untuk melaksanakan tugas  penyuluhan perikanan dlm suatu ikatan kerja selama jangka waktu tertentu

PENYULUH KEHORMATAN.

Seseorang yang bukan petugas penyuluh perikanan yang karena jasanya diberi penghargaan sebagai Penyuluh Kehormatan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan berdasarkan rekomendasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan Wakil Masyarakat.

Rekomendasi adalah pemberian persetujuan terhadap teknologi  yang akan digunakan sebagai materi penyuluhan.

Materi penyuluhan adalah bahan  penyuluhan dalam  berbagai bentuk yang  meliputi informasi teknologi, rekayasa sosial, manajemen ekonomi, hukum, dan kelestarian lingkungan.

Programa  penyuluhan  adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian  tujuan penyuluhan.

Kelembagaan penyuluhan   adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan penyuluhan.

ASAS PENYULUHAN

  • manfaat
  • kesetaraan
  • keterpaduan
  • keseimbangan
  • keterbukaan
  • kerja sama
  • Partisipatif
  • Kemitraan
  • Berkelanjutan

LUARAN PENYELENGGARAAN PENYULUHAN

1.Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan kelautan dan perikanan wilayah

2. Meningkatnya kemampuan pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan usaha dan bisnis perikanan

3. Meningkatnya kemampuan pelaku utama dan pelaku usaha dalam akses kepada kelembagaan inovasi dan kelembagaan ekonomi

4. Diterapkannya inovasi teknologi secara efisien dan menguntungkan

5. Terselenggaranya proses penyuluhan yang didasar kan pada azas efisien dan efektif  melalui pendekatan partisipatif

Dampak yang diharapkan

ü  Tumbuh dan berkembangannya kelembagaan bisnis perikanan dlm mendukung diversifikasi usaha atas kemampuan sendiri ( kemandirian progresif )

ü  Pelaku utama dan pelaku usaha mampu menyesuaikan dan menjamin kualitas (mutu) produk perikanan yang dipasarkan

ü  Pelaku utama dan pelaku usaha mampu mengadopsi teknologi paling mutakhir pada seluruh fungsi usaha bisnis perikanan

ü  Tumbuhnya tokoh-tokoh pembaharu bisnis perikanan setempat yang mampu mendorong kerjasama antar pelaku  bisnis dari segmen yang berbeda.

ü  Tumbuh dan berkembangnya model model penyuluhan partisipatif.

Karakteristik Sistem Penyuluhan Perikanan

1. Sistem yang digerakkan oleh  kepemimpinan pelaku utama dan pelaku usaha

2. Sistem yang bertumpu pada kekuatan kerja  sama

3, Sistem yang bertumpu pada otonomi daerah

4. Keterpaduan program berwawasan bisnis perikanan dan kelestarian lingkungan

5. Sistem yang diwadahi oleh kekuatan  kelembagaan

6. Sistem yang dilayani oleh kesatuan korps  penyuluh perikanan

7. Sistem yang didukung oleh profesionalism  penyuluh perikanan

FALSAFAH PENYULUHAN KP

Perubahan yang diharapkan terjadi dlm pembelajaran melalui kegiatan penyuluhan :

Pengetahuan, baik jenis maupun jumlahnya

2. Keterampilan dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan keperluannya

3. Kecakapan dalam  berfikir untuk menyelesaikan  masalah yang dihadapi dalam kesehariannya

4. Sikap, yaitu kecenderungan untuk :

     a. Tidak berprasangka terhdp hal hal yg blm dikenal

     b. Mencoba sesuatu yang baru

     c. Mau bekerjasama dalam  penyelesaian masalah   ( berorganisasi/berkelompok)

     d. Menimbulkan sikap swadaya dan swadana

     e. Mau melestarikan/menjaga lingkungan

Kondisi pelaku utama yang harus dipahami Untuk keberhasilan pembelajaran :

  1. Pelaku utama sibuk  karena ada kegiatan yg harus dikerjakan dalam rangka mencari nafkah keluarga
  1. Pelaku utama mempunyai fikiran, padangan, keinginan dan kebiasaan yang dipengaruhi lingkungan sehari hari
  1. Perubahan apapun yg terjadi ,akan berdampak  langsung terhadap  penghidupan dan kehidupannya
  1. Pelaku utama sudah mempunyai sikap , pengetahuan dan keterampilan tertentu yang dapat berakibat 

      kesulitan dalam menggerakkan terjadinya perubahan  prilaku

  1. Umumnya pelaku utama mau belajar karena ingin mencapai  keberhasilan yang lebih baik

Hal hal yang harus diperhatikan penyuluh dalam proses pembelajaran :

  1. TIDAK MENGGURUI
  2. TIDAK MENJADI “ AKHLI “
  3. TIDAK MEMUTUS PEMBICARAAN
  4. TIDAK BERDEBAT

TIDAK DISKRIMINATIF

Prinsip Pembelajaran:

1. Ada dorongan atau motivasi untuk belajar

2. Sesuai dengan keperluan/kebutuhan/ masalah yg dihadapi

3. Mudah dicerna

4. Melibatkan peserta secara aktif dalam pembelajaran ( partisipatif )

5. Ada kesempatan mencoba dan mempraktekkan

6. Membuat situasi percaya penuh kepada penyuluh

7. Ada perubahan yang positif setelah proses pembelajaran

HAL UTAMA DILAKUKAN DALAM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN

1.Mewujudkan sistem penyuluhan perikanan yang menjamin terselenggaranya penyuluhan perikanan secara produktif, efektif dan efisien, dinamis dan profesional

2. Mengembangkan model model penyuluhan perikanan partisipatif untuk membangun kemampuan pelaku utama dan pelaku usaha yang mandiri dan mampu menolong dirinya sendiri.

3. Menjadikan penyuluh perikanan sebagai konsultan serta mitra sejati pelaku utama dan pelaku usaha dalam pendampingan pengembangan kemampuan berusaha bisnis perikanan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah, peningkatan daya saing yang akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

Memfasilitasi proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha;

5.   Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi, dan sumber daya lainnya agar mereka dapat mengembangkan usahanya;

6.   Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha;

7.   Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik, dan berkelanjutan;

TUGAS POKOK PENYULUH PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN

a. Melakukan kegiatan persiapan penyuluhan pertanian,perikanan dan kehutanan.

 b. Melaksanaan penyuluhan , evaluasi dan pelaporan serta pengembangan penyuluhan
FUNGSI PENYULUH PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN
a. Memfasilitasi Proses Pembelajaran Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha;
b. Mengupayakan Kemudahan Akses Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha Ke Sumber Informasi, Teknologi, Dan Sumber Daya Lainnya Agar Mereka Dapat Mengembangkan Usahanya;

c. Meningkatkan Kemampuan Kepemimpinan, Manajerial, Dan Kewirausahaan Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha;
d. Membantu Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha Dalam Menumbuhkembangkan Organisasinya Menjadi Organisasi
e. Ekonomi Yang Berdaya Saing Tinggi, Produktif, Menerapkan Tata Kelola Berusaha Yang Baik, Dan Berkelanjutan; Membantu Menganalisis Dan Memecahkan Masalah Serta Merespon Peluang Dan Tantangan Yang Dihadapi Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha Dalam Mengelola Usaha;
f. Menumbuhkan Kesadaran Pelaku Utama Dan Pelaku Usaha Terhadap Kelestarian Fungsi Lingkungan; Dan
g. Melembagakan Nilai -Nilai Budaya Pembangunan Pertanian Yang Maju Dan Modern Bagi Pelaku Utama Secara Berkelanjutan.

Materi Penyuluhan Link Berikut

MATERI PENYULUHAN
Berisi
presentasi power point :
1. Indikator Kinerja dan pelaporan Penyuluh Perikanan
2. Konsepsi Minapolitan
3. Pengangkatan dalam jabatan Penyuluh Perikanan
4. Dasar-dasar Penyuluhan Perikanan
5. Komunikasi yg efektif
6. Media Penyuluhan Perikanan

Unduh disini

ATERI PENYULUHAN 2

Berisi Presentasi Power Point :
1. Presentasi Power Point :
2. Dinamika Kelompok
3. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
4. Penyusunan Programa Penyuluhan
5. Peran Penyuluh Perikanan

Untuk mengunduh KLIK DISINI



Programa Penyuluh Perikanan

November 8, 2009 pukul 9:41 am | Ditulis dalam pakan alami | 3 Komentar
Tag:

Teknik Penyusunan Programa Penyuluhan

Menurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan araMenurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan. Selanjutnya dalam Bab VII dari undang undang tersebut mulai pasal 23 dijelaskan bahwa programa penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan.

Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan kecamatan, programa penyuluhan kabupaten/kota, programa penyuluhan provinsi, dan programa penyuluhan nasional. Programa penyuluhan disusun dengan memperhatikan keterpaduan dan kesinergian programa penyuluhan pada setiap tingkatan.

Programa penyuluhan disahkan oleh Kepala Balai Penyuluhan, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota, Ketua Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi, atau Kepala Badan Penyuluhan sesuai dengan tingkat administrasi pemerintahan.

Programa penyuluhan desa/kelurahan diketahui oleh kepala desa/kelurahan. Programa penyuluhan disusun setiap tahun yang memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran masing-masing tingkatan mencakup pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya sebagai dasar pelaksanaan penyuluhan. Programa penyuluhan harus terukur, realistis, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis, dan bertanggung gugat.

Ketentuan mengenai pedoman penyusunan programa penyuluhan diatur dengan peraturan menteri. Penyuluh menyusun dan melaksanakan rencana kerja tahunan berdasarkan programa penyuluhan. Penyuluhan dilaksanakan dengan berpedoman pada programa penyuluhan. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif melalui mekanisme kerja dan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pelaku utama dan pelaku usaha. Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme kerja dan metode penyuluhan ditetapkan dengan peraturan menteri, gubernur, atau bupati/walikota.

Ada 3 hal yang mendasari penyusunan programa penyuluhan pertanian, yaitu :

1. Perencanaan program pembangunan pertanian

2. Potensi wilayah terhadap bidang pertanian

3. Aspirasi Petani

Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian menuntut terjadinya dinamika proses untuk memadukan ketiga unsur tersebut diatas.

A. Perencanaan program pembangunan pertanian
Perencanaan program pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan perencanaan pembangunan pertanian yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah. Untuk tingkat daerah, dokumen perencanaan tersebut dibuat oleh Bappeda Kabupaten/Kota, begitu juga dengan Provinsi yakni oleh Bappeda Provinsi, serta Bappenas untuk penyusunan doumen perencanaan pada tingkat nasional.
Disamping aspek teknis, ada aspek-aspek non teknis yang mendasari perencanaan pembangunan pemerintah. Penyuluhan pertanian dalam hal ini harus mendukung suksesnya program pembangunan pertanian mengingat penyuluh pertanian pada dasarnya adalah aparatur pemerintah yang berkewajiban mensukseskan setiap program pemerintah.
Adanya program ini didasarkan adanya suatu masalah yang dijumpai di wilayah tersebut. Program tersbeut akan mencoba menjawab masalah wilayah tersebut.
Disamping itu, program pembangunan yang dicanangkan pemerintah pasti disertai berbagai dukungan fasilitas, mulai dari sumber dana, metode terstandar, material, yang kesemuanya akan memudahkan kerja penyuluhan pertanian.

B. Potensi wilayah terhadap bidang pertanian
Potensi wilayah merupakan kondisi agroklimat yang meliputi, iklim, ketersediaan air dan kesuburan tanah, yang mendukung dalam usaha pertanian. Potensi wilayah perlu dikembangkan sebagai salah satu sasaran programa penyuluhan pertanian karena berisi data-data kecocokan agroklimat dengan potensi pertanian di suatu wilayah. Potensi lahan diharapkan dapat menampung program-program penyuluhan pertanian tentang komoditas-komoditas yang cocok dibudidayakan di wilayah tersebut.
Penyusunan programa pertanian dengan berpedoman pada potensi wilayah tentu saja diprioritaskan pada komoditas pertanian yang sudah dibudidayakan oleh masyarakat tani. Walaupun demikian, dari metode ini diharapkan dapat ditemukan komoditas potensial suatu wilayah yang belum diupayakan oleh petani tetapi memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan, utamanya dari aspek teknis, aspek ekonomi dan aspek sosial. Disamping itu, analisis potensi wilayah ini juga dapat dipergunakan untuk mengetahui komoditas pertanian yang sudah terlanjur dibudidayakan oleh masyaArakat tetapi tidak memiliki kecocokan agroklimat dengan wilayah tersebut.

C. Aspirasi Petani
Aspirasi petani menjadi hal baru yang terus dikembangkan pada programa penyuluhan pertanian partisipatif. Aspirasi petani dikembangkan guna mendapatkan masalah-masalah nyata petani dalam mengusahakan usaha taninya. Metode pengembangan aspirasi petani yang sedang dikembangkan adalah kajian participatory rural appraisal (PRA) guna mendapatkangambaran nyata tentang keadaan wilayah, kehidupan, kebiasaan, kecenderungan, kebutuhan, aspirasi, potensi dan masalah-masalah nyata

Sumber ; http://paknewulan.wordpress.com/2009/05/14/teknik-penyusunan-programa-penyuluhan/

Artilel ;

Penyusunan Programa Penyuluhan

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.008 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: