RDK/RDKK

November 8, 2009 pukul 9:34 am | Ditulis dalam Kualitas Air | Tinggalkan komentar

Teknik Penyusunan RDK dan RDKK

I. PENDAHULUAN

1. Dasar
Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 273/Kpts/Ot.160/4/2007 Tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. Lampiran 2 Pedoman Penyusunan Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK) Dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK)

2. Latar Belakang
Program utama pembangunan pertanian yaitu: Peningkatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. Kedua program tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan pangan menuju Ketahanan Pangan Nasional maupun daerah, melalui tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu serta merata dengan harga terjangkau oleh seIuruh lapisan masyarakat di tingkat rumah tangga. Ketahanan pangan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Untuk mewujudkan program ketahanan pangan tersebut, khususnya penyediaan pangan, perlu disusun rencana/sasaran setiap tahun. Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian melalui musyawarah menyusun Rencana Definitif Kelompok (RDK) yang merupakan rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk satu periode 1 (satu) tahun berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.

RDK hendaknya dijabarkan lebih lanjut oleh kelompok tani dalam suatu Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota kelompok tani yang memerlukan maupun dari swadana petani. Pesanan berupa RDKK yang disusun melalui musyawarah anggota kelompok tani hendaknya disampaikan kepada Gabungan kelompok tani, Perusahaan Mitra (distributor pupuk dan benih) serta Perbankan (khusus untuk keperluan kredit) selambat-Iambatnya 1 (satu) bulan sebelum Musim Tanam, sehingga teknologi dapat diterapkan sesuai anjuran.

Oleh karena itu penyusunan RDKK yang dilaksanakan oleh kelompok tani secara serentak dan tepat waktu merupakan kegiatan strategis, sehingga perlu suatu gerakan untuk mendorong petani/ kelompok tani menyusun RDKK.

Mekanisme penyusunan RDKK harus memperhatikan keinginan para petani, namun mengingat kemampuan petani dalam menyusun perencanaan masih terbatas, maka penyuluh pertanian perlu mendampingi dan membimbing petani/kelompok dalam menyusunnya, sehingga rencana yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.

3. Tujuan

Pedoman penyusunan RDK dan RDKK bertujuan:
1. Meningkatkan peran kelompok tani dalam menyusun rencana kegiatan usahatani berkelompok;
2. Meningkatkan peran penyuluh pertanian dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.

3. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai adalah :
1. Tersusunnya rencana kegiatan usahatani berkelompok yang baik sebagai pedoman anggota kelompok dalam melaksanakan kegiatan usahataninya,
2. Tersusunnya rencana kebutuhan sarana produksi pertanian dan permodalan sebagai pendukung kegiatan usahatani;
3. Terlaksana tugas dan fungsi penyuluh secara optimal dalam membimbing kelompok tani penyusunan rencana kegiatan usahatani berkelompok.

4. Kata Kunci

1. Rencana Definitif Kelompok (RDK), adalah rencana kerja usahatani dari kelompok tani untuk 1 (satu), yang disusun melalui musyawarah dan berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani;
2. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) adalah rencana kebutuhan kelompok tani untuk 1 (satu) musim tanam yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok tani, meliputi kebutuhan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta modal kerja, untuk mendukung pelaksanaan RDK yang dibutuhkan oleh petani yang merupakan pesanan kelompok tani kepada gabungan kelompok tani atau lembaga lain (distributor sarana produksi dan perbankan);
3. Penyuluhan Pertanian, adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup;
4. Penyuluh Pertanian PNS adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkuppertanian, perikanan, kehutanan untuk melakukan kegiatan penyuluhan;
5. Pertanian (mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan), adalah seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat;
6. Usaha tani, adalah usaha di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan;
7. Petani, adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang;
8. Pekebun, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha perkebunan;
9. Peternak, adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang melakukan usaha peternakan;
10. Kontak tani adalah ketua atau mantan ketua kelompok tani yang masih aktif sebagai anggota kelompok dan diakui kepemimpinannya dalam menggerakkan anggota/petani untuk mengembangkan usahanya;
11. Kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota;
12. Gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha;
13. Pemberdayaan Kelompok, merupakan upaya memfasilitasi kelompok untuk menggunakan potensi dan kreatifitasnya sendiri dalam mencapai tujuan mensejahterakan petani anggotanya;
14. Intensifikasi Pertanian adalah upaya pengamalan ilmu dan teknologi dalam usahatani untuk meningkatkan Produktivitas dan efisiensi dengan memanfaatkan1 potensi tanaman, lahan, daya dan dana secara terpadu serta mempertahankan kelestarian sumberdaya alam.

II. PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK (RDK) DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK (RDKK)

1. Tata Cara Penyusunan RDK dan RDKK
1.1 Rencana Definitif Kelompok
Rencana Definitif Kelompok sebagai rencana kegiatan kelompok tani untuk 1 (satu) tahun yang berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani.
Rencana defenitif kelompok disusun dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati rencana kegiatannya dalam pengelolaan usahatani antara lain ; pola tanam, sasaran areal tanam, sasaran produksi, sarana produksi dan permodalan, teknologi usahatani, jadwal kegiatan, pembagian tugas.
3. RDK dituangkan dalam bentuk format (terlampir) yang ditandatangani oleh ketua kelompok dan menjadi pedoman bagi anggota kelompok tani dalam menyelenggarakan kegiatan usahataninya.

1.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
RDKK sebagai dasar rencana pengadaan dan pelayanan dari GAPOKTAN. Dalam pelaksanaan penyusunan RDKK mengacu kepada RDK masing-masing kelompok dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDKK.
2. Pertemuan anggota kelompok tani dipimpin oleh Ketua Kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian untuk membahas, menyusun dan menyepakati daftar kebutuhan sarana produksi 6 tepat (tepat jenis, jumlah, waktu, tempat, harga dan mutu) yang akan dibiayai secara swadana maupun kredit dari tiap anggota kelompok tani. Daftar yang disusun akan berfungsi sebagai pesanan kelompok tani kepada GAPOKTAN. RDKK selesai paling lambat 1 bulan sebelum jadwal tanam.
3. Meneliti kelengkapan RDKK dan penandatanganan RDKK oleh Ketua kelompok tani yang diketahui oleh Penyuluh Pertanian.

2. Materi RDK dan RDKK
2.1 Rencana Definitif Kelompok (RDK)
Materi RDK meliputi:
1) Pola tanam dan pola usahatani yang disusun atas dasar pertimbangan :
a. Aspek teknis, meliputi; agroekosistem dan teknologi;
b. Aspek ekonomi, meliputi ; permintaan pasar, harga, keuntungan usahatani;
c. Aspek sosial, meliputi ; kebijakan pemerintah, kerja sama kelompok tani dan dukungan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
2) Sasaran areal tanam dan produksi didasarkan atas;
a. Potensi wilayah kelompok tani;
b. Produktivitas dari masing-masing komoditi;
c. Kebutuhan konsumsi anggota kelompok dan permintaan pasar.
3) Teknologi usahatani,
a. Ketersediaan teknologi;
b. Rekomendasi teknologi;
4) Sarana produksi dan permodalan, didasarkan atas;
a. Luas areal usahatani kelompok tani;
b. Teknologi yang akan diterapkan;
c. Kemampuan permodalan anggota kelompok tani;
5) Jadwal kegiatan, mengacu kepada rencana kegiatan usahatani;
6) Pembagian tugas disesuaikan dengan kesediaan dan kesepakatan kelompok.

2.2 Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)
Materi RDKK terdiri dari :
1) Jenis dan luas masing-masing komoditi yang diusahakan
2) Perhitungan kebutuhan:
a. benih
b. pupuk
c. pestisida
d. biaya garap dan pemeliharaan
e. biaya panen dan pasca panen
3) Jadwal penggunaan sarana produksi (sesuai kebutuhan lapangan)

Masing-masing kebutuhan tersebut ditentukan jumlah maupun nilai uangnya dan diperinci yang akan dibiayai secara swadana dan kredit.

III. MEKANISME PELAKSANAAN RDKK

1. Mekanisme Pengajuan RDKK
Proses pengajuan RDKK baik swadana maupun kredit dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) RDKK yang telah disusun dibuat rangkap 3 (tiga), Lembar pertama disampaikan kepada GAPOKTAN sebagai pesanan sarana produksi pertanian dan permodalan, lembar ke-2 sebagai arsip penyuluh dan lembar ke-3 untuk arsip kelompok tani;
2) GAPOKTAN mengkompilasi RDKK dari kelompok tani dan menyampaikan hasilnya ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan;
3) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan melakukan verifikasi terhadap kompilasi RDKK dari GAPOKTAN sebelum diteruskan ke KPPKP atau Dinas Pertanian, apabila terdapat ketidaklengkapan RDKK tersebut dikembalikan ke GAPOKTAN untuk dilakukan perbaikan. Selanjutnya Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan meneruskan RDKK yang telah diverifikasi ke KPPKP atau Dinas Pertanian rangkap 2 (dua);
4) KPPKP atau Dinas Pertanian meneruskan setiap RDKK yang disampaikan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan ke unit pelayanan sarana produksi dan permodalan (distributor sarana produksi dan perbankan) setelah disetujui Pelaksana Kegiatan di KPPKP atau Dinas Pertanian. Disamping itu KPPKP atau Dinas Pertanian mengkompilasi RDKK yang telah masuk.

2. Mekanisme Penyaluran Sarana Produksi Pertanian dan Permodalan
2.1 Sarana Produksi Pertanian
Penyaluran sarana produksi dilakukan oleh distributor yang ditunjuk, langsung ke GAPOKTAN dengan tahapan sebagai berikut:
1) Atas dasar kompilasi RDKK yang diterima dari POSKO III, distributor menyusun rencana dan jadwal penyaluran sarana produksi dan selanjutnya dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) GAPOKTAN menginformasikan rencana dan jadwal penyaluran yang telah disepakati ke masing-masing POKTAN;
3) Atas dasar informasi GAPOKTAN, POKTAN menyiapkan anggotanya untuk menerima sarana produksi sesuai jadwal ditetapkan dan memenuhi kreteria 6 (enam) tepat.
Apabila Gapoktan belum mampu sebagai penyalur saprodi dapat bekerja sama dengan kios resmi yang sudah ada.

2.2 Permodalan
1) Penyalur kredit yang ditunjuk (perbankan) memverifikasi RDKK yang diterima dari POSKO III selanjutnya menyusun rencana dan jadwal pencairan kredit yang dikonfirmasikan ke GAPOKTAN;
2) Penyaluran dana kredit melalui GAPOKTAN, untuk selanjutnya menyelesaikan transaksi pengadaan sarana produksi dengan distributor. Dana kredit di luar sarana produksi diserahkan langsung kepada anggota kelompok melalui kelompok tani.

Teknis penyaluran sarana produksi dan permodalan diatur tersendiri bersama instansi terkait.

IV. GERAKAN PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RDK/ RDKK

1. Persiapan Penyusunan RDK dan RDKK
1) Sosialisasi manfaat dan kegunaan RDK bagi para petani, stakeholders lainnya untuk peningkatan dan pengembangan usaha tani;
2) Inventarisasi faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha tani di masing-masing wilayah;
3) Meningkatkan kemampuan pendamping ( penyuluh, kepala desa, tokoh masyarakat setempat);
4) Meningkatkan kemampuan anggota kelompok dalam menyusun RDK dan RDKK.

2. Pelaksanaan Gerakan RDK dan RDKK
1) Penyusunan RDK dilaksanakan secara serentak pada hari Krida Pertanian (Juni-Juli ) untuk perencanaan usaha tani musim tanam Oktober-Maret dan musim tanam April-September;
2) Penyusunan RDKK selesai dilaksanakan pada Bulan Agustus untuk kegiatan Musim Tanam Oktober-Maret dan Bulan Pebruari untuk kegiatan musim tanam April-September, kemudian disampaikan kepada GAPOKTAN;
3) Penyampaian RDKK ke GAPOKTAN sampai realisasi penyaluran sarana produksi dan kredit dilaksanakan dalam jangka waktu 1 bulan;
4) Penyaluran masing-masing jenis sarana produksi disesuaikan dengan kebutuhan lapangan;
5) Pelaksanaan kegiatan usaha tani dilaksanakan secara gerakan bersama dalam kelompok sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam RDK.

V. SUPERVISI DAN EVALUASI

1. Supervisi
Supervisi diselenggarakan secara terkoordinasi, berkala dan berkelanjutan, untuk memperlancar penyusunan RDK/RDKK serta gerakan-gerakannya mencapai sasaran yang diharapkan. Supervisi dilakukan secara bertingkat, yaitu :

1) Tim Supervisi Pusat melakukan supervisi ke Provinsi dalam rangka memantau sampai seberapa jauh penyusunan RDK/ RDKK dilaksanakan, permasalahan yang ada, serta saran pemecahannya di tingkat provinsi dan kabupaten/kota;
2) Tim supervisi provinsi melakukan supervisi ke kabupaten/kota dan kecamatan;
3) Tim supervisi kabupaten/kota melakukan supervisi ke kecamatan, desa dan kelompok tani;
4) Pembinaan gerakan penyusunan RDK/ RDKK dilakukan oleh :
a. Camat selaku Ketua Posko IV melakukan pembinaan agar gerakan penyusunan RDK/RDKK diwilayahnya berjalan lancar;
b. Anggota Posko IV lainnya membina GAPOKTAN yang ada diwilayah kerjanya sesuai Tupoksi masing-masing;
c. Penyuluh Pertanian membimbing penerapan teknologi usaha tani yang dianjurkan.

Tim supervisi di masing-masing tingkatan ditetapkan oleh Ketua POSKO.

2. Evaluasi dan Pelaporan
Evalusi dan pelaporan dilaksanakan secara berjenjang untuk mengetahui kemajuan dan permasalahan yang timbul dalam penyusunan serta pelaksanaan gerakan-gerakan RDK dan RDKK sebagai bahan perbaikan perencanaan dimasa yang akan datang.

Sumber : http://andhen09.blogspot.com/2010/07/teknik-penyusunan-rdk-dan-rdkk.html

Peta Wilker dan Monografi

November 8, 2009 pukul 9:25 am | Ditulis dalam Manajemen Pakan | 1 Komentar

KARAKTERISTIK LAHAN DAN IKLIM

KECAMATAN           KONGBENG

TAHUN   2011

KEADAAN   :

1.  PH. Tanah     Kemasaman antara 4,5 – 5

2.  Kemiringan lahan  Bergelombang kurang lebih 8 %

3.  Ketringgian tempat  60 m dari permukaan air laut

4.  Curah hujan perbulan  Bulan basah lebih dari 100 mm

Bulan kering kurang dari 10 mm

5.  Drainase     Buruk

TOPOGRAFI

Kecamatan Kongbeng memiliki tinggi kurang lebih 60 meter dari permukaan air laut, dengan topografi datar sampai bergelombang, kemiringan lahan kurang dari 8 %.

TANAH DAN IKLIM

Jenis tanah dikecamatan Kongbeng  umumnya didomonasi podsoloik merah kuning dengan PH antara 4,5  –  5 dengan tingkat kesuburan tanahnya sedang, dan kedalaman lapisan tanah atas kurang lebih20 cm.

Beriklim tropis basah dengan type i8 klim B, suhu udara berkisar 28oC sampai 35oC.

Curah hujan rata-rata setiap bulan  163,3 mm.

Bulan basah lebih dari 100 mm

Bulan kering kurang dari 10 mm

Keadaan drainase buruk.

KUALITAS AIR

Dari hasil monitoring lapangan dari Tim Seksi Kesehatan Ikan dan Lingkungan Kabupaten Kutai Timur pada tahun 2001 diperoleh data sebagai berikut Suhu: 25-30oC, pH: 6-5-7,5, Do (Disolved Oxygen), : 1,5-3 mg/l NH3 (Ammoniak) : 0,5 mg/l NO2 (Nitrit) : tidak terdeteksi, Kecerahan 15-20 cm dan Warna air Kecoklatan, Kuning Keruh dan agak hijau.

KOMODITAS PERIKANAN

Dari hasil monitoring lapangan diperoleh beberapa data komoditas perikanan air tawar yang banyak dikembangkan di kecamatan kongbeng antara lain Ikan Mas, Nila Hitam, Nila merah, Lele dumbo dan Patin yang banyak dikembangkan di Kolam tanah tadah hujan, Rawa, Embung dan sugai (Keramba).

LOKASI BUDIDAYA

Lokasi budidaya Ikan  dikecamatan kongbeng tersebar di beberapa Desa  melipiputi Desa Marga Mulia, Sidomulyo, Kongbeng Indah, Suka Maju, Makmur Jaya, Miau Baru, dan Sri Pantun sedangkan untuk perikanan tangkap hanya di desa Miau Baru.

INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN

Untuk sementara waktu industri penggolahan ikan secara rumah tangga belum ada

PASAR TRADISIONAL

Untuk pemasaran hasil perikanan terdapat di 2 lokasi di Desa Marga Mulia dan Wanasari adapun beberapa komoditas perikanan yang dipasarkan antara lain Ikan Mas, Nila, Lele, Patin, Gabus, Mujair, Baung, Tongkol, Kembung, Biji Nangka, Cumi, Kakap, Kepiting Udang Galah, Udang Windu, Kerang-kerangan sebagaian ikan didatangkan dari TPI Samarida, Bontang dan Berau dan di beberapa sentra budidaya dan penagkapan ikan  di Kecamatan Kong Beng.

Data Curah Hujan

November 8, 2009 pukul 9:18 am | Ditulis dalam Genetika Ikan | 1 Komentar

Konsep Minapolitan

November 8, 2009 pukul 9:12 am | Ditulis dalam AQUACULTURE | 2 Komentar

MINAPOLITAN

minapolitan merupakan bagian dari kawasan agropolitan. dimana berasal dari kata MINA dan POLITAN. mina = ikan. dan politan = kawasan.

KAWASAN AGROPOLITAN : Menurut UU Penataan Ruang No 26/2007, didefinisikan sebagai kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agribisnis.

KAWASAN MINAPOLITAN berdasarkan turunan kawasan Agropolitan : adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengeloaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem minabisnis.
Batasan Istilah dan Konsepsi Minapolitan

* Sentra pengembangan adalah suatu hamparan komoditas perikanan berskala ekonomi di suatu wilayah minaekosistem, dimana wilayah tersebut dilengkapi dengan sarana prasarana yang dibutuhkan, kelembagaan, pengolahan/pemasaran, dan sektor lain yang menunjang perkembangan dari sentra komoditas tersebut.

* Masterplan adalah rencana induk multi tahun komoditas ikan hias di kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, kegiatannya meliputi komoditas unggulan dan komoditas penunjangnya serta pembangunan kegiatan lainnya yang serasi dan dibutuhkan sehingga pembangunan minaekosistem dengan komoditas unggulannya akan dapat mencapai sasaran, yaitu kesejahteraan pembudidaya dan pertumbuhan ekonomi wilayah.
* Kawasan minapolitan (berdasarkan turunan dari kawasan agropolitan) adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dari hierarki keruangan satuan sistem pemukiman dan sistem minabisis. Minapolitan/agropolitan menurut Friedman dan Douglass (1985) adalah aktivitas pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah pedesaan denga jumlah penduduk antara 50.000 jiwa sampai dengan 150.000 jiwa.
* Komoditas andalan adalah sejumlah komoditas yang dapat dibudidayakan atau dikembangkan disuatu wilayah Kabupaten berdasarkan analisis kesesuaian aquaekologi (air, tanah dan iklim).
* Komoditas unggulan (misalnya ikan hias) adalah salah satu komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan di suatu wilayah yang mempunyai prospek pasar dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan pembudidaya ikan dan keluarga serta mempunyai potensi sumberdaya lahan yang cukup besar.
* Komoditas penunjang adalah komoditas-komoditas lain yang dapat dipadukan pengusahaannya dengan komoditas pokok (unggulan) yang dikembangkan di suatu lokasi atau sentra komoditas unggulan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, sarana/prasarana) dan peningkatan pendapatan pembudidaya ikan melalui peningkatan produksi maupun keterpaduan pengusahaannya akan meningkatkan efisiensi/saling memanfaatkan
* Minabisnis merupakan suatu kegiatan penanganan komoditas secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir (pengadaan dan penyaluran minainput, proses produksi, pengolahan, dan pemasaran).

Konsep Pengembangan Kawasan Minapolitan

Berdasarkan issue dan permasalahan pembangunan perdesaan yang terjadi, pengembangan kawasan minapolitan merupakan alternative solusi untuk pengembangan wilayah (perdesaan). Kawasan minapolitan disini diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki keruangan desa yakni dengan adanya pusat minapolitan dan desa-desa disekitarnya membentuk kawasan minapolitan. Disamping itu, kawsan minapolitan ini juga dicirikan dengan kawasan perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha minabisnis dipusat minapolitan yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan-kegiatan pembangun perikanan (minabisnis) diwilayah sekitarnya

Dalam pengembangannya, kawasan tersebut tidak bisa terlepas dari pengembangan sistem pusat-pusat kegiatan nasional (RTRWN) dan sistem pusat kegiatan pada tingkat propinsi (RTRW Propinsi) dan Kabupaten (RTRW Kabupaten). Hal ini disebabkan, rencana tata ruang wilayah merupakan kesepakatan bersama tentang pengaturan ruang wilayah. Terkait dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), maka pengembangan kawasan minapolitan harus mendukung pengembangan kawasan andalan. Dengan demikian, tujuan pembangunan nasional dapat diwujudkan.

Disamping itu pentingnya pengembangan kawasan minapolitan di Indonesia diindikasikan oleh ketersediaan lahan perikanan dan tenaga kerja yang murah, telah terbentuknya kemampuan (skill) dan pengetahuan (knowledge) di sebagian besar pembudidaya, jaringan (network) terhadap sektor hulu dan hilir yang sudah terjadi, dan kesiapan pranata (institusi). Kondisi ini menjadikan suatu keuntungan kompetitif (competitive advantage) Indonesia dibandingkan denga negara lain karena kondisi ini sangat sulit untuk ditiru (coping) (Porter, 1998). Lebih jauh lagi, mengingat pengembangan kawasan minapolitan ini menggunakan potensi local, maka konsep ini sangat mendukung perlindungan dan pengembangan budaya social local (local social culture).

Secara lebih luas, pengembangan kawasan minapolitan diharapkan dapat mendukung terjadinya sistem kota-kota yang terintegrasi. Hal ini ditunjukkan dengan keterkaitan antar kota dalam bentuk pergerakan barang, modal dan manusia. Melalui dukungan sistem infrastruktur transportasi yang memadai, keterkaitan antar kawasan minapolitan dan pasar dapat dilaksanakan. Dengan demikian, perkembangan kota yang serasi, seimbang, dan terintegrasi dapat terwujud.

Dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan secara terintegrasi, perlu disusun masterplan pengembangan kawasan minapolitan yang akan menjadi cuan penyusunan program pengembangan. Adapun muatan yang terkandung didalamnya adalah:

1. Penetapan pusat agropolitan/minapolitan yang berfungsi sebagai (Douglas 1986):

1. Pusat perdagangan dan transportasi perikanan (aquacultural trade/transport center).
2. Penyedia jasa pendukung perikanan (aquacultural support services).
3. Pasar konsumen produk non-perikanan (non aquacultural consumers market).
4. Pusat industry perikanan (aqua based industry).
5. Penyedia pekerjaan non perikanan (non-aquacultural employment).
6. Pusat minapolitan dan hinterlandnya terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi, dan kabupaten (RTRW Propinsi/Kabupaten).

2. Penetapan unit-unit kawasan pengembangan yang berfungsi sebagai (Douglas, 1986):

1. Pusat produksi perikanan (aquacultural production).
2. Intensifikasi perikanan (aquacultural intensification).
3. Pusat pendapatan perdesaan da permintaan untuk barang-barang dan jasa non-perikanan (rural income and demand for non-aquacultural goods and services).
4. Produksi ikan siap jual dan diversifikasi perikanan (cash fish production and aquacultural diversification).

3. Penetapan sektor unggulan:

1. Merupakan sektor unggulan yang sudah berkembang dan didukung oleh sektor hilirnya.
2. Kegiatan minabisnis yang banyak melibatkan pelaku dan masyarakat yang paling besar (sesuai dengan kearifan local).
3. Mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan untuk dikembangkan dengan orientasi ekspor.

4. Dukungan sistem infrastruktur

Dukungan infrastruktur yang membentuk struktur ruang yang mendukung pengembangan kawasan minapolitan diantaranya: jaringan jalan, irigasi, sumber-sumber air, dan jaringan utilitas (listrik dan telekomunikasi).

5. Dukungan sistem kelembagaan.

1. Dukungan kelembagaan pengelola pengembangan kawasan minapolitan yang merupakan bagian dari pemerintah daerah dengan fasilitasi pemerintah pusat.
2. Pengembangan sistem kelembagaan insentif dan disinsentif pengembangan kawasan minapolitan.

Melalui keterkaitan tersebut, pusat minapolitan dan kawasan produksi perikanan berinteraksi satu sama lain secara menguntungkan. Dengan adanya pola interaksi ini diharapkan untuk meningkatkan niali tambah (value added) produksi kawasan minapolitan sehingga pembangunan perdesaan dapat dipacu dan migrasi desa-kota yang terjadi dapat dikendalikan.
Pengembangan Wilayah

Perwilayahan atau regionalisasi adalah pembagian wilayah nasional dalam satuan geografi (atau daerah administrasi) sehingga setiap bagian mempunyai sifat tertentu yang khas (Gitlin dalam Jayadinata, 1991:174). Ini dimaksudkan pula untuk pemerataan pembangunan

Pengembangan wilayah atau regional planning adalah semua usaha yang dengan sadar merencanakan pengembangan daerah ditinjau dari berbagai segi sebagai satu kesatuan, yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan hubungan manusia dan alamnya (Nurzaman 19xx:2). Berbagai segi tersebut meliputi: ekonomi, sosial, maupun fisik. Sehingga hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh seorang regional planner ialah menyelaraskan struktur hubungan spasial dari suatu aktifitas ekonomi (Friedmann, 1966:39). Pengembangan wilayah antara lain ditujukan untuk:

1. Meningkatkan keserasian&keseimbangan antar pembangunan sektoral dengan regional
2. Meningkatkan keserasian & keseimbangan pembangunan antarwilayah,
3. Meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan dan
4. Meningkatkan keserasian hubungan antar pusat-pusat wilayah dengan hinterlandnya serta hubungan antara kota & desa (Muta’ali,1995).

Rondinelli (1985), mengungkapkan bahwa tingkat perkembangan wilayah (regional growth) dapat diukur dalam 3 indikator, yaitu:

1. Karakteristik sosio-ekonomi dan demografi, diukur melalui pendapatan perkapita, kebutuhan fisik (fasilitas) minimum, PDRB, investasi, jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, dan kepadatan penduduk.
2. Kontribusi industri dan produksi pertanian diukur melalui prosentase penyerapan tenaga kerja, jumlah perusahaan komersil, luas total lahan, produktivitas pertanian.
3. Transportasi, diukur melalui kualitas, kepadatan, tipe dan panjang jalan.

Menurut Soepono (1990:161), pertumbuhan wilayah dapat diukur dari indikator-indikator berikut ini; pertumbuhan penduduk, pendapatan perkapita atau PDRB, dan Perubahan struktur spasial wilayah. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengembangan wilayah merupakan perpaduan antara pengembangan spasial dan non spasial.
Penataan Ruang

Kegiatan penataan ruang, menurut UU No. 24 tahun 1992 tentang penataan ruang, meliputi keseluruhan proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pertimbangan utama dalam penataan ruang meliputi kriteria kawasan budidaya dan non budidaya dalam pemanfaatan lahan, kondisi sosial ekonomi wilayah dan ‘interest’ (minat sektor pembangunan, aspirasi daerah, kaitan antar wilayah dan lain sebagainya). Secara garis besar penataan ruang bertujuan menunjang:

1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional
2. Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya
3. Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: mewujudkan kehidupan bangsa yang sejahtera, mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia, meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas SDM; mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan

Bagian wilayah berupa ruang yang merupakan transisi antara ruang laut dan ruang darat lebih dikenal sebagai pesisir. Pengertian Pesisir menurut Jacub Rais (1996) adalah suatu konsep keruangan yang mana terjadi interaksi darat-laut, yang harus dibedakan dengan pantai, karena pantai adalah pengertian fisik sebagai bagian dari pesisir. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.10/Men/2003 tentang Pedoman Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai dan sepertiga dari wilayah laut untuk Kabupaten/Kota dan ke arah darat hingga batas administrasi Kabupaten/Kota.

Menurut Dahuri et.al.(2000:6), untuk kepentingan pengelolaan, batasan pesisir ke arah darat dapat ditetapkan menjadi 2 jenis, yaitu batasan untuk wilayah perencanaan (planning zone) dan wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day to day management). Apabila terdapat kegiatan pembangunan yang dapat menimbulkan dampak secara nyata (significant) terhadap lingkungan dan sumberdaya pesisir, maka wilayah perencanaan sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan (hulu). Jika suatu program pengelolaan wilayah pesisir menetapkan dua batasan wilayah pengelolaan (perencanaan dan pengaturan), maka wilayah perencanaan selalu lebih luas daripada wilayah pengaturan.

Berbagai aktifitas yang dapat dilakukan di pesisir dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah dan pembangunan ekonomi (Cicin-Sain dan Knetch:1998, dalam Sondita, 2001:9), meliputi:
Aktifitas Perwilayahan dan Ekonomi di Kawasan Pesisir
Fungsi Aktifitas
1. Perencanaan

Wilayah

* Pengkajian lingkungan pesisir dan pemanfaatannya
* Penentuan zonasi pemanfaatan ruang
* Pengaturan proyek-proyek pembangunan pesisir dan kedekatannya dengan garis pantai
* Penyuluhan masyarakat untuk apresiasi terhadap kawasan pesisir/ lautan
* Pengaturan akses umum terhadap pesisir dan lautan

2. Pembangunan Ekonomi

* Industri perikanan tangkap
* Perikanan rakyat
* Wisata massal dan ekowisata, wisata bahari
* Perikanan budidaya
* Perhubungan laut dan pembangunan pelabuhan
* Pertambangan lepas pantai
* Penelitian kelautan & Akses terhadap sumberdaya genetika

Sumber: Cicin-Sain dan Knetch : 1998

Perencanaan dan pengelolaan pesisir secara sektoral berkaitan dengan hanya satu macam pemanfaatan sumberdaya atau ruang pesisir oleh satu instansi pemerintah untuk memenuhi tujuan tertentu, seperti perikanan tangkap, tambak, pariwisata, atau industri minyak dan gas (Dahuri et.al., 2001:11), pengelolaan semacam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar sektor yang berkepentingan untuk melakukan aktifitas pembangunan pada wilayah pesisir yang sama. Konflik yang sering terjadi di wilayah pesisir dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Konflik di antara pengguna yang mengenai pemanfaatan daerah pesisir dan laut tertentu. Menurut Miles (1991, dalam Prihartini et.al. 2001:24), konflik antar pengguna meliputi: (a) Kompetisi terhadap ruang dan sumberdaya pesisir dan laut (b) Dampak negatif dari suatu kegiatan pemanfaatan terhadap kegiatan yang lain, (c) Dampak negatif terhadap ekosistem
2. Konflik di antara lembaga pemerintah yang melaksanakan program yang berkaitan dengan pesisir dan laut; yang disebabkan oleh ketidakjelasan mandat hukum dan misi yang berbeda, perbedaan kapasitas, perbedaan pendukung atau konstituensi, serta kurangnya komunikasi dan informasi (Cicin-Sain, 1998).

Adapun sebagai upaya menghindari terjadinya konflik pemanfataan ruang pesisir maka diperlukan prinsip-prinsip penataan ruang pesisir (Anonim, 2003:4), sebagai berikut:

1. Penataan ruang wilayah pesisir perlu menetapkan batas-batas daerah pengembangan di lautan dengan prinsip menjamin pemanfaataan yang berkelanjutan, terutama bagi ekosistem yang memiliki dampak luas dan penting bagi ekosistem laut lainnya, serta memberi kesempatan pemulihan area yang telah rusak.
2. Mengakomodasi berbagai kepentingan yang berbeda dalam satu daerah pantai dan pesisir secara bersinergi satu dengan lainnya, tanpa ada satu pihak yang dirugikan.
3. Dalam rangka pengembangan dan penataan ruang wilayah pesisir diperlukan keterpaduan program, baik lintas sektor maupun daerah. Dalam kerangka tersebut, pelaksanaan pembangunan yang konsisten dengan rencana tata ruang yang telah disusun sangat mendukung terwujudnya keterpaduan pelaksanaan pembangunan.
4. Perlu diarahkan untuk menyediakan ruang yang memadai bagi kegiatan masyarakat pesisir yang spesifik, yakni pemanfaatan sumberdaya di laut. Strategi pembangunan yang terlalu berorientasi pada kegiatan darat dalam mengejar pertumbuhan ekonomi selama ini terbukti tidak mampu meningkatkan kesejahteraan , namun menjadikan masyarakat pesisir semakin terpinggirkan.

Oleh karena itulah, dibutuhkan perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Menurut Dahuri et.al. (2001:11), perencanaan terpadu dimaksudkan untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan berbagai aktifitas dari dua atau lebih sektor dalam perencanaan pembangunan dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan.
Perikanan

Subsektor perikanan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru perekonomian Indonesia mengingat prospek pasar, baik dalam negeri maupun internasional cukup cerah (Parwinia, 2001:1).

Menurut Soselisa (2001:5), perikanan didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau budidaya hewan atau tanaman air yang hidup bebas di laut atau perairan umum. Adapun menurut Mubyarto (1984:23), yang dimaksud dengan perikanan ialah segala usaha penangkapan, budidaya ikan serta pengolahan sampai pemasaran hasilnya. Sedangkan menurut UU No 9 tahun 1985, perikanan ialah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan yaitu kegiatan ekonomi bidang penangkapan/pembudidayaan ikan.

Klasifikasi Ikan didalam UU No 9 tahun 1985 adalah: Pisces (ikan bersirip), crustacea (udang, kepiting, dan sebangsanya), Mollusca (kerang, cumi-cumi, dsb), Echinodermata (teripang, bulu babi dsb), Amphibi (kodok, dsb), Reptilia (buaya, penyu,dsb), Mammalia (paus, pesut, dsb), Algae (rumput laut dan tumbuhan lain yang hidup di air), dan biota perairan lain yang berkaitan dengan jenis-jenis diatas. Untuk kepentingan pengelolaan (Anonim, 2001:II-38), ikan laut digolongkan sebagai berikut:

a) Ikan Karang,

b) Rumput Laut,

c) Ikan Hias, misalnya: Napoleon,

d) Ikan Demersal, ialah kelompok ikan yang hidup dan mencari makan di dasar laut/perairan, seperti: kakap, pari

e) Ikan Pelagis Kecil, ialah ikan yang hidup dan mencari makan di laut bagian atas dekat dengan permukaan, meliputi: layang, teri, tembang, lemuru, dan belanak,

f) Ikan Pelagis Besar, umumnya termasuk kategori ikan ekonomis penting, diantaranya tuna, tongkol, cucut, dan layangan, serta

g) Krustasea, meliputi: udang peneaid, lobster, kerang, Cumi-Cumi

Ikan merupakan sumberdaya alam yang bersifat renewable atau mempunyai sifat dapat pulih/dapat memperbaharui diri. Disamping renewable, menurut Widodo dan Nurhakim (2002), sumberdaya ikan mempunyai sifat ’open access’ dan ’common property’, artinya pemanfaatan bersifat terbuka oleh siapa saja dan kepemilikannya bersifat umum. Sifat ini menimbulkan beberapa konsekuensi, antara lain: tanpa adanya pengelolaan akan menimbulkan gejala eksploitasi berlebihan (over exploitation/overfishing), investasi berlebihan (over investment) dan tenaga kerja berlebihan (over employment). Sebagai komoditi ekonomi, sifat komoditi perikanan dapat diuraikan:

1. Jumlah dan kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah karena sangat tergantung pada keadaan cuaca dalam tahun yang bersangkutan (Hanafiah, 1986:4)
2. Lokal dan spesifik, tidak dapat diproduksi di semua tempat (Soekartawi, 1999:177)
3. Perputaran modal cepat
4. Jumlahnya banyak tetapi nilainya relatif sedikit/bulky (Soekartawi, 1999:177)
5. Mudah rusak (perishable) dan resiko tinggi sehingga jika pemasarannya tidak cepat sampai ke konsumen harga ikan bisa turun drastis (Rahardi et.al, 2001:14).

Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan sub-subsektor perikanan (Setyohadi, 1997:33), diantaranya:

1. Nelayan,
2. Tengkulak Ikan atau pedagang pengumpul,
3. Koperasi Perikanan,
4. Pengusaha Perikanan,
5. Konsumen Ikan, dan
6. Departemen Kelautan dan Perikanan Khususnya Direktorat Jenderal Perikanan ditingkat nasional dan propinsi serta Dinas Perikanan dan Kelautan di Kabupaten/Kota,

Departemen Pertanian (1985) merumuskan bahwa perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perikanan ditempuh melalui empat usaha pokok yaitu:

1. Ekstensifikasi, yakni upaya peningkatan produksi perikanan/perairan melalui perluasan/ penambahan sarana produksi dan/atau areal baru meliputi perluasan daerah penangkapan ikan (fishing ground) bagi usaha penangkapan ikan (Anonim, 2001:xx)
2. Intensifikasi, yang diarahkan untuk mencapai produktifitas yang optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya perikanan,
3. Diversifikasi, merupakan upaya penganekaragaman usaha perikanan dan pengembangan industri pengolahan, dan
4. Rehabilitasi, meliputi perbaikan sarana/prasarana penunjang sumberdaya perikanan.

Empat usaha tersebut diupayakan secara terpadu, disesuaikan dengan kondisi sumberdaya, kebutuhan masyarakat serta memperhatikan pola tata ruang dan pembangunan sektor/subsektor lain (F.X. Murdjijo, 1997:15).

Dalam pelaksanaan pembangunan perikanan terdapat syarat mutlak dan syarat pelancar (Mosher, 1986 dalam Aisyah, 2003:17). Syarat mutlak merupakan syarat yang harus ada agar pembangunan perikanan berjalan lancar, jika salah satu syarat tersebut dihilangkan maka pelaksanaan pembangunan perikanan akan terhenti (kegiatan perikanan dapat berjalan namun sifatnya statis). Syarat mutlak (Banoewidjoyo, 1987 dalam Aisyah, 2003:17) adalah:

1. Adanya pasar hasil perikanan dan jalur pemasaran yang pendek,
2. Perkembangan teknologi perikanan,
3. Tersedianya bahan dan alat produksi secara lokal,
4. Adanya perangsang produksi bagi nelayan, serta
5. Tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinyu untuk hasil perikanan.

Sedangkan yang termasuk syarat pelancar, diantaranya:

1. Pelaksanaan pendidikan pembangunan,
2. Pemberian kredit dan sarana produksi,
3. Kegiatan gotong-royong dikalangan petani ikan,
4. Perbaikan dan perluasan lahan untuk kegiatan perikanan

Perikanan tangkap adalah kegiatan ekonomi yang mencakup penangkapan atau pengumpulan hewan dan tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas (Soselisa, 2001:2). Menurut UU No. 19 tahun 1985 tentang Perikanan, penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, menangkap, mengumpulkan, menyimpan, mengolah atau mengawetkannya.

Perikanan tangkap menggunakan peralatan utama kapal yang dilengkapi dengan alat tangkap, baik kapal bermotor maupun non motor. Alat tangkap yang biasanya digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di perairan Indonesia diantaranya:

1. Long line,
2. Pole and Line;
3. Jaring insang hanyut (Drift Gill Net);
4. Pukat cincin (Purse Seine) atau jaring lingkar.

Konsep Pengembangan Kegiatan Fungsional Perikanan (Agribisnis Perikanan)

Dalam PROPENAS, strategi yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan serta produksi perikanan Indonesia adalah penerapan sistem agribisnis terpadu berkelanjutan di bidang perikanan. Untuk mewujudkan usaha tersebut, kebijakan yang ditempuh adalah :

1. Meningkatkan keterkaitan antara subsistem sehingga setiap kegiatan pada masing-masing subsistem dapat berjalan secara berkelanjutan dengan tingkat efisiensi tinggi.
2. Pengembangan agribisnis harus mampu meningkatkan aktifitas pedesaan.
3. Pengembangan agribisnis diarahkan pada pengembangan mitra usaha antara skala besar dan skala kecil secara serasi, sehingga nilai tambah dari kegiatan agribisnis dapat dinikmati secara adil oleh seluruh pelakunya.
4. Pengembangan agribisnis dilakukan melalui pengembangan sentra produksi perikanan dalam suatu skala ekonomi yang efisien.

Pembangunan nasional berwawasan agribisnis perlu difasilitasi sedikitnya oleh dua strategi dasar yaitu:

(1) Pendekatan agropolitan dalam pengembangan agribisnis, dan

(2) Restrukturisasi dan konsolidasi agribisnis.

Secara konsepsional, sistem agribisnis dapat diartikan sebagai semua aktifitas mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh produsen primer dan agroindustri, yang saling terkait satu sama lain (Parwinia, 2001:7). John Davis dan Ray Goldberg (1957) yang merupakan salah satu pencetus konsep agribisnis mendefinisikannya sebagai berikut: “Agribusiness is the sum total of all operations involved in the manufacture and distributions of farm supplies; production operations on the farm; and the storage, processing and distribution of farm commodities and items made from them”. Secara skematis Agribisnis dapat dilihat pada gambar 2.1.

Menurut Soekartawi (1993, dalam Winarta, 2003:9), yang dimaksud dengan agribisnis perikanan adalah suatu kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan, hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan perikanan atau kegiatan usaha yang menunjang perikanan. Sebagai sebuah sistem, kegiatan agribisnis tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Terputusnya salah satu bagian akan menyebabkan timpangnya sistem tersebut.

Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem hulu, usahatani, hilir, dan penunjang (Syahrani, 2001:4). Menurut Saragih (1998), batasan agribisnis adalah sistem utuh dan saling terkait di antara seluruh kegiatan ekonomi yang terkait langsung dengan pertanian. Menurut Muslich (1999, dalam Winarta, 2003:9).

Konsep pembangunan ekonomi agribisnis perikanan meliputi empat subsistem, yakni:

1. Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribussiness), yaitu kegiatan industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana produksi primer seperti alat tangkap, kapal, dan lain sebagainya.
2. Subsistem usaha tani (on-farm agribussiness), yakni kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi perikanan primer, yakni kegiatan penangkapan dan pembudidayaan ikan.
3. Subsistem agribisnis hilir (down-stream agribussiness), yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditi perikanan menjadi produk olahan, pemasaran dan distribusinya, dan
4. Subsistem penunjang kegiatan perikanan (agrosupporting institutions).

Pada pembahasan berikut akan dideskripsikan kegiatan yang berlangsung pada masing-masing subsistem tersebut:

1. Subsistem Agribisnis Hulu, Meliputi kegiatan perencanaan produk, perencanaan lokasi usaha, perencanaan standar produksi, dan pengadaan tenaga kerja, pengadaan dan penyaluran sarana produksi berupa kapal dan alat tangkap,dll (Rahardi et.al., 2001:6)
2. Subsistem Agribisnis Usahatani, merupakan kegiatan penangkapan ikan di laut atau perairan lain pada perikanan tangkap dan kegiatan yang dimulai dari pembesaran/ pemeliharaan, pemberian pakan dan pemupukan, pengaturan air, pengendalian hama dan penyakit, sampai dengan panen pada perikanan budidaya (Ditjen Perikanan,1994).
3. Subsistem Agribisnis Hilir mencakup segala kegiatan pengolahan pasca produksi primer (penangkapan) hingga ke pemasaran. Industri hasil perikanan (fish processing industry), yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pengolahan hasil laut, seperti pengalengan, pengeringan, pembekuan dan sebagainya. Jenis industri ini disebut sebagai industri sekunder. Pengemasan (packing) juga termasuk dalam rangkaian kegiatan pengolahan dan agroindustri.

Menurut Kristiawati (2001), berdasarkan jenis pengolahan yang dilakukan agroindustri perikanan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yakni:

1. Industri primer, yang mencakup industri penanganan ikan hidup, penanganan ikan segar (fillet, sashimi, loins), industri pembekuan dan pendinginan ikan.
2. Industri Pengolahan sekunder, mencakup industri pengolahan ikan kaleng dan ikan kemasan lainnya serta industri pengolahan tradisional seperti pengasinan, penggaraman, pindang, dsb.
3. Industri pengolahan tersier, meliputi setiap bentuk industri yang menggunakan ikan sebagai bahan tambahan, seperti indutri terasi, petis, abon, tepung ikan,dsb.

Syaiful (2003:4) menggolongkan Industri Hasil Perikanan (IHP) yang dapat dikembangkan di wilayah pesisir, meliputi : Industri penanganan ikan hidup, Industri penanganan ikan segar, Industri pembekuan ikan, Industri pengalengan ikan, Industri pengolahan tradisional, Industri pengolahan produk diversifikasi dan hasil samping, Industri tepung ikan dan pakan ternak, Industri rumput laut. Www.belitungisland.com dalam studi profil investasi pulau Belitung menstratifikasi agroindustri berbasis perikanan dalam kelompok berikut ini :

Standar Kapasitas Produksi Agroindustri Perikanan
Jenis Agroindustri Skala Kapasitas produksi
Musim Barat Musim Timur Rata-rata
Industri Pembekuan

Ikan (cold storage)
Kecil 100 kg/hari 10 ton/hari -
Industri Penangkapan

&Pendinginan Ikan
Kecil – – 15 ton/hari
Industri Pengasinan

Ikan
Kecil – – 500 ton/thn
Industri Pengalengan

Ikan
Kecil – -100.000 ton/thn

Sumber: http://www.belitungisland.com

Penawaran hasil perikanan bersumber dari produksi, kelebihan stok dan impor (Parwinia:2003). Untuk hasil perikanan seperti shellfish yang sifatnya cepat rusak, hanya dapat disimpan selama beberapa jam setelah panen/penangkapan kecuali disimpan dalam keadaan dingin (refrigated condion), maka produksi merupakan sumber penawaran terpenting (Hanafiah et.al., 1986:80). Menurut Rahardi et.al (2001:4), sasaran pemasaran komoditi perikanan berkaitan erat dengan tiga variabel, yakni: Jenis ikan yang dipasarkan, Konsumen yang dituju, dan Jumlah permintaan konsumen.

Pasar domestik diisi oleh permintaan komoditi perikanan oleh masyarakat untuk konsumsi harian (Nikijuluw,1997:280), dan kebutuhan industri pengolahan yang melayani konsumen domestik, baik yang sifatnya industri rumah tangga maupun industri skala menengah dan besar. Produk dari agroindustri maupun dari nelayan kemudian dipasarkan mengikuti rantai pemasaran tertentu. Menurut Hanafiah (1986:28), panjang pendeknya saluran tata niaga yang dilalui oleh suatu komoditi perikanan tergantung pada beberapa faktor, yakni:

1. Jarak antara produsen dan konsumen,
2. Cepat tidaknya produk rusak,
3. Skala produksi,
4. Modal pengusaha.
5. Subsistem Agribisnis Penunjang kegiatan perikanan (agrosupporting institutions), merupakan kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis seperti perbankan, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, transportasi. Salah satu subsistem penunjang yang memiliki peran signifikan ialah organisasi nelayan.

Keterkaitan Fungsional dalam Pengembangan Kegiatan Perikanan

Secara sektoral, perkembangan wilayah terjadi melalui satu atau beberapa pertumbuhan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan kegiatan ekonomi akan merangsang diversifikasi kegiatan ekonomi lainnya, terutama kegiatan sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage). Perkembangan wilayah melibatkan hubungan berbagai kegiatan dalam perekonomian daerah yang luas. Berbagai rangkaian kegiatan memberikan peluang-peluang produksi dari suatu kegiatan ke kegiatan lain di dalam perekonomian daerah, sehingga mengakibatkan pertumbuhan atau kemunduran wilayah (Hoover,1977 :37). Rangkaian ini dapat berupa keterkaitan hulu dan hilir. Berbagai teori tentang pendorong pertumbuhan daerah menekankan peranan permintaan output-output daerah dan rangkaian kegiatan atau sektor ekonomi yang mengarah ke muka (keterkaitan hilir).

Konsep teori kutub pertumbuhan menekankan perlunya industri utama (leading industri) dikembangkan disuatu wilayah dan memiliki kaitan-kaitan antar industri yang kuat dengan sektor-sektor lain. Kaitan-kaitan ini dapat berbentuk (Glasson,1977:174):

1. Kaitan ke depan (forward linkage), dalam hal ini industri tersebut mempunyai rasio penjualan hasil industri antara yang tinggi terhadap penjualan total
2. Kaitan ke belakang (backward linkage), dalam hal ini industri tersebut mempunyai rasio yang tinggi terhadap input.

Teori kutub pertumbuhan sangat bertumpu pada kedua kaitan ini karena berperan dalam penjalaran pertumbuhan dari sektor utama ke sektor pendukung yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dalam wilayah maupun pertumbuhan ekonomi wilayah lain.

Di Indonesia, setelah diberlakukannya konsep otonomi daerah dengan kebijakan pembangunan ekonomi yang bottom-up, sektor-sektor ekonomi yang dikembangkan di setiap daerah harus dapat mendayagunakan sumberdaya yang terdapat atau dikuasai oleh masyarakat di daerah tersebut. Cara yang paling efektif untuk membangkitkan pengembangan sektor ekonomi berbasis kegiatan sumberdaya alam di Indonesia adalah melalui pengembangan agribisnis, yang tidak saja mencakup pengembangan pertanian primer (on farm agribusiness) tetapi juga mencakup industri yang menghasilkan sarana produksi (up stream agribusiness) dan industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer dan kegiatan perdagangannya (down-stream agribusiness).

Keterkaitan yang harmonis antara sub-subsistem agribisnis perikanan mutlak dibutuhkan untuk mencapai tingkat produktifitas dan nilai jual yang tinggi pada komoditi perikanan (Anonim, 2002:2). Menurut Sadjad (2003:1), sebagai sebuah pola sistem, agribisnis merupakan sebuah entitas yang ditopang oleh subsistem yang diantara satu sama lainnya terjalin hubungan saling ketergantungan yang agregatif dan berfungsi untuk mencapai seluruh target sistem, bukan sekedar target masing-masing subsistem. Antar subsistem terjadi “harmonious orderly interaction” dan agribisnis yang dibangun merupakan bentuk “social economic organization” yang berorientasi bisnis.

Hirchman mengemukakan bahwa dalam kegiatan produksi mekanisme perangsang pembangunan yang tercipta merupakan akibat adanya hubungan antar berbagai industri (sektor) dalam menyediakan barang-barang yang digunakan sebagai bahan mentah bagi industri (sektor) lain. Interaksi ini terdiri atas pengaruh hubungan ke belakang (backward linkages) atau keterkaitan hulu, dan pengaruh hubungan ke depan (forward linkage) atau keterkaitan hilir. Pengaruh keterkaitan hulu adalah tingkat rangsangan yang ditimbulkan oleh industri terhadap perkembangan industri/sektor lain yang akan menyediakan input bagi industri tersebut. Sedangkan pengaruh keterkaitan hilir adalah tingkat rangsangan yang ditimbulkan oleh suatu industri terhadap perkembangan industri yang menggunakan output industri pertama sebagai inputnya.
Aspek Lingkungan dalam Pengembangan Kegiatan Perikanan

Dalam mewujudkan sistem agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan ada dua isu lingkungan yang perlu dijawab: Pertama, Meningkatkan tuntutan masyarakat global akan produk agribisnis yang memenuhi atribut ramah lingkungan (eco-labelling) dan aman dikonsumsi (food safety). Kedua, Kurang diperhatikannya aspek lingkungan ke dalam kegiatan agribisnis di Indonesia sehingga mengakibatkan: Penurunan produktivitas sumberdaya alam; meningkatnya biaya input dan proses agribisnis untuk memenuhi standar mutu pasar; dan terancamnya keberlanjutan kegiatan agribisnis dalam jangka panjang.

Oleh karena itulah, Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dalam kebijakan dan program pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian 2001-2004 merumuskan Program Pengembangan Agribisnis Berwawasan Lingkungan (Eco-agribusiness). Program ini tersusun dari sub-program pengembangan Eco-Agroindustri, Eco-Farming dan Organic-Farming, yang saling mendukung dan secara keseluruhan merupakan implementasi dari kebijakan dan strategi yang difokuskan pada pengembangan instrumen sistem pengelolaan lingkungan untuk mewujudkan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Program pengembangan Eco-agribisnis menyangkut seluruh rangkaian kegiatan agribisnis, baik agribisnis hulu (up-stream agribusiness), usahatani (on-farm agribusiness), maupun hilir (down-stream agribusiness). Sasaran program ini adalah: Meningkatnya daya saing dan kualitas produk agribisnis karena memenuhi atribut eco-labelling dan food safety yang dituntut konsumen sehingga memacu ekspor; Berkembangnya usaha baru (terutama mikro,kecil dan menengah) dan kesempatan kerja produktif di subsistem hulu/hilir yang mendukung pengembangan eco-agribusiness Terpeliharanya kualitas dan produktivitas SDA sehingga menjamin pengembangan agribisnis berkelanjutan dalam jangka panjang; Meningkatnya efisiensi, efektivitas dan produktivitas proses produksi karena penerapan instrumen pengelolaan lingkungan, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam memelihara produktivitas sumberdaya alam sehingga menjamin pengembangan agribisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang pengelolaan sumberdaya perikanan umumnya didasarkan pada konsep “hasil maksimum yang lestari” (Maximum Sustainable Yield/MSY). Inti dari konsep ini adalah menjaga keseimbangan biologi dari sumberdaya ikan, agar dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam waktu yang panjang. Menurut Suyasa (2003:3), konsep MSY berorientasi pada sumberdaya (resource oriented) yang lebih ditujukan untuk melestarikan sumberdaya dan memperoleh hasil tangkapan maksimum, dan belum berorientasi pada perikanan secara keseluruhan (fisheries oriented), apalagi berorientasi pada manusia (social oriented) dan ekonomi.

Pemikiran dengan memasukan unsur ekonomi didalam pengelolaan sumberdaya ikan, telah menghasilkan pendekatan baru yang dikenal dengan Maximum Economic Yield (MEY). Pendekatan ini pada intinya adalah mencari titik yield dan effort yang mampu menghasilkan selisih maksimum antara total revenue dan total cost. Hasil kompromi 2 pendekatan tersebut melahirkan konsep Optimum Sustainable Yield (OSY). Secara umum konsep ini dimodifikasi dari konsep MSY, sehingga menjadi relevan baik dilihat dari sisi ekonomi, sosial, lingkungan dan faktor lainnya. Dengan demikian, besaran dari OSY adalah lebih kecil dari MSY dan besaran dari konsep inilah yang kemudian dikenal dengan Total Allowable Catch (TAC). Di Indonesia, konsep TAC diaplikasikan dengan nama JTB atau Jumlah Tangkapan diperbolehkan yang diatur dalam SK Mentan No. 995/Kpts/IK.210/ 9/1999. JTB adalah banyaknya sumberdaya ikan yang boleh ditangkap dengan memperhatikan pengamanan konservasinya di wilayah perikanan Indonesia. Penetapan jumlah JTB disuatu kawasan penangkapan ikan (fishing ground) sebesar 80% dari MSY.

sumber : ferrianto djais,DKP.2009


Probiotik & Bioremidiasi

November 8, 2009 pukul 9:07 am | Ditulis dalam BIOTEK AKUAKULTURE | Tinggalkan komentar

BIOTEKNOLOGI

dari berbagai sumber


Istilah bioteknologi untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Karl Ereky, seorang insinyur Hongaria pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan menggunakan bit gula sebagai sumber pakannya (Suwanto, 1998). Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi’ yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa.

Dengan definisi tersebut bioteknologi bukan merupakan sesuatu yang baru. Tanaman dan hewan telah didomestifikasi sejak ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang kita telah memanfaatkan mikroba untuk membuat produk-produk berguna seperti tempe, oncom, tape, arak, terasi, kecap, yogurt, dan nata de coco . Hampir semua antibiotik berasal dari mikroba, demikian pula enzim-enzim yang dipakai untuk membuat sirop fruktosa hingga pencuci pakaian. Dalam bidang pertanian, mikroba penambat nitrogen telah dimanfaatkan sejak abab ke 19. Mikroba pelarut fosfat telah dimanfaatkan untuk pertanian di negara-negara Eropa Timur sejak tahun 1950-an. Mikroba juga telah dimanfaatkan secara intensif untuk membersihkan dan mendekomposisi limbah dan kotoran selama berpuluh-puluh tahun. Dalam bidang medis, vaksin-vaksin tertentu dibuat dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan. Bioteknologi memiliki gradien perkembangan teknologi, yang dimulai dari penerapan bioteknologi tradisional yang telah lama dan secara luas dimanfaatkan, hingga teknik-teknik bioteknologi baru dan secara terus menerus berevolusi (Gambar 1).

Gambar 1. Gradien Bioteknologi (dimodifikasi dari Doyle dan Presley, 1996).

Perkembangan bioteknologi secara drastis terjadi sejak ditemukannya struktur helik ganda DNA dan teknologi DNA rekombinan di awal tahun 1950-an. Ilmu pengetahuan telah sampai pada suatu titik yang memungkinkan orang untuk memanipulasi suatu organisme di taraf seluler dan molekuler. Bioteknologi mampu melakukan perbaikan galur dengan cepat dan dapat diprediksi, juga dapat merancang galur dengan bahan genetika tambahan yang tidak pernah ada pada galur asalnya. Memanipulasi organisme hidup untuk kepentingan manusia bukan merupakan hal yang baru, bioteknologi menawarkan cara baru untuk memanipulasi organisme hidup.

Seperti halnya teknologi-teknologi yang lain, aplikasi bioteknologi untuk pertanian selain menawarkan berbagai keuntungan juga memiliki potensi resiko kerugian. Keuntungan potensial bioteknologi pertanian antara lain: potensi hasil panen yang lebih tinggi, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida, toleran terhadap cekaman lingkungan, pemanfaatan lahan marjinal, identifikasi dan eliminasi penyakit di dalam makanan ternak, kualitas makanan dan gizi yang lebih baik, dan perbaikan defisiensi mikronutrien (Jones, 2003).

Potensi resiko bioteknologi terhadap pertanian dan lingkungan antara lain efek balik terhadap organisme non-target, pembentukan hama resisten, dan transfer gen yang tidak diinginkan yang meliputi transfer gen ke tanaman liar sejenis, transfer gen penyandi untuk produksi gen toksik, dan transfer gen resisten antibiotik melalui gen penanda ( marker ) antibiotik. Beberapa kritikan menyebutkan bahwa modifikasi DNA rekombinan menyebabkan pangan tidak aman untuk dimakan. Kelompok pecinta lingkungan mengkritik bahwa organisme trasgenik menyebabkan kerusakan keragaman hayati, karena membunuh organisme liar yang berguna, atau membuat organisme invasif yang dapat merusak lingkungan (Conko, 2003).

Terlepas dari perdebatan keuntungan dan kerugian di atas, prinsip ”kehati-hatian” harus dikedepankan dalam aplikasi bioteknologi untuk pertanian di pedesaan, khususnya rekayasa genetika. Belajar dari pengalaman Revolusi Hijau yang semula dianggap aman, intensifikasi penggunaan pupuk dan pestisida terbukti berakibat buruk yang baru diketahui setelah beberapa puluh tahun kemudian.

 

BIOREMEDIASI

Remediasi : Kegiatan untuk membersihkan lingkungan.

Hal yang perlu diketahui dlm melakukan remediasi:

1. Jenis pencemar (organik atau anorganik),

2. terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,

3. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari lingkungan tersebut,

4. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),

5. Jenis tanah,

6. Kondisi tanah (basah, kering),

7. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,

8. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Atau Bioremediasi adalah penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi  polutan di lingkungan.

Bioremediasi adalah proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol,  mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan.

Yang termasuk dalam polutan-polutan antara lain :

- logam-logam berat,

- petroleum hidrokarbon, dan

- senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida dll.

Tujuan Bioremediasi : untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Kelebihan teknologi ini adalah:

1. Relatif lebih ramah lingkungan,

2. Biaya penanganan yang relatif lebih murah

3. Bersifat fleksibel.

Saat bioremediasi terjadi, enzim” yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, disebut biotransformasi.

Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.

Pendekatan umum untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi/ biodegradasi adalah dengan cara:

(i)                  seeding, mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi)

(ii)                feeding, memodifikasi lingkungan dengan           penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).

Bioremediasi terbagi 2 :

1. In situ : dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar  2. Ex situ : tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam penampungan yang lebih terkontrol. Lalu diberi perlakuan khusus dengan memakai mikroba.

Bioremediasi ex-situ bisa lebih cepat dan mudah dikontrol. Dibanding in-situ, ia pun mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam.

Ø      Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi:

1.        Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb

2.        Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus

3.        Penerapan immobilized enzymes

4.        Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Kunci sukses bioremediasi adalah :

1. Dilakukan karakterisasi lahan (site characterization) :

    • sifat dan struktur geologis lapisan tanah,
    • lokasi sumber pencemar
    • perkiraan banyaknya hidrokarbon yang terlepas dalam tanah.
    • sifat-sifat lingkungan tanah : derajat keasaman (pH), temperatur tanah,  kelembaban hingga kandungan kimia yang sudah ada, kandungan nutrisi, ketersediaan oksigen.
    • mengetahui keberadaan dan jenis mikroba yang ada dalam tanah.

2. Treatability study.

    • Sesudah data terkumpul, kita bisa melakukan modeling untuk menduga pola distribusi dan tingkat pencemarannya. Salah satu teknik modeling yang kini banyak dipakai adalah bioplume modeling dari US-EPA. Di sini, diperhitungkan pula faktor perubahan karakteristik pencemar akibat reaksi biologis, fisika dan kimia yang dialami di dalam tanah.
    • Rekayasa genetika terkadang juga perlu jika mikroba alamiah tak memuaskan hasilnya.
    • Treatability study juga akan menyimpulkan apakah reaksi dapat berlangsung secara aerobik atau anaerobik.

Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen” yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba” memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.

Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan.

Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri “pemakan minyak”. Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:

1. Biostimulasi

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

2. Bioaugmentasi

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat.

Hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan:

Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

3. Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Kelas zat kimia yang sering diolah dengan bioremediasi

Peluang kedepan adalah pengembangan green business yang berbasis pada teknologi bioremediasi dengan :

1.      System One Top Solution (close system) dan

2.  Dengan pendekatan multi-proses remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum Kontaminasi ataupun pencemaran terjadi.

Usaha mencapai total grenning program ini dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkontrol atau bahkan mengeliminasi hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman lagi buat lingkungan.

Biaya tehnologi Bioremediasi di Indonesia berada didalam kisaran 20-200 USD per meter kubik bahan yang akan diolah (tergantung dari jumlah dan konsentrasi limbah awalserta metoda aplikasi), jauh lebih murah dari harga yang harus dikeluarkan dengan teknologi lain seperti incinerasi dan soil washing (150-600 USD).

Bagi industri, penanganan lahan tercemar dengan teknologi bioremediasi memberikan nilai strategis :

I.      Effisiensi, kesadaran bahwa banyak sumber daya alam kita adalah non-renewable resources (ex. minyak dan gas), dengan teknologi ramah lingkungan yang cost-effective (seperti bioremediasi) akan secara langsung berimplikasi kepada pengurangan biaya pengolahan.

II.      Lingkungan, ketika suatu perusahaan begitu konsern dengan lingkungan, diharapkan akan  terbentuk sikap positif dari pasar yang pada akhirnya seiring dengan kesadaran lingkungan masyarakat akan mengkondisikan masyarakat untuk lebih memilih “green Industry” dibanding industri yang berlabel “red industri” atau mungkin “black industry”, evaluasi kinerja industri dalam pengelolaan lingkungan hidup (Proper) sudah mulai dilakukan oleh pemerintah (KLH), diharapkan kedepan, akan terus dikembangkan menjadi pemberian sertifikasi ISO 14001, hasilnya adalah perluasan pasar dengan “greening image”.

III.      Environmental Compliance, ketaatan terhadap peraturan lingkungan menunjukan bentuk integrasi total dan aktif dari industri terhadap regulasi yang dibangun oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat luas. Sikap ini juga akan memberi penilai positif dari masyarakat selaku konsumen terhadap perusahaan tertentu.

Pemerintah, melalui Kementrian Lingungan Hidup, membuat  Payung hukum yang mengatur standar baku kegiatan Bioremediasi untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan perminyakan serta bentuk pencemaran lainnya (logam berat dan pestisida) disusun dan tertuang didalam:

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.128 tahun 2003 tentang tatacara dan persyaratan teknis dan pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah  terkontaminasi oleh minyak bumi secara biologis (Bioremediasi).

7. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,

8. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Atau Bioremediasi adalah penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi  polutan di lingkungan.

Bioremediasi adalah proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol,  mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan.

Yang termasuk dalam polutan-polutan antara lain :

- logam-logam berat,

- petroleum hidrokarbon, dan

- senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida dll.

Tujuan Bioremediasi : untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Kelebihan teknologi ini adalah:

1. Relatif lebih ramah lingkungan,

2. Biaya penanganan yang relatif lebih murah

3. Bersifat fleksibel.

Saat bioremediasi terjadi, enzim” yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, disebut biotransformasi.

Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.

Pendekatan umum untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi/ biodegradasi adalah dengan cara:

(i)                  seeding, mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi)

(ii)                feeding, memodifikasi lingkungan dengan           penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).

Bioremediasi terbagi 2 :

1. In situ : dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar  2. Ex situ : tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam penampungan yang lebih terkontrol. Lalu diberi perlakuan khusus dengan memakai mikroba.

Bioremediasi ex-situ bisa lebih cepat dan mudah dikontrol. Dibanding in-situ, ia pun mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam.

Ø      Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi:

1.        Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb

2.        Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus

3.        Penerapan immobilized enzymes

4.        Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Kunci sukses bioremediasi adalah :

1. Dilakukan karakterisasi lahan (site characterization) :

    • sifat dan struktur geologis lapisan tanah,
    • lokasi sumber pencemar
    • perkiraan banyaknya hidrokarbon yang terlepas dalam tanah.
    • sifat-sifat lingkungan tanah : derajat keasaman (pH), temperatur tanah,  kelembaban hingga kandungan kimia yang sudah ada, kandungan nutrisi, ketersediaan oksigen.
    • mengetahui keberadaan dan jenis mikroba yang ada dalam tanah.

2. Treatability study.

    • Sesudah data terkumpul, kita bisa melakukan modeling untuk menduga pola distribusi dan tingkat pencemarannya. Salah satu teknik modeling yang kini banyak dipakai adalah bioplume modeling dari US-EPA. Di sini, diperhitungkan pula faktor perubahan karakteristik pencemar akibat reaksi biologis, fisika dan kimia yang dialami di dalam tanah.
    • Rekayasa genetika terkadang juga perlu jika mikroba alamiah tak memuaskan hasilnya.
    • Treatability study juga akan menyimpulkan apakah reaksi dapat berlangsung secara aerobik atau anaerobik.

Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen” yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba” memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.

Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan.

Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri “pemakan minyak”. Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:

1. Biostimulasi

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

2. Bioaugmentasi

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat.

Hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan:

Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

3. Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Kelas zat kimia yang sering diolah dengan bioremediasi

Peluang kedepan adalah pengembangan green business yang berbasis pada teknologi bioremediasi dengan :

1.      System One Top Solution (close system) dan

2.  Dengan pendekatan multi-proses remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum Kontaminasi ataupun pencemaran terjadi.

Usaha mencapai total grenning program ini dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkontrol atau bahkan mengeliminasi hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman lagi buat lingkungan.

Biaya tehnologi Bioremediasi di Indonesia berada didalam kisaran 20-200 USD per meter kubik bahan yang akan diolah (tergantung dari jumlah dan konsentrasi limbah awalserta metoda aplikasi), jauh lebih murah dari harga yang harus dikeluarkan dengan teknologi lain seperti incinerasi dan soil washing (150-600 USD).

Bagi industri, penanganan lahan tercemar dengan teknologi bioremediasi memberikan nilai strategis :

I.      Effisiensi, kesadaran bahwa banyak sumber daya alam kita adalah non-renewable resources (ex. minyak dan gas), dengan teknologi ramah lingkungan yang cost-effective (seperti bioremediasi) akan secara langsung berimplikasi kepada pengurangan biaya pengolahan.

II.      Lingkungan, ketika suatu perusahaan begitu konsern dengan lingkungan, diharapkan akan  terbentuk sikap positif dari pasar yang pada akhirnya seiring dengan kesadaran lingkungan masyarakat akan mengkondisikan masyarakat untuk lebih memilih “green Industry” dibanding industri yang berlabel “red industri” atau mungkin “black industry”, evaluasi kinerja industri dalam pengelolaan lingkungan hidup (Proper) sudah mulai dilakukan oleh pemerintah (KLH), diharapkan kedepan, akan terus dikembangkan menjadi pemberian sertifikasi ISO 14001, hasilnya adalah perluasan pasar dengan “greening image”.

III.      Environmental Compliance, ketaatan terhadap peraturan lingkungan menunjukan bentuk integrasi total dan aktif dari industri terhadap regulasi yang dibangun oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat luas. Sikap ini juga akan memberi penilai positif dari masyarakat selaku konsumen terhadap perusahaan tertentu.

Pemerintah, melalui Kementrian Lingungan Hidup, membuat  Payung hukum yang mengatur standar baku kegiatan Bioremediasi untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan perminyakan serta bentuk pencemaran lainnya (logam berat dan pestisida) disusun dan tertuang didalam:

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.128 tahun 2003 tentang tatacara dan persyaratan teknis dan pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah  terkontaminasi oleh minyak bumi secara biologis (Bioremediasi). dari berbagai sumber

Artikel Terkait

Istilah Perikanan

November 8, 2009 pukul 9:01 am | Ditulis dalam AQUACULTURE | 2 Komentar

 

 

 

dictionary

* Kakaban : Kakaban
* Kait gene : Sex-linked gene
* Juvenil (anak ikan/udang) : Juveniles
* Jasad penempel : Aufwuchs
* Isotonik : Isotonic
* Isoosmotik : Isoosmotic
* Kait gene : Sex-linked gene
* Juvenil (anak ikan/udang) : Juveniles
* Jasad penempel : Aufwuchs
* Isotonik : Isotonic
* Isoosmotik : Isoosmotic
* Isolasi : isolation
* Isokalori : Isocaloric
* Insektivorous : Insectivorous
* Insektisida : Insecticidae
* Insang : Gills
* Induk : Parent
* Indigenos : Indigenous
* Inang : Host
* Ikan sepat siam : Spoted gourami
* Ikan sepat rawa : Spoted gourami
* Ikan rucah : Trash fish
* Ikan nilem : Carp
* Ikan nila : Nile tilapia
* Ikan mujair : Java tilapia
* Ikan mola : Silver carp
* Ikan matang : Gravid fish
* Ikan mas : Common carp
* Ikan makanan : Forage fish
* Ikan lele : Catfish
* Ikan kowan : Grass carp,white amur
* Ikan kancra : Carp
* Ikan jelawat : Carp
* Ikan hibrida : Hybrid fish
* Ikan herbivor :Herbirous fish
* Ikan gabus : Murrel
* Ikan eksotik : Exotic fish
* Ikan buas : Carnivorous fish
* Ikan bersirip :Fin fish
* Ikan belut : Swam Eel
* Ikan bandeng : Milk fish
* ICH : ICH
* Invertebrata
* Inorganic
* Humus
* Law of limiting factors

* Isolasi : isolation
* Isokalori : Isocaloric
* Insektivorous : Insectivorous
* Insektisida : Insecticidae
* Insang : Gills
* Induk : Parent
* Indigenos : Indigenous
* Inang : Host
* Ikan sepat siam : Spoted gourami
* Ikan sepat rawa : Spoted gourami
* Ikan rucah : Trash fish
* Ikan nilem : Carp
* Ikan nila : Nile tilapia
* Ikan mujair : Java tilapia
* Ikan mola : Silver carp
* Ikan matang : Gravid fish
* Ikan mas : Common carp
* Ikan makanan : Forage fish
* Ikan lele : Catfish
* Ikan kowan : Grass carp,white amur
* Ikan kancra : Carp
* Ikan jelawat : Carp
* Ikan hibrida : Hybrid fish
* Ikan herbivor :Herbirous fish
* Ikan gabus : Murrel
* Ikan eksotik : Exotic fish
* Ikan buas : Carnivorous fish
* Ikan bersirip :Fin fish
* Ikan belut : Swam Eel
* Ikan bandeng : Milk fish
* ICH : ICH
* Invertebrata
* Inorganic
* Humus
Daftar Istilah-Istilah Perikanan

A

- Abalon = sejenis kerang yang dapat dimakan dan bercangkang satu tangkup.
– Ablasi = pemotongan tangkai mata pada crustacea, terutama udang windu (Panaeus monodon).
– Aboral, atau abaktinal (abactinal) = permukaan atau sisi atas echinodermata (bintang laut).
– Alometrik (allometric) = berbeda dalam kecepatan tumbuh (pertambahan panjang biota tidak secepat pertambahan beratnya).
– Alun (swell) = gelombang laut yang sederhana.
– Alur Ambulakral (ambulacral groove) = alur dalam dan memanjang mulai dari mulut ke masing-masing lengan dalam dua atau empat baris Echinodermata.
– Ambang (sill) = celah yang terdapat pada tanggul dasar laut antara dua basin. Kejelukan ambang (sill depth) adalah jeluknya ambang.
– Ambulakral (ambulacral) = daerah yang berisi kaki-kaki tabung pada echinodermata.
– Amplitudo = perbedaan tinggi rendahnya paras laut pada saat pasang surut berikutnya.
– Anadromus = ikan yang meninggalkan lautan menuju sungai air tawar untuk bertelur, seperti salmon dan belut laut (Lamprey).
– Anastomosis = gabungan dari percabangan pada urat daun, atau penyatuan dari pembuluh darah yang muncul dari jaringan tubuh.

- Amplitudo = perbedaan tinggi rendahnya paras laut pada saat pasang surut berikutnya.
– Anadromus = ikan yang meninggalkan lautan menuju sungai air tawar untuk bertelur, seperti salmon dan belut laut (Lamprey).
– Anastomosis = gabungan dari percabangan pada urat daun, atau penyatuan dari pembuluh darah yang muncul dari jaringan tubuh.
– Anemon (anemone) = salah satu kelompok hewan laut dari filum Coelenterata.
– Angin Pasat = angin keras yang bertiup searah sepanjang tahun, disebabkan oleh perbedaan suhu udara antara kutub dan khatulistiwa.
– Aplanospora = spora diam yang tidak bergerak.
– Askon (Ascon) = tipe sistem saluran pada Porifera, yang terdiri dari pori-pori arus masuk, sebuah rongga lambung yang berlapiskan sel-sel leher dan satu oskulum.
– Atol = terumbu karang yang mengelilingi goba di tengahnya.
– Auksosopra (auxoxpora) = zygot diatom yang terbentuk dari gabungan dua individu yang berukuran normal kembali.
– Aurikel (auricle) = serambi jantung atas.
– Autotrof (autotropic) = biota yang dapat menghasilkan makanannya sendiri tanpa tergantung pada biota lain dengan berfotosintetis. Termasuk dalam golongan ini adalah tumbuh-tumbuhan.

B
– Ballast = alat pemberat pada alga laut, misalnya butiran-butiran pasir yang melekat pada alat pelekat tumbuh-tumbuhan Caulerpa.
– Batisfer (bathysphere) = kapal selam berbentuk bola yang dapat diisi seorang dan yang diturunkan dari atas kapal.
– Bentos = biota yang hidup di atas atau di dalam dasar laut, meliputi biota menempel, merayap dan meliang.
– binomial nomenklatur = sistem pemberian dua nama pada satu jenis biota.
– Bioerosi (bioerosion) = proses erosi yang dilakukan hewan secara alami.
– Biologi Laut = ilmu yang mempelajari biota laut.
– bioluminesensi (bioluminescent) = cahaya yang dihasilkan oleh jasad hidup.
– Biomassa (biomass) = jumlah berat total organisme per satuan area.
– Bioremediasi = pemanfaatan mikroorganisme hidup dan produk-produknya untuk mengurai sampah atau bahan pencemar agar kurang beracun.
– Biometri = statistik dari organisme hidup dan keragamannya.
– Biosfer (biosphere) = bagian bumi yang dapat menunjang kehidupan.
– Biota= tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup.
– Biota pelagik= biota yang hidup di lingkungan kolom air laut mulai dari permukaan dasar laut sampai permukaan laut.
– Bioteknologi= penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa untuk memproses bahan dengan menggunakan perantaraan biota untuk menghasilkan barang dan jasa.
– Bisus (byssus) = serumpun filamen atau benang kuat yang dihasilkan oleh kelenjar pada beberapa jenis kerang untuk melekat pada substrat.
– Bulu getar (cilia) = rambut halus yang terdapat pada biota laut, terutama ciliata.

C
– Cakram sentral (central disc) = tubuh utama bintang laut.
– Celah hidrotermal (hydrothermal vent) = celah dasar laut tempat terjadinya perembesan air panas pada kejelukan 1.200 m di bawah permukaan laut atau lebih.
– Cold seeps = perembesan air dingin dari dalam dasar laut ke permukaan dasar laut.
– Corolis (gaya) = gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi.
– Crests = puncak-puncak pada gelombang laut.

D
– Datum = paras laut yang digunakan sebagai panutan, biasanya ditentukan pada tingkat air rendah pada pasut purnama biasa.
– Daur biogeokimia = berulang-ulangnya proses kimia, geologi dan kehidupan yang saling mendukung.
– Daur organik = berulang-ulangnya proses pembentukan dan penguraian zat-zat organik.
– Detrivor = pemakan detritus.
– Diatomin = pigmen coklat.
– Diurnal = sifat siang dan malam.
– Divertikulum pencernaan (digestive diverticula) = kantung pencernaan.
– Diploid = fase alga yang mempunyai set kromosom haploid dobel.
– Difergensi = gerakan air yang memencar atau pembuyaran.

E
– Ekman (spiral) = gerakan mengulir arah arus dari permukaan ke lapisan lebih bawah.
– Ekologi laut = ilmu yang mempelajari hubungan antara biota laut dan lingkungannya dan antara mereka sendiri.
– Ekosistem (ecological system) = interaksi antara biota dengan lingkungannya dalam suatu sistem.
– Embelan (appendage) = tonjolan atau anggota tubuh pada hewan seperti kaki- jalan dan kaki renang pada Decapoda.
– Endofit (endohytic) = sifat biota atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di dalam tumbuh-tumbuh lain secara simbiosis.
– Endoksid (endoxide) = fase berenang bebas berbentuk monogasrik dari Siphonophore.
– Epifit = alga yang melekat pada tumbuh-tumbuhan lain.
– Epiteka (epitheca) = tangkup yang lebih besar pada struktur diatom yang terdiri dari dua tangkup, tangkup yang lebih kecil disebut hipoteka (hypotheca).
– Epizoik = biota yang melekat pada hewan laut tertentu.
– Eulitoral (eulittoral) = mintakat litoral yang terbaik untuk kehidupan tumbuh-tumbuhan laut.
– eutrofik (eutrofhic) = sifat (lingkungan) dengn sejumlah besar zat hara.

F
– Fikosianin (phycocyanin) = pigmen biru yang terdapat pada alga hijau biru (Myxophyceae).
– Filosoma (phyllosoma) = larva udang barong, berbentuk pipih atas – bawah, tembus pandang dan embelan-embelannya berbulu banyak.
– Filum (phylum) = kelompok takson biota yang besar (phylum = tunggal, phyla = jamak).
– Fisiologi = ilmu yang mempelajari sifat-sifat faal biota.
– Fitoplankton = plankton nabati atau plankton tumbuh-tumbuhan.
– Fotik (photic) = bagian perairan yang mendapat cahaya.
– Frustula = dinding silika diatom.
– Funikulus (funiculus) = seutas jaringan mesoderma pada dasar perut Bryozoa.
– Fukosanting (fucoxantin) = pigmen karatenoid dalam alga kelas Phaeophycea, tetapi juga ditemukan pada kelas Bacillariophyceae.

G
– Gamet =sel kelamin berbulu getar dua yang mempunyai kemampuan membentuk zigot.
– Gametofit (gametophyte) = tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan gamet.
– Gametangium = suatu wadah dimana gamet-gamet diproduksi.
– Gamul (gammules) = tunas yang dihasilkan dari pembelahan aseksual pada sepon.
– Garis mantel (pallial line) = sederetan otot-otot yang melekatkan mantel pada cangkang, yang meninggalkan bekas melengkung.
– Garis kristal = pabrik pemilah yang sangat majemuk dimana partikel-partikel dicampur, diisi enzim yang dikeluarkan dari batang gelatin dan disebarkan kembali ke daerah-daerah pemilahan pada tiram mutiara.
– Gelang (girdle) = bagian frustula diatom di antara dua tangkup, di bawah mikroskop nampak sebagai celah melingkar; disebut juga singulum (cingulum).
– Gelombang = ombak yang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air.
– Gelombang antara = jika panjang gelombang 100 m, sedangkan kejelukan air antara 50 m dan 4 m.
– Gelombang air dalam = jika kejelukan air lebih dari dua kali panjang gelombang.
– Gelombang air dangkal = jika rasio antara kejelukan air dan panjang gelombang sama dengan 1/25.
– Gelombang badai = tumpukan massa air yang terjadi jika terjadi badai di laut.
– Gelombang dalam (internal waves) = gelombang yang terjadi pada permukaan antara dua lapisan air yang berbeda densitasnya.
– Gelombang meloncat (plunging breaker) = jika dasar pantai terjal dan gelombang datang tiba-tiba, kemudian membumbung ke atas dan segera pecah.
– Gelombang pasut (tsunami) = gelombang ini tidak ada hubungannya dengan pasut, hanya namanya saja, yakni datang ke darat dan surut kembali ke laut.
– Gelombang pecah = terjadi jika kedalaman air kira-kira 1,3 tinggi gelombang.
– Gelombang pecah jenis lain = yakni yang disebabkan oleh gerakan melaju benda-benda keras seperti kapal.
– Gelombang penerpa (surging breaker) = jika dasar pantai begitu terjal sehingga gelombang tidak mempunyai waktu untuk beraksi, ia mendorong air ke atas ke darat dan menyedotnya kembali, gelombang ini berbahaya bagi semua orang.
– Gelombang tumpah (spilling breaker) = gelombang yang perlahan-lahan dan menggulung ke arah pantai karena dasar pantainya landai, gelombang seperti ini baik untuk selancar air.
– Gribbles = sebutan umum kelompok Isopoda yang terdiri dari beberapa jenis yang melubangi kayu.

H
– Habitat = tempat atau lingkungan luar dimana tumbuh-tumbuhan dan hewan hidup.
– Halophyta = tumbuh-tumbuhan yang hidup di air asin.
– Haploid = fase tumbuh-tumbuhan alga dengan satu set kromosom tunggal yang menjadi sifat khas dari jenis tersebut.
– Herbivor = hewan pemakan tumbuh-tumbuhan.
– Herbivor primer = pemakan plankton nabati dan pemakan tumbuh-tumbuhan.
– Hercules = pahlawan nasional Yunani kuno yang gagah perkasa dan tahan pekerjaan berat.
– Heteromorf (heteromorphic) = berbeda secara morfologi.
– Heterotrof = biota yang tidak dapat menghasilkan makanan sendiri. Termasuk dalam golongan ini adalah semua hewan.
– Hidrosium (hydroecium) = tabung yang atasnya tertutup berbentuk genta pada Siphonophore.
– Hipoteka (hypotheca) lihat epiteka.
– Holdfast = alat pelekat yang bercabang-cabang banyak pada tumbuh-tumbuhan Caulerpa.
– Holoblast = telur dengan pembelahan total.
– Holoplankton = biota yang hidup sebagai plankton dari lahir sampai mati.
– Hormogonium = bagian-bagian yang lebih kecil sebagai hasil pembelahan sel-sel alga yang berbentuk rantai.

I
– Isometrik = pertumbuhan panjang dan pertambahan beratnya seimbang.

J
– Jaringan makanan (food web) = rantai-rantai makanan yang saling berhubungan dalam satu ekosistem.
– Jeluk = istilah yang digunakan untuk mengukur jarak vertikal antara permukaan laut sampai ke dasar laut untuk perairan laut terbuka.
- Jenis (species) = takson tersendah pada pembagian biota.
– Juwana (juvenile) = tingkat perkembangan antara pasca larva dan dewasa.

K
– Kantung pilorus (pyloric sac) = sambungan perut pada bintang laut yang merupakan tabung menuju ke dalam setiap lengan, kemudian membagi menjadi dua cabang, masing-masing mempunyai sejumlah besar kantung lateral.
– Kantung udara (bladder) = alat pengapung berbentuk bulat pada tumbuh-tumbuhan dan hewan laut.
– Karnivor (carnivore) = hewan pemakan hewan.
– Karpogonium (carpogonium) = benih telur atau gametangium (struktur penghasil benih betina pada alga merah).
– Karpospora (carpospore) = spora alga merah sebagai hasil bergabungnya gamet jantan (spermatia) dan gamet betina (karpogania).
– Katadromus = ikan yang dewasanya di perairan tawar (sungai) dan beternak di laut, misalnya sidat.
– Kelp bed = padang ganggang di laut lepas.
– Koefisien makanan = nilai yang digunakan untuk mengetahui pentingnya kelompok makanan tertentu dengan memperhatikan jumlah berat dan sekaligus frekuensi dari kelompok makanan.
– Konfergensi (convergence) = gerakan yang memusat dari luar ke tengah.
– Konkoselis (conchocelis) = fase perkembangan pada alga yang terbentuk dari perkembangan karpospora.
– Konkospora (conchospore) = fase yang dihasilkan karpospora, yang nantinya akan dilepaskan dan tumbuh sebagai alga vegetatif.
-Konseptakel (conceptacle) = ruang berbentuk cawan yang berisi struktur perkembangbiakan seperti dalam Fucales dan Corallinaceae.
– Konkosporangium = satu tipe sporangium yang besar, biasanya membentuk satu seri (sederet sel-sel subur) oleh fase conchocelis.
– Konkiolin (conchyoline) = zat glikoprotein yang dikeluarkan oleh sel-sel periferal dari epitelium.
– Konsumen primer = hewan pemakan tumbuh-tumbuhan.
– Konpensasi (kejelukan) = lapisan perairan dimana produksi oksigen sama dengan konsumsi oksigen.
– Kromatofor (chromatophore) = sel pigmen yang terdapat pada biota.
– Ktenidium (ctenedium) = alat pernafasan sebagai penyaring aktif yang mengambil oksigen dan bahan organik untuk kebutuhan hewan dan menolak apa saja yang dapat menyumbat alat penyaring itu.

L
– Lamina = daun yang berbentuk seperti pita.
– Lapisan abisopelagik (mintakat palung) = bagian-bagian kolom air terjeluk dari samudra.
– Lapisan batipelagik = lapisan laut dengan kisaran kedalaman 1000 – 4000 m atau sama dengan kejelukan dasar laut jeluk.
– Lapisan epipelagik = lapisan perairan yang meluas dari permukaan laut sampai 200 m.
– Lapisan fotik = lapisan perairan yang menerima penembusan cahaya.
– Lapisan mesopelagik = lapisan perairan laut dengan kisaran kedalaman 200 – 1000 m.
– Lentera Aristotle (Aristotle’s lantern) = himpunan gigi yang terdapat pada banyak jenis bulu babi.
– Litofitik = biota yang melekat pada batu.
– Lofofor (lophophore) = mulut Bryozoa yang terletak di tengah-tengah mahkota tentakel yang berbulu getar.
– Lorika = kantung kitin yang dihasilkan dari sekresi sekujur badan Tintinnidae. Masing-masing jenis berbeda bentuk lorika-nya sehingga digunakan sebagai ciri utama untuk identifikasi.
– Lux (meter lilin) = satuan untuk intensitas cahaya yang menerangi dataran atau laut.

M
– Madreporit (madreporite) = pintu saring ke sistem pembulu air di dekat anus bintang laut.
– Mantel = lipatan yang mengelilingi isi rongga perut, disebut juga palium.
– Mastaks (mastax) = perut pengunyah pada Rotifera.
– Mayang (inflorescence) = bunga yang tersusun sepanjang suatu sumbu.
– Meroplankton = hewan yang menghabiskan sebagian dari daur hidupnya sebagai plankton.
– Mesoderma = lapisan embrionik yang terletak antara endoderma dan ektoderma.
– Mesoglea = lapisan antara nonseluler yang kental seperti agar-agar, terdapat pada sepon dan Coelenterata.
– Metabolit primer = bahan yang dihasilkan dari proses metabolisme dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan biota.
– Metabolit sekunder = metabolit yang diturunkan secara biosintetik dari metabolit primer dan umumnya berfungsi untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang tidak menyenangkan.
– Metamer = ruas-ruas pada Annelida.
– Mikroplankton = plankton yang berukuran kecil sampai beberapa milimeter.
– Mikrospora = bulatan protoplasma yang mengisi cangkang diatom dan dapat keluar sebagai spora berbulu getar dua, peran dari spora ini belum diketahui.
– Mintakat atas = lapisan perairan dimana fotosintesis cukup aktif untuk menghasilkan oksigen yang digunakan untuk pernafasan.
– Mintakat bawah permukaan = lapisan perarain dimana terjadi pertumbuhan fitoplankton yang aktif sampai perairan yang agak dalam dimana fitoplankton yang tidak berbiak aktif masih terdapat berlimpah.
– Mintakat dasar laut jeluk = mintakat bentik yang meluas mulai dari pinggir paparan benua sampai ke dasar laut terjeluk dari samudera.
– Mintakat dekat permukaan = lapisan perairan dimana penyinaran siang hari di atas optimal atau bahkan letal buat fitoplankton.
– Mintakat konpensasi = kejelukan dimana produksi oksigen sama dengan penggunakannya.
– Mintakat litoral (pasang surut) = bentangan pantai yang terletak antara paras air tertinggi dari pasut purnama ke arah daratan dan paras terendah dari pasut purnama ke arah laut.
– Mintakat neritik = mintakat pelagik yang terletak di atas landas benua.
– Mintakat oseanik = mintakat pelagik yang letaknya di atas landas benua.
– Mintakat terbawah = lapisan perairan dimana zooplankton yang biasa migrasi ke permukaan pada malam hari, berada pada siang hari.
– Monera = hewan bersel satu tanpa membran.
– Monospora = spora tunggal. Dari spora ini dapat muncul alga fase konkoselis baru.

N
– Nakre (nacre) = lapisan dalam cangkang (kerang mutiara) yang biasanya berwarna putih mengkilat.
– Nanoplankton = plankton yang terlalu kecil untuk dikumpulkan dengan jaring plankton berukuran 60 mikron – 70 mikron. Plankton ini disebut juga plankton sentrifus.
– Naupliosoma = tingkat perkembangan awal larva lobster.
– Nekton = biota yang berenang-renang, yang hanya terdiri dari hewan.
– Namatosista = sel penyengat pada Coelenterata.
– Nokturnal (nocturnal) = kegiatan yang dilakukan pada malam hari.
– Nomenklatur = ilmu tentang penamaan biota.
– Nomenklatur binomial = sistem pemberian dua nama, marga dan jenis untuk setiap organisme.
– Notokor (notochord) = sumbu kerangka pada larva Tunicata yang menunjukkan adanya hubungan langsung dengan bentuk hewan tingkat lebih tinggi.

O
– Oligotrofik (oligotrophic) = Sifat (lingkungan) dengan produktifitas rendah.
– Omnivor (omnivore) = hewan pemakan segala.
– Oogonium (oogonia) = gametangium betina yang memproduksi satu telur atau banyak telur.
– Ooze = bagian dari sedimen dasar laut yang tersusun dari sisa-sisa cangkang biota laut, terutama dari Foraminifera, Radiolaria dan diatom.
– Oskulum (Osculum) = lubang arus keluar.
– Osikel (ossicle) = kerangka berupa lempeng-lempeng kapur, tergabung erat manjadi kerangka yang nyata pada Echinodermata; osikel-osikel tertentu biasanya membentuk duri.
– Otot pengikat (adductor muscle) = otot yang mengikat tubuh kerang pada cangkangnya.

P
-Paedogenesis = perkembang biakan yang terjadi pada hewan muda atau fase larva.
– Pallium = lihat mantel
– Palung = celah raksasa pada dasar laut jeluk dengan kejelukan sampai 10.000 m lebih.
– Palung Ganda Sunda = sistem dua palung terletak di sebelah selatan Sumbawa, Bali, Jawa, dan melanjut sampai pantai barat daya Sumatera.
– Panjang Gelombang = jarak antara dua titik, yakni antara satu puncak dan puncak berikutnya antara satu lembah dan lembah berikutnya.
– Paparan = Dasar laut yang landai dengan kejelukan tidak melebihi 200 m.
– Paparan Arafura = paparan yang menghubungkan daratan Irian dan daratan Australia dan mempunyai kejelukan berkisar 30 – 90 m.
– Paparan Sahul = paparan yang terletak di sebelah barat – laut Australia yang melebar dari pantai ke arah laut sampai kira-kira sejauh 30 km dan mempunyai kedalaman rata-rata antara 80 sampai 100 m.
– Paparan Sunda = paparan yang menghubungkan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa dengan daratan Asia.
– Papula (daerah brankial) = insang kulit pada bintang laut.
– Pasut bulan-setengah (neaptides) = pasut yang terjadi pada saat bulan berpindah 900 menjauhi matahari. Atau pasut perbani.
– Pasut diurnal = satu kali pasang, satu kali surut dalam 24 jam.
– Pasut purnama = yang terjadi saat bulan, matahari, dan bumi berada pada satu sumbu.
– Pasut semi-diurnal = dua kali pasang, dua kali surut dalam 24 jam.
– Pebangkai (scavenger) = hewan pemakan bangkai.
– Pedikel (pedicle) = satu tangkai berotot berbentuk silindris yang panjang yang berisi perpanjangan berbentuk tabung dari selom.
– Pediselari (pedicellariae) = pinset yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop pada Echinodermata.
– pemukaan massa air (upwelling) = pemindahan atau pergerakan massa air yang kaya akan zat hara dari lapisan dasar ke lapisan permukaan laut.
– Perikardium (pericardium) = selaput pembungkus jantung.
– Periode gelombang = waktu yang digunakan untuk menempuh jarak dari satu titik dari satu gelombang ke titik serupa gelombang berikutnya.
– Periostrakum (periostracum) = lapisan luar cangkang tiram dan cangkang Brachiopoda.
– Periviseral (perivisceral) = struktur yang mengelilingi saluran pencernaan dan melebar ke dalam lengan bintang laut.
– pillars of Hercules = tonggak-tonggak Hercules, yakni dua tanjung di kedua sisi ujung timur dari Selat Gibrltar, “Rock of Gibraltar” di bagian Eropa Eropa dan “Jebel Musa” di bagian Afrika yang konon didirikan oleh Hercules, pahlawan nasional Yunani kuno yang gagah perkasa.
– Pinul (pinnules) = ranting dari cabang-cabang lengan Crinoidea.
– Piramida Makanan = rantai makanan yang berbentuk piramida dengan mata rantai dasar berisi biota ukuran kecil dengan jumlah individu maksimum dan puncaknya berisi biota besar dengan jumlah individu minimum.
– Plankton = biota yang hidup di zona (mintakat) pelagik dan mengapung, menghanyutkan atau berenang sangat lemah, artinya tidak dapat melawan arus.
– Plankton sentrifus = plankton yang terlalu kecil untuk dikumpulkan dengan jaring plankton, sehingga harus diendapkan atau menggunakan sentrifus (centrifuge).
– Plastron = kulit penyu bagian bawah.
– Polipid (polypid) = bagian-bagian lunak yang terletak di dalam rongga coelom Bryozoa.
– Portuguese man o’war = hewan Coelenterata yang sangat berbisa dan mematikan, berbentuk seperti ubur-ubur.
– Produktivitas primer = kecepatan terjadinya fotosintesis atau pengikatan karbon.
– Prostrate = bagian tumbuh-tumbuhan alga yang menjalar.
– Protista = hewan bersel satu dengan membran.
– Prototrikogen (prototrichogynes) = saluran kecil yang terbentuk pada karpogonia (benih telur) yang memungkinkan terjadinya fusi organ seksual dengan spermatia.
– Puerulus = tingkat perkembangan akhir filosoma atau larva udang karang.

R
– Radula = selaput lebar dan memanjang dengan deretan-deretan gigi kitin memanjang yang terdapat dalam mulut kebanyakan Gastropoda.
– Rafe (raphae) = celah untuk pertukaran hasil-hasil metabolik pada diatom.
– Rantai makanan (food chain) = hubungan makan-dimakan antara tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan antara hewan dengan hewan lain yang membentuk rantai panjang atau pendek.
– Rantai makanan meramban atau merumput = rantai makanan yang mata rantai dasarnya adalah tumbuh-tumbuhan yang berfotosintesis.
– Rantai makanan detritus = rantai makanan yang mata rantai dasarnya adalah detritus.
– Ragon(rhagon) = tipe sistem saluran pada Porifera.
– Red tide = gejala terdapatnya fitoplankton jenis-jenis tertentu dalam jumlah besar di laut dan menimbulkan warna kemerah-merahan karena pigmen merah mereka, biasanya beracun.
– Relung (niche) = habitat mikro.
– Ritual prenuptial = upacara pra-perkawinan pada beberapa jenis ikan.
– Rimpang (rhizome) = struktur seperti akar pada lamun.
– Ripples = riak gelombang yang ditimbulkan oleh angin bertiup di paras laut.

S
– Salinitas = berat garam terlarut dalam gram perkilogram air laut.
– Saluran epineural = empat baris lempeng, satu aboral, satu oral dan dua lateral yang membentuk saluran pada lengan Ophiuroidea.
– Saluran stolon (stolon canal) = lubang kecil yang menghubungkan ruang yang satu dengan yang lain pada foraminifera.
– seka pilorus (pyloric ceca) = cabang-cabang kantung pilorus pada bintang laut.
– seka rektum (rectal ceca) = dua kantung bercabang berwarna coklat timbul dari rektum.
– sel leher (collar cell) atau koanosit (choanocyte) = sel dengan cincin berongga yang mengelilingi dasar sebuah flagelum.
– Senosark = jaringan yang menyatukan polip-polip dalam satu koloni majemuk.
– Septa = selaput yang merupakan sekat.
– Sill = ambang atau celah pada tanggul pemisah dua basin yang menghubungkan kedua basin tersebut.
– Sifon (siphon) = sebuah tabung memanjang mulai dekat mulut pada hewan.
– Sikon (Sycon) = tipe sistem saluran pada Porifera. Dalam sistem ini, air mengalir melalui pori-pori kulit (ostia) ke dalam saluran arus masuk, kemudian melalui pori-pori kamar (prosopyles) ke dalam saluran-saluran meruji berlapiskan sel leher, dari sini diputar oleh flagela-flagela dari koanosit ke dalam rongga kloaka, akhirnya keluar lewat oskulum.
– Sisik gelakoid = sisik yang seperti gigi-gigi kecil pada kulit Chondrichthyes (hiu, pari, chimera) sehingga kulitnya kasar.
– Sorus = suatu kelompok organ perkembangbiakan.
– Spermatangium = struktur perkembangbiakan jantan pada alga merah, yang menghasilkan satu spermatium.
– Spermatium atau spora beta = gamet jantan pada alga merah, tidak bergerak dan tidak berwarna, dilepas dari spermatangium.
– Spirakel (spiracle) = sepasang lubang di bagian atas kepala (ikan pari).
– Spora = satu agen sel dari perkembangbiakan aseksual.
– Sporangium = struktur yang menghasilkan spora.
– Sporofil = daun yang memproduksi spora fertil.
– Sporofit = tumbuh-tumbuhan baru hasil dari persatuan gamet.
– sporosit = sel diploid yang melakukan meiosis untuk membentuk spora-spora.
– Stipe = tangkai yang panjang dan silindris yang berongga sepanjang tangkai dan berakhir dengan bentuk seperti bola berongga pada ujungnya, tumbuh dari alat pelekat pada Nereocystis.
– Streaming = gerakan protoplasma yang menjulur keluar dan mengkerut kembali dari lubang-lubang Foraminifera, menciptakan kaki-kaki semu yang selalu bergerak.
– Striae = garis-garis, titik-titik dan lekukan yang sangat menarik pada cangkang diatom.
– Sulkus (sulcus) = celah memanjang pada Dinoflagellata.

T
– Taksonomi = ilmu tentang klarifikasi dan identifikasi, yakni ilmu yang membagi biota laut dalam kelompok-kelompok menurut sifat morfologi, sifat-sifat hidup, hubungan keturunan dan lingkungan tempat hidup mereka.
– Talus (thallus) = tubuh tumbuh-tumbuhan yang tidak terbagi ke dalam akar, batang dan daun yang sebenarnya.
– tanah diatom (diatomaceous earth) = endapan fosil yang luas yang terbentuk oleh frustula atau cangkang diatom disebut juga nenes diatom.
– tanaman tegakan (standing crop) = biomassa tanaman pada suatu waktu.
– Tangkup (valve) = bagian atas dan bawah dari struktur cangkang diatom.
– Tenggelaman massa air (downwelling) = turunnya massa air dari lapisan atas ke lapisan bawah.
– Teritip angsa (goose barnacle) = teritip bertangkai.
– Teritip baran (acorn barnacle) = teritip tidak bertangkai dan menempel langsung pada substrat.
– Termantu (infructescence) = kumpulan buah yang terbentuk dari sebuah mayang.
– Termoklin = lapisan air laut dengan penurunan suhu cepat ke bawah.
– Tetrasporangium = satu sel yang di dalamnya terjadi pembelahan meiosis inti dan menghasilkan 4 spora haploid (tetraspora).
– Tetrasporofit = suatu fase diploid yang menghasilkan tetrasporangia.
– Tetraspora = satu spora yang dihasilkan dalam satu tetrasporangium
– Terumbu karang (coral reef) = bangunan dari kapur yang dibentuk oleh hewan karang.
– Terumbu karang pinggir (fringing reef) = terumbu karang yang berhubungan langsung dengan daratan.
– Terumbu karang penghalang (barrier reef) = terumbu karang di pinggir benua yang terletak antara daratan dan air pada saat air pasang.
– Thallophyta = tumbuh-tumbuhan primitif yang tidak terbagi ke dalam alat vegetatif seperti akar yang sebenarnya, ranting atau cabang dan daun.
– Tikar laut = hewan hidroid yang membentuk lapisan seperti tikar.
– Titik gelombang = jarak menegak antara titik puncak dan titik lembah.
– Transgenik = penggunaan gen hormon suatu jenis hewan untuk mengubah gen hewan lain.
– Tukik = anak penyu.

U
– Ulir (Spiral) = bentuk atau gerakan yang memutar vertikal seperti per atau pegas.
– Ultraplankton = plankton yang berukuran sangat kecil sekitar 0,005 mm atau 5 mikron, di sini termasuk bakteri dan diatom kecil.

V
– Vestibule = struktur cekung pada Bryozoa yang berisi satu baris tentakel lofofor pada saat dikerutkan.
– Vertebra = lempeng-lempeng yang bergabung bersama di dalam lengan Ophiuroidea (bintang mengular).
– Pilar vertebra = serangkaian tulang punggung yang memanjang dari kepala ke ekor pada Vertebrata dan melindungi sumsum tulang punggung (spinalchord).

W
– Weber Deep = dasar laut terjeluk, kira-kira 7440 m, yang terdapat di perairan laut Banda.

Z
– Zigot = sel yang dibentuk oleh menyatunya dua gamet atau telur yang dibuahi.
– Zoesium = dinding tubuh yang melindungi bagian-bagian lunak (polypid), yang terletak dalam rongga selom Bryozoa.
– Zooplankton = planton hewan.
– Zoospora = sel perkembang-biakan secara nir kelamin, yang dibentuk oleh sporofit.
– Zooxanthella = alga renik yang bersimbiosis dengan hewan inang, misalnya kima.

 

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.008 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: