AKUAKULTUR NEWSLETTER

Juli 4, 2011 pukul 1:00 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | Tinggalkan komentar

Info Budidaya Ikan

Juni 1, 2011 pukul 2:15 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | Tinggalkan komentar

Benih Sidat ElverPelaksana Teknis Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan [Disnakan] Kabupaten Bandung Adjat Sudradjat mengatakan pihaknya sedang menjajaki dengan TM Consulting Jepang untuk pembudidayaan ikan sidat di UPTD Pembenihan Ikan Ciparay.

“Kami diminta menyediakan lahan seluas 1,2 hektare untuk pembudidayaan ikan sidat. Perusahaan asal Jepang itu mau menanamkan investasinya,” kata Adjat kepada Bisnis di ruang kerjanya, Rabu (13/2).

Investasi tersebut berupa penyediaan teknologi, penyediaan benih, penyediaan pakan, serta yang lainnya. Nantinya pembudidayaan ikan dilakukan dari pembenihan hingga pengolahan.

“Jika sudah panen ikan itu diambil dagingnya dan dibumbui khas Jepang yang selanjutnya akan dipasarkan di sana [Jepang] untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan restoran,” ujar Adjat.

Adjat menjelaskan pembudidayaan ikan sidat cukup berat karena mulai dari pembenihan hingga pembesaran memerlukan waktu cukup lama sekitar 1,5 tahun.

“Kapasitas panen ikan yang diproduksi rencananya 10 ton per bulan karena permintaan dari sana. Bisa terpenuhi atau tidak soalnya waktu pembesaran lama hingga 1,5 tahun,” katanya.

Selain waktu lama, katanya, suhu air untuk budidaya ikan sidat harus dengan cuaca panas antara 29 celcius-30 celcius, sementara suhu di Kabupaten Bandung hanya berkisar antara 23 celcius-26 celcius. (Sumber : Bisnis Jabar)

Info Perbenihan

Juni 1, 2011 pukul 2:13 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | Tinggalkan komentar

Telur GurameProduksi benih Ikan Gurame di Kota Tasikmalaya hanya mampu memenuhi 50% permintaan akibat keterbatasan lahan serta kondisi alam menentukan jumlah benih serta kualitas produksi.

Tani Maju Makmur Kawalu Kota Tasikmalaya misalnya, hanya memiliki 20 bak penetasan telur, pendedaran 30 bak dan bak pembesaran 15 kolam. Rata-rata ukuran bak pendedaran dan penetasan 3X2 ata 4X2 meter.

Sedangkan jumlah penetasan, 1 bak atau satu sarang maksimal menghasilkan 2000 – 5000 telur atau rata-rata 3000 telur yang bisa menetas. Setelah itu ditampung di bak pendedaran pertama selama usia 2 bulan.

Ketua Kelompok Tani Maju Makmur Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya Eris Setiawan mengatakan, produksi ikan Gurame di kelompoknya hanya sampai pada pendedaran dan tidak dilanjutkan pada pembesaran. Pendedaran tersebut hingga usia aman dari mortalitas selama 2 bulan seukuran 2-3 CM, kemudian dijual kepada petani yang khusus usaha di bidang pembesaran Gurame.

“Pendedaran 1 bulan sampai harga Rp200/ekor ditambah 1 bulan sortir menjadi harga Rp300/ekor. Pasar yang paling benyak menerima ikan gurame dari Tasikmalaya, Kota dan Kabupaten Bandung, Cirata yang dibesarkan di jaring apung,” kata Aris, Selasa (26/3).

Untuk saat ini produksi ikan Gurame cukup baik karena cuaca relative stabil antara panas dan hujan. Kondisi ini berpangruh pada tingkat kematian Gurama yang hanya mencapai 2%. Sedangkan bila kondisi cuaca ekstrem kematin Gurame bisa mencapai 50% sejak benih hingga pembesaran usia konsumtif.

Untuk pendedaran katanya, paling tidak di kelompok taninya mampu produksi 2000 ekor setiap hari. Sedangkan untuk pembesaran Aris melempar kepada para petani lain, setelah besar ditarik kembali dan dijual melalui kelompok. “Kami di sini hanya pendedaran. Setelah itu ada petani lain yang membesarkan. Setelah besar kita kumpulkan lagi dan kemudian dijual,” katanya.

Menurutnya, support pemerintah relative sudah bagus, baik dari pemerintah pusat ataupun daerah. Sering katanya, pihak dinas pertanian dan perikanan menginformasikan kepada para petani daerah yang membutuhkan suplai gurame. Selain itu, kelompok juga kata Aris sering mendapat kegiatan berupa pelatihan budi daya ikan yang benar juga layak jual.

“Malah tanggal 13 Maret mendatang kami juga diberi pelatihan untuk budi daya ikan gurame. Kami juga sudah mendapat pinjaman modal dari bank dengan persyaratan yang dipermudah,” katanya. (Sumber : Bisnis Jabar)

Info Perkolaman

Juni 1, 2011 pukul 2:06 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | 1 Komentar

Konstruksi Kolam Budidaya Ikan

Konstruksi kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi yang tepat. Untuk membuat kolam maka tanah yang akan dijadikan kolam harus mampu menyimpan air atau kedap air sehingga kolam yang akan di buat tidak bocor. Bentuk kolam yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan ada beberapa macam antara lain adalah kolam berbentuk segi empat/empat persegipanjang, berbentuk bujur sangkar, berbentuk lingkaran atau berbentuk segitiga. Dari berbagai bentuk kolam ini yang harus diperhatikan adalah tentang persyaratan teknis konstruksi kolam.

Persyaratan teknis konstruksi suatu kolam yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan sebaiknya mempunyai :

A. Pematang kolam Budidaya Ikan.
Pematang kolam dibuat untuk menahan massa air didalam kolam agar tidak keluar dari dalam kolam. Oleh karena itu jenis tanah yang akan digunakan untuk membuat pematang kolam harus kompak dan kedap air serta tidak mudah bocor.

Jenis tanah yang baik untuk pematang kolam adalah tanah liat atau liat berpasir. Kedua jenis tanah ini dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tanah yang ciricirinya antara lain memiliki sifat lengket, tidak poros, tidak mudah pecah dan mampu menahan air. Ukuran pematang disesuaikan dengan ukuran kolam. Tinggi pematang ditentukan oleh kedalaman air kolam, sebaiknya dasar pematang kolam ini ditanam sedalam 20 cm dari permukaan dasar kolam.

Bentuk pematang yang biasa dibuat dalam kolam budidaya ikan ada dua bentuk yaitu berbentuk trapesium sama kaki dan bentuk trapesium tidak sama kaki. Bentuk pematang trapesium sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1 (Gambar 2.16),

Gambar 2.16. Bentuk pematang trapesium sama kaki

sedangkan bentuk pematang trapesium tidak sama kaki artinya perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1,5 (Gambar 2.17).

Gambar 2.17. Bentuk pematang trapesium tidak sama kaki

Sebagai acuan dalam membuat pematang kolam untuk kolam yang berukuran 200 m2 lebar pematang dibagian atas adalah 1 m maka lebar pematang pada bagian bawahnya adalah 3 m untuk pematang bentuk trapesium sama kaki pada kedalaman kolam 1m, jika kolam tersebut dibuat dengan pematang trapesium tidak sama kaki maka lebar pematang pada bagian atas adalah 1 m maka lebar pematang pada bagian bawahnya adalah 4,5 m pada kedalaman kolam 1 m.

B. Dasar kolam dan saluran budidaya ikan
Dasar kolam untuk budidaya ikan ini dibuat miring ke arah pembuangan air, kemiringan dasar kolam berkisar antara 1-2% yang artinya dalam setiap seratus meter panjang dasar kolam ada perbedaan tinggi sepanjang 1-2 meter (Gambar 2.18).

Gambar 2.18. Kemiringan dasar kolam

Cara pengukuran yang mudah untuk mengetahui kemiringan dasar kolam adalah dengan menggunakan selang air yang kecil. Pada masing-masing ujung pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air ditempatkan sebatang kayu atau bambu yang sudah diberi ukuran, yang paling bagus meteran, kemudian selang kecil yang telah berisi air direntangkan dan ditempatkan pada bambu, kayu atau meteran. Perbedaan tinggi air pada ujungujung selang itu menunjukkan perbedaan tinggi tanah/ kemiringan dasar kolam.

Saluran didalam kolam budidaya ada dua macam yaitu saluran keliling atau caren dan saluran tengah atau kemalir. Saluran didalam kolam ini dibuat miring ke arah pintu pengeluaran air. Hal ini untuk memudahkan di dalam pengeringan kolam dan pemanenan ikan (Gambar 2.19).

Gambar 2.19. Saluran tengah atau kemalir

C. Pintu air kolam budidaya ikan
Kolam yang baik harus memiliki pintu pemasukan air dan pintu pengeluaran air secara terpisah. Letak pintu pemasukkan dan pengeluaran air sebaiknya berada di tengah-tengah sisi kolam terpendek agar air dalam kolam dapat berganti seluruhnya (Gambar 2.20).

Gambar 2.20. Pintu pemasukkan air dan pengeluaran air ditengah

Ada juga letak pintu pengeluaran dan pemasukan air berada disudut secara diagonal (Gambar 2.21).

Gambar 2.21. Pintu pengeluaran dan pemasukanair berada disudut

Letak pintu air tersebut ada kelemahannya yaitu air dikedua sudut yang lain tidak berganti dan memperpanjang saluran pengeringan sehingga penangkapan ikan relatif berlangsung agak lama.

Pada kolam tanah pintu pemasukan dan pengeluaran air dibuat dari bambu atau pipa paralon. Bentuk pintu pemasukan diletakkan sejajar dengan permukaan tanggul sedangkan pintu pengeluaran dapat dibuat dua model yaitu pertama sama dengan pintu pemasukkan dengan ketinggian sesuai dengan tinggi air kolam dan kedua dibuat dengan model huruf L (Gambar 2.22).

Gambar 2.22. Pintu pemasukan dan pengeluaran air bentuk L

Pada kolam beton pintu pemasukan dan pengeluaran air menggunakan sistem monik. Pada pintu air sistem monik ini ada celah penyekatnya dan dapat dibuat lebih dari satu. Celah penyekat ini berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Papanpapan kayu ini dapat dibuka dan diatur yang pengaturannya disesuaikan dengan kebutuhan. Pada pintu air ini papan penyekatnya dapat diganti dengan saringan (Gambar 2.23).

Gambar 2.23. Pintu pemasukan dan pengeluaran air menggunakan sistem monik

Persyaratan konstruksi teknik dalam membuat bak yang akan digunakan untuk budidaya ikan secara prinsip hampir sama dengan kolam dimana harus mempunyai pintu pemasukan dan pengeluaran air tetapi dasar bak pada umumnya adalah rata. Konstruksi pintu dan pemasukan air pada bak dapat dibuat dengan model pembuatan instalasi air untuk pemasukan air dan pengeluaran airnya menggunakan pipa paralon(PVC) dengan bentuk huruf L (Gambar 2.24).

Gambar 2.24 Pemasukan dan pengeluaran air pipaparalon (PVC)

Demikian artikel “Konstruksi dan Pembuatan Kolam Budidaya Ikan” ini saya susun teman teman semoga apa yang telah kita pelajari beberapa saat yang lalu dapat bermanfaat untuk kita semua, Terutama bagi teman teman yang ingin mempelajari pembuatan kolam budidaya lebih dalam lagi. sumber http://unagiii.blogspot.com/2011/05/konstruksi-kolam-budidaya-ikan.html

Info Kultur Pakan Alami

Mei 31, 2011 pukul 12:59 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | 8 Komentar
 
Cara Budidaya Cacing SutraI. PENDAHULUAN
Ikan hias dan ikan konsumsi merupakan ikan ekonomis penting di Wilayah Jakarta. Di daerah ini, masih banyak dijumpai petani yang mengandalkan usaha ikan hias maupun ikan konsumsi sebagai mata pencaharian utama. Apalagi dengan makin sempitnya lahan pertanian, menyebabkan usaha budidaya dan pembenihan ikan banyak dilakukan di lahan pekarangan.
Jenis ikan hias yang banyak dibudidayakan antara lain Oscar, Tetra, Blackghost, Koki dan Cupang. Sedangkan untuk jenis ikan konsumsi terdiri dari Bawal Air Tawar, Gurami, Patin dan Tawes. Saat masih benih, ikan tersebut sangat memerlukan pakan alami/kutu air.
Keberadaan pakan alami sangat diperlukan dalam budidaya ikan dan pembenihan, karena akan menunjang kelangsungan hidup benih ikan. Pada saat telur ikan baru menetas maka setelah makanan cadangan habis, benih ikan membutuhkan pakan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Selama ini petani ikan melakukan pemberian pakan ke benih ikan yang baru menetas dengan kuning telur matang dan susu bubuk. Pemberian pakan seperti ini berakibat kualitas air media sangat rendah. Disamping air media cepat kotor dan berbau amis, berakibat pula kematian benih ikan sangat tinggi sampai sekitar 60 – 70%.
Dengan bentuk dan ukuran mulut yang kecil, benih ikan sangat cocok diberikan pakan alami. Untuk tahap awal, pakan yang diperlukan adalah pakan alami jenis Infusoria/Paramaecium. Pada tahap selanjutnya sesuai dengan perkembangan ukuran mulut ikan, jenis pakan alami yang cocok diberikan yaitu Moina, sedangkan pada tahap akhir sampai ikan siap tebar bisa diberikan pakan alami jenis Daphnia.
Pakan alami merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi benih ikan hias maupun ikan konsumsi. Petani ikan di daerah Jakarta biasanya memenuhi kebutuhan pakan alami dengan membeli Artemia maupun mencari jenis pakan lokal seperti Moina dan Daphnia ke danau atau situ. Penggunaan pakan alami Artemia saat ini sangat tidak ekonomis, karena selain pengadaannya sulit juga sangat mahal. Selain itu pengadaan pakan dari alam tidak terjamin baik ketersediaan maupun kemurniannya. Pengambilan pakan dari alam ini juga beresiko membawa bibit penyakit yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih ikan.
Budidaya pakan alami yang dilakukan sendiri oleh petani menjanjikan sejumlah keuntungan, disamping kualitas kebersihan pakan terjamin, pakan alami produksi sendiri juga menghasilkan jenis pakan/kutu air seperti yang diharapkan. Penghematan waktu, tenaga dan biaya juga akan diraih apabila produksi pakan alami dilakukan dengan baik.
II. PAKAN ALAMI
Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang. Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.), dan Daphnia sp.
Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat diibaratkan “air susu ibu” bagi larva/benih ikan yang dapat memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Pakan alami Infusoria dapat dibudidayakan dengan media sayuran, sedangkan pakan alami jenis Moina dan Daphnia dapat dilakukan dengan menggunakan kotoran hewan kering yang ada di sekitar kita.
Kandungan gizi setiap jenis pakan alami berbeda-beda, namun pada umumnya terdiri dari air, protein, lemak, serat kasar dan abu. Kandungan gizi pakan alami Moina dan Daphnia dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini
Tabel 1. Kandungan Gizi dan Kegunaan Pakan Alami
1. Moina
Di kalangan petani Moina dikenal dengan nama “kutu air”. Jenis kutu ini mempunyai bentuk tubuh agak bulat, bergaris tengah antara 0,9 – 1,8 mm dan berwarna kemerahan.
Perkembangbiakan Moina dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara asexual atau parthenogenesis (melakukan penetasan telur tanpa dibuahi) dan secara sexual (melakukan penetasan telur dengan melakukan perkawinan/pembuahan terlebih dahulu). Pada kondisi perairan yang tidak menguntungkan, individu betina menghasilkan telur istirahat atau ephipium yang akan segera menetas pada saat kondisi perairan sudah baik kembali.
Moina mulai menghasilkan anak setelah berumur empat hari dengan jumlah anak selama hidup sekitar 211 ekor. Setiap kali beranak rata-rata berselang 1,25 hari, dengan rata-rata jumlah anak sekali keluar 32 ekor/hari, sedangkan umur hidup Moina adalah sekitar 13 hari.
Moina biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran hewan, Moina akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 – 9. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Moina adalah bakteri. Untuk menangkap mangsa, Moina akan menggerakan alat tambahan pada bagian mulut, yang menyebabkan makanan terbawa bersama aliran air ke dalam mulut.
2. Daphnia
Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Alat tambahan pertama disebut Antennula, sedangkan yang ke dua disebut antenna yang mempunyai fungsi pokok sebagai alat gerak. Tiga lainnya merupakan alat tambahan pada bagian mulut.
Perkembangbiakan Daphnia yaitu secara asexual atau parthenogenesis dan secara sexual atau kawin. Perkembangbiakan secara parthenogenesis sering terjadi, dengan menghasilkan individu muda betina. Telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas. Anak Daphnia dikeluarkan pada saat pergantian kulit. Pada kondisi perairan yang baik, disamping individu betina dihasilkan pula individu jantan. Pada saat kondisi perairan yang tidak menguntungkan, individu betina menghasilkan 1 -2 telur istirahat atau epiphium yang akan menetas saat kondisi perairan baik kembali.
Daphnia mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi. Jumlah setiap kali beranak rata-rata sebanyak 39 ekor. Umur hidup Daphnia 34 hari, sehingga selama hidupnya mampu menghasilkan anak kurang lebih 558 ekor.
Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam atau danau. Daphnia dapat tumbuh optimum pada suhu perairan sekitar 21 °C dan pH antara 6,5 – 8,5. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Daphnia adalah bakteri, fitoplankton dan detritus.
Kebiasaan makannya dengan cara membuat aliran pada media, yaitu dengan menggerakan alat tambahan yang ada di mulut, sehingga makanan masuk ke dalam mulutnya.
III. PRODUKSI MASSAL PAKAN ALAMI

1. Tujuan Produksi Pakan Alami :
* Menyediakan pakan alami secara massal dan berkesinambungan untuk menunjang usaha pembenihan ikan ekonomis penting.
* Meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan melalui pemberian pakan alami hasil
* Budidaya secara massal.
* Menekan pengeluaran biaya dan penggunaan tenaga serta waktu dalam penyediaan pakan alarm.
* Mencegah penyebaran bibit penyakit dan parasit yang dibawa pakan dari alam.
2. Produksi Massa Infusoria
A. Bahan-bahan yang diperlukan, antara lain :
– Bak/ember plastik ukuran 15 liter (jumlah Ember/ bak tergantung keperluan)
– Media budidaya terdiri dari kulit Pepaya matang, daun Kol/Selada atau pelepah pisang (gunakan salah satu media).
– Kain kasa untuk pembungkus sayuran dan tutup ember.
– Air kolam atau empang sebagai sumber bibit Infusoria
B. Pelaksanaan :
– Isi bak/ember dengan air sampai sekitar 10 liter
– Masukkan salah satu bahan (kulit Pepaya matang, daun Kol atau pelepah pisang) kedalam ember sebanyak 250 – 300 gram yang telah dibungkus kain kasa dan diikat.
– Tambahkan sekitar 2 – 3 gayung (1 – 2 liter) air empang/kolam, untuk memasukkan bibit Infusoria yang akan dibudidayakan
– Letakkan ember/bak plastik yang telah terisi kultur Infusoria pada tempat terlindung dari panas matahari dan hujan, untuk menghindari perubahan suhu yang tidak diinginkan.
– Tutup ember media budidaya dengan kain kasa untuk menghindari jentik nyamuk atau hewan lain masuk ke dalamnya.
C. Pemanenan :
- Pada hari ke-3, amati adanya lapisan tipis warna putih seperti awan di atas permukaan air media yang menandakan Infusoria sudah berkembang dengan baik (puncak populasi Infusoria biasanya terjadi pada hari ke-4 dan hari ke-5)
– Ambil lapisan putih tersebut dengan menggunakan mangkuk atau piring kecil untuk diberikan pada benih ikan.
– Satu siklus budidaya Infusoria (selama 1 minggu) dapat digunakan untuk makanan benih ikan sampai benih tersebut siap memakan jenis pakan alami yang lebih besar yaitu Moina dan Daphnia. Biasanya pemberian pakan alami Infusoria hanya berlangsung selama 2 – 3 hari.
Jenis Infusoria yang berkembang dipengaruhi oleh jenis media yang digunakan. Setiap media memiliki pH tertentu yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan benih ikan, apabila pemberian Infusoria dilakukan secara berlebihan. Pada media kulit pepaya jenis Infusoria yang dominan adalah Chlamydomonas sp. dan Colpoda sp. Sedangkan pada media kol, pelepah pisang dan daun kipahit adalah Paramaecium sp. dan Euglena sp. Media kulit pepaya dan pelepah pisang menunjukan pH yang cenderung asam dan ini disukai ikan Neon tetra, sedangkan pada media kol dan daun kipahit pH cenderung netral. Akan tetapi secara umum semua jenis media dapat digunakan untuk budidaya Infusoria.
Pemberian lnfusoria ke benih ikan yang baru menetas, temyata dapat meningkatkan derajat kehidupan benih menjadi 80 – 90%.
Tabel 2. Keadaan pH dan Jenis Infusoria dominan pada Beberapa Media Tumbuh Pakan Alami.
 
3. Produksi Massal Moina/Daphnia
A. Bahan-bahan yang diperlukan :
– Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.
– Pupuk organik, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos (kebutuhan masing-masing 1-1,5
kg/m3 air media)
– Kantong waring untuk tempat pupuk dan tali pengikat.
B. Pelaksanaan :
- Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media dan menghindarkan Moina maupun Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari.
– Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.
– Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam kantong waring, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya.
– Satu hari kemudian masukkan bibit Moina 2 gram/m3 atau sekitar 3 – 4 ekor/10 ml dan Daphnia sebanyak 5 gram/m3.
C. Pemanenan
– Moina mulai dipanen pada hari ke-7 sampai hari ke-10 dari pemupukan awal, sedangkan Daphnia pada hari ke-21 dan setelah itu pemanenan dapat dilakukan setiap hari selama 3 minggu sebanyak 25 gr/m3 .
– Untuk budidaya Moina pemupukan ulang sebanyak 0,2 dosis dari pemupukan pertama dapat dilakukan pada hari ke-4 setelah pemupukan awal. Sedangkan pada budidaya Daphnia, pemupukan ulang dilakukan sebanyak 0,5 dosis seminggu setelah pemupukan awal .
Pada budidaya Moina untuk menjamin penyediaan pakan alami secara terus menerus diperlukan paling sedikit 3 buah kolam. Pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dimulai pada hari ke empat dari pelaksanaan budidaya kolam ke-1. Sedangkan budidaya kolam ke-3 dimulai pada hari ke empat setelah pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dimulai. Dengan demikian pemanenan Moina dapat dilakukan setiap hari secara terus-menerus, mulai hari ke-7 sampai hari ke10, sebanyak 200 – 400 gr/m3 air.
Untuk mendapatkan Daphnia setiap hari diperlukan 2 buah kolam. Pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dilakukan pada hari ke-20 setelah pelaksanaan budidaya pada kolam ke-1. Pemanenan Daphnia dapat dilakukan setiap hari mulai hari ke-21 selama tiga minggu, dengan jumlah 25 gr/m3/hari.

DAFTAR PUSTAKA
Chumaidi dan Djajadireja, 1982. Kultur Massal Daphnia sp.di Dalam Kolam Dengan Menggunakan Pupuk Kotoran Ayam. Bull. Pen.PD.1.3(2) : 17 – 20.
Chumaidi et. al. 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan Udang
Puslitbangkan PHP\KAN\PT\12\Rep\1990. Jakarta
Darti,S., Darmanto, dan Adisha. 2000 Laporan Akhir Hasil Pengkajian Budidaya Pakan Alami untuk Benih Ikan Ekonomis Penting. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta
Lingga, P. dan H. Susanto. 1989. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta Hal. 17- 24
Suprayitno, SH. 1986. Kultur Makanan Alami. Direktorat Jendral Perikanan dan
International Development Research Centre. INFIS Manual Seri no.34.35 pp of Giant
Gouramy Larvae. in Chorn Lim (eds) Fish ang feed Technology research in
Indonesia- RIFCA. Ministry of Agriculture Indonesia. P. 107 – 112
ARTIKEL TERKAIT
Budidaya Pakan alami Untuk Benih Air Tawar
Teknologi Produksi dan Pengayaan Pakan_Alami
Kultur Moinna

Transportasi Benih Ikan

April 22, 2011 pukul 1:27 pm | Ditulis dalam AQUACULTURE | 1 Komentar

TRANSPORTASI BENIH

Pengenalan

Pengiriman benih ikan membutuhkan menempatkan berat ditentukan ikan di 1,5 hingga 2 galon air dalam 3 ml tas polietilena, 18 oleh 32 inci. Udara berlebih akan dihapus dari tas dan diganti dengan oksigen murni. Tas disegel, ditempatkan dalam wadah terisolasi dan akhirnya ke dalam kotak kardus pengiriman dan dikirim.

Pengiriman tas mungkin pilihan terbaik untuk pengirim karena beberapa alasan. Ikan pertama, sangat kecil dan goreng dapat rusak oleh yang dikirim tangki besar. Pengiriman tas Kedua, karena jarak yang ekstrim yang terlibat, dapat menawarkan keuntungan ekonomi dari transportasi tangki standar. Lembar Fakta ini akan fokus pada transportasi ikan. Dengan sedikit modifikasi teknik dan kepala dibahas juga berlaku untuk kerang.

Kualitas air selama pengiriman
Kesehatan ikan dipengaruhi oleh perubahan parameter kualitas air sementara dalam kantong plastik selama proses transportasi. Parameter yang harus dipertimbangkan adalah suhu, oksigen terlarut, pH, karbon dioksida, amonia dan keseimbangan garam darah ikan. Tingkat perubahan setiap parameter dipengaruhi oleh berat dan ukuran ikan yang akan diangkut dan durasi transportasi.

Suhu

Ikan adalah hewan berdarah dingin, sehingga tingkat metabolisme ikan dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Tingkat metabolisme ikan akan berlipat ganda untuk setiap kenaikan 18 derajat F dalam suhu dan dikurangi setengahnya untuk setiap penurunan 18 derajat F pada suhu. Tingkat metabolisme berkurang akan menurunkan konsumsi oksigen, produksi amonia dan produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, sangat penting untuk transportasi ikan sebagai suhu rendah. Untuk spesies air dingin dan hangat suhu 55 derajat sampai 60 derajat F dianjurkan. Untuk spesies seperti nila dan merah suhu drum yang harus dekat dengan 60 derajat F. ikan air dingin, seperti trout, mendiami air dingin dan harus diangkut pada suhu lebih dingin, seperti 45 sampai 50 derajat F.

Untuk mencapai suhu yang diinginkan transportasi, ikan harus dilakukan di tangki air dingin. Dengan memegang ikan di tangki selama dua hari, suhu air dapat dikurangi secara bertahap dengan menambahkan air dingin. Setelah loading ikan ke dalam kantong, menurun akhir dan pemeliharaan suhu selama transportasi dapat dicapai dengan menambahkan es atau (lebih umum) gel packs.

Es atau gel kemasan sering digunakan selama transportasi, khususnya selama periode transportasi lagi yang mungkin memungkinkan peningkatan suhu. Satu-setengah pon es akan mengurangi suhu satu galon air sekitar 10 derajat F. Insulated kotak styrofoam pengiriman juga digunakan untuk mencegah suhu dari luar yang mempengaruhi suhu air transportasi. Dalam beberapa kasus, 20 sampai 40 liter pendingin yang digunakan untuk transportasi.

Oksigen terlarut

Faktor tunggal yang paling penting dalam pengangkutan ikan adalah penyediaan konsentrasi oksigen yang cukup terlarut (DO). Pentingnya penyediaan tingkat yang memadai DO tidak bisa terlalu ditekankan. Kegagalan untuk melakukannya hasil sehingga dalam stress berat yang dapat berkontribusi untuk ikan membunuh dua sampai tiga hari setelah transportasi.

Jumlah oksigen yang dapat dilarutkan dalam air tawar didasarkan terutama pada suhu air. Air itu disebut sebagai 100 persen jenuh ketika tingkat kejenuhan atas tercapai. DO jenuh lebih tinggi untuk air dingin daripada air hangat. Misalnya, di permukaan laut DO kejenuhan air 45 derajat F adalah 12,1 bagian per juta (ppm) tapi pada 60 derajat F, saturasi adalah 10,0 ppm. Karena oksigen murni digunakan selama transportasi tas, Level DO dalam air akan jenuh dan tingkat oksigen yang rendah biasanya tidak akan menjadi masalah kecuali tas yang tidak benar tertutup atau mengembangkan lubang yang disebabkan oleh duri ikan besar. Sangat penting untuk memiliki volume 75 persen oksigen di dalam tas untuk memastikan difusi oksigen yang cukup di permukaan air.

Jumlah ion hidrogen (H +) dalam air akan menentukan apakah itu asam atau dasar. Skala untuk mengukur derajat keasaman disebut skala pH, yang berkisar dari 1 sampai 14. Nilai 7 dianggap netral, tidak asam atau dasar; nilai-nilai di bawah 7 dianggap asam; di atas 7 dasar. Kisaran yang dapat diterima untuk pertumbuhan ikan adalah antara pH 6,5 dan 9,0. PH air akan dipengaruhi oleh alkalinitas (kapasitas penyangga) dan jumlah karbon dioksida bebas. PH air transportasi juga akan mempengaruhi toksisitas amoniak. Bahkan di baik buffer pH transportasi air kadang-kadang akan berkurang sebesar satu unit pH.

Karbon dioksida

Seperti ikan bernafas mereka menghasilkan karbon dioksida sebagai produk sampingan. Karbon dioksida bereaksi dengan air untuk membentuk asam lemah. Hal ini asam lemah pada gilirannya akan menurunkan pH air. Tingginya kadar karbon dioksida (lebih besar dari 20 ppm) akan mengganggu penyerapan oksigen dalam darah ikan. Tingginya kadar karbon dioksida kadang ditemukan di air sumur. Karbon dioksida berlebih dalam air sumur dapat dikurangi dengan aerasi mekanis atau dengan melewatkan air melalui kolom degassing.

Amonia

Amonia membangun terjadi pada transportasi air sebagai hasil metabolisme ikan dan, pada tingkat lebih rendah, aksi bakteri pada limbah ikan diekskresikan ke dalam air. Dua bentuk amonia terjadi pada transportasi air: terionisasi (NH4 +), dan un-terionisasi (NH3). Berbeda dengan bentuk terionisasi, bentuk un-terionisasi amonia sangat beracun pada konsentrasi serendah 0,2 ppm. Dalam tes untuk amoniak, kedua bentuk dikelompokkan bersama sebagai “nitrogen amonia total” (TAN). Persen amonia yang un-terionisasi akan tergantung pada suhu dan pH (Tabel 1).

Konsentrasi amonia total dapat mencapai lebih dari 14 ppm selama transportasi. Namun, dengan menggunakan Tabel 1, persen dari amonia total yang adalah un-terionisasi pada pH 6,5 dan 55 derajat F hanya 0,07 persen. Oleh karena itu, un-terionisasi amonia konsentrasi pada 14 ppm adalah 14 x 0,0007 = 0,0098 ppm. Un-terionisasi konsentrasi yang lebih besar dari 0,05 ppm harus ditangani dengan hati-hati.

Cara termudah untuk mengurangi penumpukan amonia beracun dalam transportasi air adalah untuk menurunkan suhu air transportasi dan berhenti makan beberapa hari sebelum pengangkutan. Ikan sampai delapan inci panjangnya tidak boleh makan selama 48 jam sebelum pemuatan dan pengangkutan dan mereka yang lebih besar dari delapan inci tidak harus diberi makan 72 jam sebelum pengangkutan.

Tabel 1.
Persen amonia dalam bentuk un-terionisasi yang berbeda suhu (derajat F) dan nilai pH


  1. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
  2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
  3. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
  4. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
    • Sistem terbuka
      Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
    • Sistem tertutup
      Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(HPO)4.H2O sebanyak 9 gram.
      Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:
  1. masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
  2. hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;
  3. alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);
  4. kantong plastik lalu diikat.
  5. kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Perangkat sederhana seperti tempat tidur gantung dan tas yang terbuat dari karung setengah dapat dengan mudah digunakan untuk mengangkut ikan jarak yang sangat pendek (Gambar 72b).

Gambar 68
Gambar 68
Gambar 68

 Gambar 68 Cara paking kantong plastik untuk transportasi benih ikan

Gambar 69
Gambar 69

Gambar 69 Benih ikan di Packing dalam kantong plastik dengan oksigen

Gambar 70 Gambar 70 Transportasi benih ikan  dikemas dalam kantong plastik

Gambar 71a
  1. Menghitung jumlah dalam 4 atau 5 saringan bibit;
  2. Bagilah jumlah bibit dengan jumlah saringan penuh dihitung untuk mendapatkan jumlah rata-rata dari bibit di saringan-penuh;
  3. Sekarang, hitung jumlah saringan penuh digunakan untuk stok kolam atau diangkut dalam kantong plastik; untuk mendapatkan perkiraan jumlah bibit yang digunakan

 Gambar 71a Memperkirakan jumlah bibit

Gambar 71bKontainer Gambar 71b dilengkapi dengan pipa pembuangan.  Digunakan untuk mengangkut benih ikan

Gambar 72a

Figure 72a Long distance transportation of brood fish Gambar 72a transportasi jarak jauh ikan induk

Gambar 72b
Gambar 72b

 Gambar 72b Perangkat untuk menangkap dan mengangkut ikan merenung jarak pendek

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.008 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: