Better Management Practice

Oktober 3, 2010 pukul 8:33 am | Ditulis dalam AQUACULTURE | Tinggalkan komentar

Salah satu kendala dalam bidang budidaya perikanan adalah permasalahan pemasaran produk perikanan yang seringkali menghadapi kendala yaitu tidak mampu memenuhi permintaan dari konsumen yaitu kontinuitas dan juga kualitas dari ikan itu sendiri. Permasalahan mengenai kontinuitas masih bisa dipahami mengingat sebagian besar pembudidaya ikan di Indonesia termasuk small scale farmers atau petani dengan skala usaha yang kecil. Adapun pembudidaya ikan seringkali menghadapi permasalahan dalam produksi ikan akibat berbagai hal.

Bila diuraikan satu per satu permasalahan pembudidaya cukup banyak antara lain kurangnya kemampuan teknis pembudidaya, kurangnya dukungan finansial (permodalan) untuk meningkatkan skala usaha akibat sulitnya mengakses permodalan, kualitas ikan seringkali tidak memenuhi standar akibat masih mengandung zat antibiotik yang sudah tidak diperbolehkan maupun permasalahan penyakit yang melanda berbagai tahapan budidaya dari mulai pembenihan hingga pembesaran.

Pengembangan dan adopsi Better Management Practices di tingkat pembudidaya menjadi salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan di tingkat pembudidaya sehingga produk perikanan budidaya dapat diterima oleh pasar lokal maupun pasar internasional.  Better Management Practices (BMP) di bidang budidaya seringkali disalah artikan sebagai upaya standarisasi oleh pemerintah maupun upaya sertifikasi.

Definisi Better Management Practices (BMP) dapat kita definisikan sebagai norma-norma yang patut dijalankan. Secara garis besar BMP memuat aturan-aturan yang bertujuan membentuk pemahaman akuakultur atau budidaya ikan yang bertanggungjawab terhadap lingkungan. BMP memiliki implikasi mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk budidaya yang aman, lestari dan ramah lingkungan dan pada akhirnya secara tidak langsung mampu meningkat profitabilitas dari usaha akuakultur. Implementasi BMP pada akhirnya akan mampu membantu petani untuk mencapai standar-standar yang terukur bila mana pada akhirnya sebuah unit budidaya diminta melakukan standarisasi oleh lembaga nasional maupun internasional.

Standarisasi biasanya dibuat berdasarkan permintaan dari konsumen sehingga memenuhi syarat komoditas pangan yang aman untuk dikonsumsi dan juga aman bagi lingkungan. Standar BMP biasanya dibentuk dari apa yang dilakukan oleh pembudidaya sehingga BMP ini bisa dikategorikan bukan sebagai kebijakan top-down akan tetapi sebagai kebijakan pragmatis yang bottom-up.

Bagaimana formulasi BMP dilakukan?

BMP merupakan kegiatan yang bisa dikatakan spesies spesifik dan spesifik untuk berbagai jenis lokasi budidaya. Langkah awal untuk memahami BMP adalah dengan secara komprehensif teknis budidaya dari satu spesies ikan budidaya. Pemahaman teknis dilanjutkan dengan pemahaman bagaimana sebuah unit budidaya berkorelasi terhadap lingkungan, pemasaran, sosial budaya dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap sustainability dari unit budidaya. Pertimbangan-pertimbangan yang sudah dianalisa selanjutnya menjadi pijakan untuk menganalisa faktor resiko yang mampu mempengaruhi unit budidaya, sehingga standar BMP disesuaikan dengan apa yang diperlukan oleh pembudidaya untuk menjaga keberlangsungan unit budidaya.

Aplikasi BMP di tingkat pembudidaya merupakan sebuah hal yang tidak instan dan memerlukan proses yang lama karena berkaitan dengan upaya merubah kultur atau pemahaman seseorang dan hali ini tentunya memerlukan waktu lama. Perlu ada manajemen yang kontinyu dari pihak yang berkompeten untuk membantu terwujudnya BMP di unit pembudidaya dan kesuksesan BMP biasanya tidak terkait dengan individu tetapi harus bersifat menyeluruh sehingga terdapat koordinasi antar unit pembudidaya di sebuah daerah tertentu.

Salah satu wujud BMP yang baik adalah aplikasi kerjasama dalam kelompok tani sehingga hal-hal yang perlu dirubah dapat didiskusikan bersama. Keuntungan membuat kelompok tani tentunya akan lebih memudahkan untuk mempelajari bersama dan menggalang kekuatan sehingga akan memudahkan petani untuk mencapai hal yang lebih baik seperti sertifikasi ataupun mendapatkan kredit usaha.

Demikian kiranya bahasan mengenai BMP di bidang akuakultur semoga bisa menjadi masukan berharga.

Sumber: http://konsultanperikanan.com/2011/05/better-management-practices-pada-budidaya-perikanan/

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: